A Record of Leader

A Record of Leader

 

Penulis Amirah Safira Nasution, dkk
Ukuran 14 x 20 cm
Berat 300 gr
Tebal viii + 224 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-5663-88-3
Harga 75.000

 

Deskripsi

A Record of Leader

Buku berjudul “A Record of Leader” ini berisi kisah-kisah inspiratif tokoh dari berbagai organisasi dan dunia bisnis yang bisa kita ambil pelajaran untuk menghadapi tantangan zaman. Buku ini ditulis dengan tujuan agar menjadi manfaat bagi pembaca yang membutuhkan informasi dan pengetahuan mengenai bagaimana sosok pemimpin memimpin, dengan harapan kita bisa mencontoh cara mereka mengelola sebuah perusahaan ataupun organisasi.

Dengan buku ini kita akan dibawa memasuki dunia inspiratif tokoh-tokoh pemimpin yang telah mencatat sejarah dalam mengelola organisasi publik dan perusahaan bisnis dengan visi, keberanian, dan integritas mereka. Buku ini mengungkapkan kisah-kisah luar biasa tentang bagaimana seorang pemimpin dapat mengatasi tantangan yang sulit, mempengaruhi perubahan positif, dan mencapai kesuksesan yang berarti.

A Record of Leader adalah buku yang akan menginspirasi para pembaca untuk mencari potensi kepemimpinan dalam diri mereka sendiri dan mengambil langkah-langkah positif untuk membawa perubahan yang berarti dalam organisasi publik dan perusahaan bisnis. Melalui kisah-kisah inspiratif ini, kita akan mengerti bahwa seorang pemimpin sejati tidak hanya mencari keuntungan diri sendiri, tetapi juga berusaha memberikan dampak positif bagi banyak orang dan dunia di sekitarnya.

Selamat membaca!

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Metamorfosa

Metamorfosa

 

Penulis Widyayanti
Ukuran 13 x 20 cm
Berat 200 gr
Tebal vi + 90 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-5663-86-9
Harga 50.000

 

Deskripsi

Metamorfosa: Kumpulan Cerita Pendek Anak

Hallo, anak-anak hebat! Apakah kalian pernah punya keinginan dan bisa mencapai keinginan kalian dengan usaha sendiri? Ya, cerpen “Free Pahala” dan “Tas Hamster untuk Sarah” dalam buku ini akan memberikan inspirasi bagi anak-anak untuk meraih keinginan dengan tangan sendiri.

Apa kalian juga suka menuntut nilai sempurna dalam ujian? Ya, cerpen “It’s Ok Not to Get 100” di buku Metamorfosa ini akan menitipkan pesan berharga yang dikemas dengan seru.

Bagi yang suka kisah petualang, ada cerpen “Shaman dan Monster Kelelawar” serta “Robin Si petualang”. Kisah seru lainnya sekaligus mengharukan juga terdapat pada cerpen “Persahabatan Otter dan Rocky” dan cerpen “Dua Malaikat”.

Beberapa cerpen menarik terkait keluarga dan persahabatan lainnya juga hadir dalam Metamorfosa ini. Semua cerpen dalam buku ini menitipkan kisah perubahan sikap tokoh menuju hal positif melalui keajadian-kejadian unik yang dialami oleh setiap tokohnya. Siap membaca lebih jauh?

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Negeri Matahari Terbit dan Istana Putri Bidadari

Negeri Matahari Terbit dan Istana Putri Bidadari

 

Penulis Abdul Samad Addin
Ukuran 14 x 20 cm
Berat 350 gr
Tebal viii + 290 hlm
Format Softcover
ISBN
978-623-5663-85-2
Harga 89.000

 

Deskripsi

Negeri Matahari Terbit dan Istana Putri Bidadari

Thoriq berpikir keras untuk mengungkap keberadaan Negeri Matahari Terbit dan istana Putri Bidadari dalam surat wasiat kakek buyutnya. Entah berada di dunia mana, dia berusaha mencari jejek negeri itu, karena di situlah asal-usul keluarga besarnya. Wasiat itu telah mengubah dirinya menjadi seorang kutu buku. Berbagai buku literasi sejarah lokal diburu dan dibacanya. Namun tak ada jejaknya bahkan pulau besar Halmahera saja tidak diulas dalam buku sejarah lokal. Akhirnya dia menarik kesimpulan sepihak bukan di wilayah Fagogoru.

Thoriq pusing tujuh keliling bagaimana mendapatkan biaya untuk berkeliling menelusuri jejak negeri itu. Akhirnya ada jalan keluar seorang sahabat baiknya mengajak keliling Indoneia menelusuri barang peninggalan Belanda. Dia pun menggunakan kesempatan itu menjalankan misi pribadinya, menelusuri Negeri Matahari Terbit. Penelusuran lokal tidak menemukan jejaknya. Bersama bosnya juga menelusuri beberapa tempat di wilayah barat Nusantara. Dalam perjalanan, Thoriq banyak bertukar pikiran dengan para arkeolog.

Sementara itu bosnya, Kemal tak sengaja melihat surat wasiat yang dipegang Thoriq membuatnya penasaran. Dia sengaja menunggu waktu yang pas untuk menanyakannya. Di hari ekspedisi terakhir mereka, ketika beristirhat di kota Bogor, Kemal menanyakan lembaran yang sempat dibaca itu. Thoriq pun mengisahkan tentang surat wasiat yang dipegangnya.

Di luar dugaannya, Bos Kemal berkata, “Walaupun kamu mencari negeri itu keliling dunia tidak akan ketemu. Karena negeri yang kamu cari itu negeri kamu sendiri.” Thoriq terkejut bukan main mendengar pernyataan bosnya itu. Tetapi setelah mendengar penjelasan detailnya dia pun menerima itu. Akhirnya di penghujung ekspedisi mereka, dia memutuskan pulang ke Maba untuk melakukan penelusuran dan pengamatan.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Tema: Satu Unsur Pembangun Cerita

Tema: Satu Unsur Pembangun Cerita

#Seri Menulis Cerpen Ala Katarina Retno

Ketika saya memberi pelatihan menulis cerpen, biasanya para penulis pemula mengatakan kesulitan mencari ide. Mereka tidak tahu mesti menggarap tema yang cocok untuk mereka. Padahal kejadian sehari-hari sangatlah mungkin diangkat menjadi sebuah cerita. 

Persoalannya adalah gengsi. Kita memang hidup di tempat segala hal dikotak-kotakkan. Orang menilai karya dengan tema A adalah karya sastra yang baik. Sebaliknya tema B bukan karya yang baik. 

Misalnya, orang menilai tema-tema perdamaian dunia dianggap lebih baik atau lebih mulia dari tema rumah tangga. Padahal persoalan dunia bisa saja dimulai dari persoalan rumah tangga.

Di sisi lain penulis merasa ide mereka tidak orisinil. Memang harus diakui bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar baru di dunia ini. Segala yang kita pikir baru, bisa saja merupakan sesuatu yang lama bahkan usang bagi orang lain. Hal itu dikarenakan pemikiran manusia yang dinamis. Segala hal yang dialaminya, termasuk apa yang dibacanya, menambah pengetahuan. Nah, pengetahuan inilah yang kemudian membuat seseorang bisa saja lebih dulu memikirkan apa yang baru saja kita pikirkan. 

Pada akhirnya, pemikiran dan kecemasan itu membuat para penulis pemula tidak jadi menulis. Mereka lalu sibuk galau dan mencari-cari ide. Ujung-ujungnya memaksakan diri menulis sesuatu yang di luar jangkauan nalarnya sendiri. Bisa ditebak akhirnya cerita itu memiliki banyak lubang yang mesti ditambal. Ya, kalau si penulis itu cukup sabar dan mau mengevaluasi tulisannya sih tidak masalah. 

Harus diakui tidak banyak penulis pemula yang rendah hati. Mereka tidak melihat kembali tulisannya. Akhirnya mereka ya stagnan di tulisan yang begitu-begitu saja. Bahkan bisa jadi mengulang kesalahan yang sama. 

Padahal tema hanyalah satu dari delapan unsur pembangun cerita. Kita bisa mengembangkan tokoh dan penokohan yang kuat. Kita bisa mengolah konflik dengan mencermati dan ‘mempermainkan’ plot cerita. 

Tidak hanya itu, kita juga bisa bereksperimen dengan gaya bahasa. Itu tidak dimaksudkan dengan mencampuradukkan istilah-istilah tidak pada tempatnya secara brutal ya. Eksperimen tentu saja sangat diijinkan. Namun tetap patokannya adalah tulisan itu, dalam hal ini cerpen kita, memiliki nilai estetika dan kegunaan.

Lalu tema apa sih yang bisa diangkat dalam cerita pendek kita? Sebenarnya hal yang kita alami, pengamatan keseharian kita pun bisa menjadi bahan utama cerita kita. Satu yang pasti bahan bakar penulis itu adalah kegelisahan. Jadi, temukan kegelisahan Anda itu. Apa yang membuat Anda resah? Apa yang ingin Anda tanyakan dan cari tahu jawabannya? Lalu tanyakan pada diri Anda sendiri, jika itu dibuat kronologi ala Anda jadinya seperti apa?

Jika sewaktu-waktu ide menulis cerita itu terasa buntu, pancinglah dengan melakukan hal yang memang Anda sukai. Misalnya Anda suka makan. Coba pergilah membeli makanan yang Anda sukai itu. Cermati teksturnya. Nikmati rasanya. Coba hirup aromanya. Pastikan Anda menyerap itu semua secara perlahan. 

Lalu pikirkanlah proses pembuatannya. Misalnya salah satu bahan diganti apakah rasanya akan lebih baik, lebih buruk atau sama saja? Nah, di titik semacam inilah Anda bisa mulai melakukan eksperimen dengan menghubungkannya dengan dramatisasi. 

Ingat, pengalaman keseharian yang diceritakan saja hanya akan menjadi produk reportase yang mungkin malah tidak ada gunanya buat orang lain. Kalau ingin menjadikan pengalaman keseharian itu menjadi sebuah cerita pendek, tugas Anda adalah membubuhkan dramatisasi.

Selamat bereksperimen.[] 

Katarina Retno Triwidayati. Mentor Cerpen Galuh Patria.

Review Buku: Novel Cahaya dan Jelaga

Review Buku: Novel Cahaya dan Jelaga

Tuhan, apakah aku termasuk ke dalam mereka yang mendustakan nikmatmu?
(Lestyaningrum, 2023, p. 158)
___
Rasa bahagia menyeruak saat melihat buku ini. Terima kasih Mbak Tyas, saya boleh membersamai proses buku ini. Jika masih ada kekurangan di sana sini, mohon dimaafkan.
Ketika naskah ini masuk ke dalam daftar naskah yang mesti saya cermati, saya ragu. Fiksi sejarah menjadi genre yang masih “berat” untuk saya, untuk membaca apalagi menuliskannya. Jadi, saya sungguh salut pada para penulis fiksi sejarah, termasuk Mbak Tyas yang menulis Cahaya dan Jelaga ini.
Kisah berlatar peristiwa sejarah 1965-1966 ini mengangkat perjuangan sebuah keluarga. Kalau Anda berpikir kisahnya melulu pilu, maka Anda mesti membaca buku ini. Memang kesedihan dan kepiluan menjadi bahan bakar utama jalinan kisah di buku ini. Tapi setelah menyelesaikannya, Anda akan menemukan keutamaan lain yang bisa diambil dari tiap tokoh yang ada.
Rasa syukur dan penerimaan nasib yang terlihat tragis dipaparkan dengan baik. Saya pikir ini salah satu keteladanan yang ingin disampaikan Mbak Tyas. Dalam perspektif lain, ini bisa menjadi sindiran halus buat kita yang masih gagap bersyukur.
Pergantian POV yang dinamis membuat saya sedikit terseok-seok saat membacanya. Demikian juga dengan tokoh yang cukup banyak karena saya memang bukan pemerhati nama yang baik. Ya, ini subjektif sekali dan pembaca lain belum tentu mengkategorikannya sebagai kesulitan.
Di luar itu, saya menemukan banyak hal asyik. Pesan yang disampaikan melalui buku ini jelas dan mudah ditangkap. Karakter tokohnya kuat dan memiliki benang merah yang sama: pantang menyerah dan tulus.
Demikianlah, pada akhirnya, penilaian orang tak akan menjadi penentu kualitas seseorang. Namun, caranya memperlakukan hidup dan kemanusiaanlah yang akan menjadi titik akhir sebuah pencapaian: menjadi cahaya atau jelaga. Hahaha … Ini makna baru dari judul novel Mbak Tyas. Makna sebenarnya tentu bisa Anda temukan setelah membaca novel ini.
Proficiat buat novel perdananya Mbak Tyas. Kami menunggu karya-karya selanjutnya. Sukses selalu, terus bercahaya.
Lestyaningrum, Tyas Ary. 2023. Cahaya dan Jelaga. Yogyakarta: Galuh Patria.
Penulis: Katarina Retno
Bunda Mahira Sang Bidadari Bumi Rempah Timur Matahari Terbit

Bunda Mahira Sang Bidadari Bumi Rempah Timur Matahari Terbit

 

Penulis Abdul Samad Addin
Ukuran 14 x 20 cm
Berat 400 gr
Tebal x + 374 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-5663-82-1
Harga 99.000

 

Deskripsi

Bunda Mahira Sang Bidadari Bumi Rempah Timur Matahari Terbit

Rasa nyaman dan aman merupakan satu proses kehidupan manusia yang harus diperjuangkan. Begitulah kehidupan yang dijalani Mahira dan Maliki. Sepasang suami istri yang mengabaikan bulan madu pernikahan mereka. Berpisah dengan keluarga, saudara, sahabat dan segalah kemewahan kebesaran harta dan tahta. Mereka meninggalkan tanah air tercinta hanya untuk menggapai rasa nyaman dan aman dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Meskipun harus ditebus dengan pengorbanan yang mengoyak perasaan. Berlayar tanpa arah tujuan agar bisa selamat dari dampak gejolak politik mengancam nyawa keduanya.

Lalu takdir membawa mereka di tempat kehidupan baru di ujung dunia, sebuah negeri yang disebut Timur Matahari Terbit. Satu pulau tanpa penghuni, sunyi dan sepi. Tetapi memberi mereka rasa nyaman dan aman dari ancaman muslihat jahat yang menghantui kehidupan keduanya. Di bumi baru tempat berpijak kini, Maliki dan Mahira harus berjuang dari nol. Menata kehidupan baru untuk merangkai babakan sejarah keluarga mereka di masa depan.

Setelah puluhan kali bergati purnama, sepasang kekasih ini akhirnya diberikan keturunan. Ada enam anak lelaki dan satu perempuan. Pertumbuhan anak-anak mereka yang semakin membesar, membuat Maliki mulai memikirkan masa depan anak-anaknya. Akhirnya dirancanglah satu ekspedisi untuk mencari keberadaan keluarga besar mereka yang entah di mana. Juga memperkenalkan kekayaan rempah-rempah negeri Timur Matahari Terbit agar orang-orang bisa mengunjungi negeri mereka.

Ekspedisi pertama gagal. Sang Bidadari Bumi Rempah merancang ekspedisi kedua yang dilakukan bersama ketiga anak sulungnya. Dengan misi; melanjutkan misi ayah mereka dan mencari jodoh untuk pasangan hidup. Setelah melalui perjalanan yang panjang dan berat, ketiga anak-anak Bidadari Bumi Rempah sukses menjalankan misinya. Merekapun bertemu dengan keluarga mereka yang saat itu sudah punya kerajaan sendiri. Di sana mereka dinikahkan. Dan pada akhirnya keluarga besar itu berkunjung ke negri Timur Matahari. Selamat membaca.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Relasi Agama & Etnik dalam Pendidikan di Ambon

Relasi Agama & Etnik dalam Pendidikan di Ambon

 

Penulis Adam Latuconsina
Ukuran 14,8 x 21 cm
Berat 250 gr
Tebal viii + 204 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-5663-81-4
Harga 80.000

 

Deskripsi

Relasi Agama & Etnik dalam Pendidikan di Ambon

Dalam kehidupan sosial yang semakin kompleks dan beragam, penting untuk memahami dan mendorong relasi yang harmonis antara agama dan etnik dalam konteks pendidikan. Di kota Ambon, sebagai kota yang kaya akan keragaman etnis dan agama, penting bagi pendidikan untuk memainkan peran yang signifikan dalam mempromosikan toleransi, pengertian, dan penghormatan antara kelompok-kelompok tersebut.

Relasi antara agama dan etnik adalah faktor yang krusial dalam pembangunan masyarakat yang harmonis di Ambon. Etnis yang berbeda, seperti orang Ambon, Jawa, Bugis, dan banyak lagi, hidup berdampingan dengan menganut keyakinan agama yang beragam, seperti Kristen, Islam, Hindu, dan lain-lain. Keberagaman ini adalah aset yang berharga bagi masyarakat Ambon, tetapi juga memerlukan pemahaman, dialog, dan toleransi yang kuat untuk menjaga harmoni dan menghindari konflik yang berpotensi merusak.

Pendidikan memainkan peran sentral dalam membentuk pandangan dan perilaku generasi muda. Dalam konteks ini, pendidikan di Ambon harus mendorong pemahaman mendalam tentang agama dan etnik yang berbeda serta mengajarkan nilai-nilai universal seperti saling menghormati, bekerja sama, dan menghargai perbedaan. Guru dan lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab yang besar untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, di mana siswa diberdayakan untuk memahami, menghormati, dan berinteraksi dengan baik dengan orang-orang dari latar belakang etnis dan agama yang berbeda.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Jejak Setapak Menuju Eropa

Jejak Setapak Menuju Eropa

 

Penulis Emil Siska
Ukuran 14 x 20 cm
Berat 250 gr
Tebal viii+138 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-5663-79-1
Harga 68.000

 

Deskripsi

Jejak Setapak Menuju Eropa

Buku ini dibuat sebagai kenangan perjalanan awal pandemi 2020. Pandemi Covid-19 adalah peristiwa langka alam sejarah kehidupan yang bisa diabadikan melalui catatan perjalanan yang kebetulan bersamaan dengan perjalanan penulis ke Eropa. Ada banyak momen bagian dar pengalaman konkret yang perlu dituangkan ke dalam tulisan. Jika tidak, ia akan hilang dimakan waktu dan berlalu begitu saja.

Begitu banyak hal dalam ingatan. Kiranya jika dirangkum dalam sebuah buku akan menjadi karya yang mudah-mudahan bermanfaat. Tumpukan di memori dan dukungan dari berbagai pihak adalah suntikan kepercayaan diri bahwa siapa saja bisa berkarya dalam menulis.

Dengan bepergian, dan melihat dunia, kita akan menemukan diri yang baru. Dan jangan bertanya pada mereka yang tak pernah beranjak dari rumahnya. Hati-hati dengan dengan perjalanan, karena ia akan membawa diri yang baru.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

nDleming

nDleming

 

Penulis Ronin Sepuh
Ukuran 14 x 20 cm
Berat 200 gr
Tebal vi+98 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-5663-78-4
Harga 52.000

 

Deskripsi

nDleming

Ndleming dalam kosakata Bahasa Jawa berarti berbicara karepe dhewe, atau ngelantur, yang dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai berbicara tidak terkontrol. Apakah sang penulis buku ini benar-benar ndleming?

Ndleming di sini merupakan ungkapan yang sangat dalam dan luas maknanya. Saking dalam dan luasnya, buku ini bisa disebut sebagai kritik politik, ekonomi, sosial, dan kritik budaya atau biasa disingkat dengan kritik poleksosbud. Bila perlu bisa ditambah sebagai kritik pertahanan dan keamaman rakyat semesta (hankamrata).

Rasanya tidak berlebihan jika sang penulis adalah manusia jenis kesatu berdasarkan klasifikasi manusia dari Imam Al Ghozali. Imam Al Ghozali mengelompokkan manusia menjadi empat, yakni: (1) Manusia yang tahu bahwa dirinya tahu, (2) Manusia yang tahu bahwa dirinya tidak tahu, (3) Manusia yang tidak tahu bahwa dirinya tahu, dan (4) Manusia yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.

Dari sini tampak jelas bahwa ungkapan ndleming adalah ekspresi merasa tidak mumpuni untuk melontarkan gagasan di depan khalayak, walaupun sejatinya merupakan potret masyarakat senyatanya, yang tidak banyak warga yang mau menuliskannya. Ringkasnya, di samping sebagai kritik poleksosbud, buku ini juga mengajak kita untuk berbuat sesuai dengan tatakrama yang berlaku, dan bukan berbuat semau-maunya. Selamat ndleming!

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Gagasan dan Praktik Pendidikan Anak Usia Dini Di Komunitas Buddha, Hindu, Khonghucu, Ahmadiyah dan Syi’ah

Gagasan dan Praktik Pendidikan Anak Usia Dini Di Komunitas Buddha, Hindu, Khonghucu, Ahmadiyah dan Syi’ah

 

Penulis Sarmi, S. Pd, dkk
Ukuran 13 x 20 cm
Berat 200 gr
Tebal xiv+86 hlm
Format PDF
E-ISBN 978-623-5663-77-7
Harga Gratis

 

Deskripsi

Gagasan dan Praktik Pendidikan Anak Usia Dini di Komunitas Buddha, Hindu, Khonghucu, Ahmadiyah dan Syi’ah

Pada 2022, Srili mendapatkan kepercayaan dari The King Abdullah bin Abdulaziz International Centre for Interreligious and Intercultural Dialogue (KAICIID) untuk menyelenggarakan Training of Trainer (ToT) bagi guruguru PAUD. Peserta kemudian menindaklanjuti ToT dengan membagikan ilmu dan pengalaman mereka kepada guruguru dan pegiat PAUD, bahkan kepada orang tua murid di lingkungannya.

Selain ToT, Srili juga menggandeng para guru PAUD dari agama Buddha, Hindu dan Khonghucu, ditambah Ahmadiyah dan Syi’ah untuk menuliskan gagasan, dan atau praktik PAUD di komunitas mereka masing-masing. Setelah melalui proses beberapa kali pertemuan, termasuk FGD penyusunan konsep buku, maka terbitlah buku ini.

Membaca buku ini serasa menemukan cakrawala baru. Buku ini berisi tentang keberagaman gagasan-gagasan dan berbagai praktik baik Pendidikan Anak Usia Dini di lingkungan komunitas Buddha, Hindu, Khonghucu, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, dan Syi’ah.

Membaca semua penjabaran itu, kita akan menemukan hal yang sangat menarik, karena kenyataannya semua komunitas tersebut di atas mengatakan bahwa orang tua atau keluarga adalah guru yang utama dan pertama dalam pengenalan dan pemahaman agama kepada anak usia dini.

Setiap ajaran yang diungkapkan selalu memuliakan nama Tuhan, kesemuanya mengajak menghormati dan mencintai sesama manusia. Dalam gagasan-gagasan yang ditawarkan juga, mengajak pembaca merenung betapa Tuhan telah menciptakan semuanya dengan baik, meski memiliki perbedaan. Bukan untuk berseteru tetapi menjalin kasih dan persaudaraan, menghargai satu sama lain. Sungguh indah persaudaraan lintas iman yang dapat ditumbuhkan sejak dini di bumi Indonesia ini.

Selamat membaca.

Download Ebook: Gagasan dan Praktik Pendidikan Anak Usia Dini Di Komunitas Buddha, Hindu, Khonghucu, Ahmadiyah dan Syi’ah

 

Copyright © 2026 Galuh Patria