Cahaya dan Jelaga

Cahaya dan Jelaga

 

Penulis Tyas Ary Lestyaningrum
Ukuran 14 x 20 cm
Berat 300 gr
Tebal x + 194 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-5663-75-3
Harga 89.000

 

Deskripsi

Cahaya dan Jelaga

Hampir enam dekade berlalu dan bangsa ini belum selesai dengan Tragedi 1965-1966, berikut ceceran warisan kepedihannya. Tak ada penyelesaian yang tuntas dan permaafan yang lapang. Padahal, tanpa itu semua, akan berat kepala kita untuk mendongak ke depan.

Topik tentang ’65-’66 selalu saja diseret ke pertentangan politik, konflik keyakinan, kadang juga pembelaan kepada ideologi bangsa yang serba “seakan-akan”. Sementara itu, sering dilupakan bahwa warisan luka tersebut bukan hanya menyakiti kehidupan kebangsaan, melainkan lebih mendasar lagi: ia meninggalkan sayatan luka yang mendalam bagi kemanusiaan.

Dan, di lapangan kemanusian itu, ada entah berapa ribu manusia, yang menjalani sakit demi sakit di sepanjang jalan setapak hidup mereka, dengan wujud yang barangkali tak pernah tergambar dalam bayangan manusia lainnya.

Novel karya Mbak Tyas mengajak kita untuk masuk ke alam kehidupan penuh warisan luka itu. Melihat para tumbal sejarah bukan hanya sebagai statistik dan deretan angka, tetapi mengenali mereka sebagai manusia, bersama pergulatan kisah kepedihan, kemarahan, juga keikhlasan, yang selama ini nyelip tertutup bayang-bayang omong kosong narasi besar kebangsaan.

Iqbal Aji Daryono, penulis.

Selamat membaca!

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Si Manis yang Membuatku Menangis

Si Manis yang Membuatku Menangis

 

Penulis Siti Akhiyati, S.Pd
Ukuran 14 x 20 cm
Berat 150 gr
Tebal 58 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-5663-74-6
Harga 60.000

 

Deskripsi

Si Manis yang Membuatku Menangis: Kumpulan Cerita Pengembangan Karakter Anak

Tia adalah seorang anak perempuan cantik. Ia suka makan dan minum yang serba manis seperti susu, sirup, permen, kue, cokelat, gulali, lolypop, dll. Ke manapun dia pergi baik ke sekolah, bermain ataupun ketika nonton TV ia selalu makan dan minum manis.

Suatu malam Tia terbangun karena giginya terasa sangat sakit. Ia pun menangis keras. Ketika dilihat ibu, gigi Tia ada yang berlubang dan terlihat kotor. Pagi harinya Tia dibawa ke dokter gigi. Bu dokter memberi nasihat agar Tia mengurangi makanan dan minuman manis dan harus rajin menggosok gigi setiap pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.

Selamat membaca!

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Cek 5 Hal Ini Sebelum Mengirim Tulisan ke Media Massa

Cek 5 Hal Ini Sebelum Mengirim Tulisan ke Media Massa

Tulisan yang sudah dihasilkan seseorang bisa dipublikasikan dengan berbagai cara. Menggungah tulisan itu di beranda pribadi sosial media bisa menjadi salah satu pilihan. Mengirimkannya ke media massa menjadi pilihan yang lain.

Lalu bagaimana caranya mengirim naskah ke media?

  1. Cek Administrasi

Teman-teman harus memastikan dulu mau mengirim tulisan ke mana. Pastikan juga metode pengiriman naskahnya. Misalnya ada lomba atau redaksi yang meminta peserta mengirim hardcopy. Ada juga yang cukup lewat surat elektronik/ surel. Ada juga yang unggah dokumen ke web media tersebut.

Pastikan juga kelengkapan yang harus dipenuhi. Misalnya, ada media yang meminta penulis menyertakan biodata ringkas, foto diri, foto/ scan KTP, foto/ scan NPWP, nomor rekening, akun media sosial, dan lain sebagainya. Nah, pastikan teman-teman memenuhi syarat administratif itu ya.

  1. Cek Ulang Tulisan

Sesuaikan dengan kriteria dari media massa yang dituju ya. Misalnya, artikel di media online biasanya antara 600—700 kata. Sedangkan untuk majalah/ koran cetak, kita bisa menulis hingga 1.000—1.200 kata.

Tapi, masih ada pengecualian kok. Misalnya, cerpen berjudul ‘Melukis Langit’ yang saya tulis dan dimuat di Tribun Jabar itu berjumlah 1.533 kata. Cerpen “Ibu yang Membicarakan Kail” yang dimuat di Tribun Sumsel berjumlah 970 kata (dipangkas karena permintaan redaktur dari jumlah asli 1.800 kata).

  1. Cek Ketentuan Pengiriman Naskah

Nah, kalau semua syarat itu sudah terpenuhi, teman-teman bisa mengirimkan naskah ke media. Untuk pengiriman melalui surat elektronik, naskah haruslah dalam format word dan menjadi attachment. Jadi, jangan pernah menulis naskah di badan email ya … auto ditolak itu sama media.

Di bagian email penerima, pastikan teman-teman menuliskan alamat email yang tepat. Biasakan cek ulang.

Di bagian subjek, silakan menuliskan sesuai ketentuan media. Misalnya, untuk rahma.id, jika saya mengirim artikel, di subjek saya tulis: esai. Untuk koran Tribun, mereka menggunakan subjek opini untuk artikel. Jika tulisan itu adalah cerpen, di subjek ditulis cerpen bisa juga sastra. Itu semua tergantung ketentuan dari media masing-masing. Jadi, pastikan mengisi bagian itu dengan benar ya.

Di badan email, biasakan memulai dengan tujuan email. Biasanya saya menulis: Yth. Redaktur XXX (diisi nama media). Setelah itu tuliskan salam. Lalu, tuliskan bahwa Anda mengirim naskah cerpen/ artikel. Tuliskan juga sinopsis tulisan Anda. Di bagian akhir sampaikan bahwa Anda berharap tulisan itu sesuai dengan karakteristik media yang dituju. Jangan lupa menutup dengan salam dan nama lengkap disertai nomor yang bisa dihubungi. Ini penting, biasanya redaksi menghubungi untuk konfirmasi honor atau pemuatan.

Oh ya, jangan buru-buru klik kirim ya. Pastikan dulu lampiran sudah diunggah semua. Nanti emailnya isinya hanya surat saja tanpa ada lampiran naskah. Itu membagongkan sangat!

  1. Cek Masa Tunggu

Nah, setelah mengirim naskah, saya biasanya menulis di sebuah buku khusus. Judul tulisan, media, dan tanggal pengiriman. Ini penting karena kita punya batas waktu. Kalau artikel, biasanya waktu tunggunya maksimal 7 hari. Untuk cerpen masa tunggunya bisa 3 bulan, ada juga yang sampai 6 bulan. Jika lebih dari masa tunggu dan naskah belum dimuat, kirimkanlah surat penarikan naskah.

Surat penarikan naskah strukturnya sama dengan surat pengiriman naskah. Hanya saja sampaikan bahwa tulisan berjudul xxx itu Anda tarik. Tidak usah bilang kalau alasan menarik naskah karena tyada ada kepastian macam dia yang selalu membuatmu baper tapi ternyata punya banyak gebetan di tiap tikungan.

  1. Cek Status Tulisan

Setelah mengecek masa tunggu, Teman GaPa bisa fokus menulis lagi. Sesekali catatannya dibuka ya. Tujuannya untuk melihat status tulisan yang sudah dikirim. Jika sudah dimuat, buatlah catatan agar naskah tersebut tidak dikirim ulang ke media lain. Sebaliknya, jika sudah ditolak, naskah itu bisa dievaluasi dan dikirim ke media yang lain.

Akrabilah rasa patah hati. Ada orang yang dianugerahi dengan keberuntungan. Ada juga yang diberi kemuliaan setelah kerja keras dan kerja cerdas. Jadi, kalau ada penolakan dari media, tidak apa-apa. Meski rasanya memang menyakitkan macam gebetanmu yang tiba-tiba ghosting karena nggak diijinin mamanya pacaran. Duh ….

Kalau satu media menolak tulisanmu, jangan berpikir bahwa tulisan itu buruk. Bisa jadi medianya tidak cocok. Contoh, cerpen saya yang berjudul “Seperti Dinginnya Hujan” ditolak media 2 kali. Akhirnya cerpen itu dimuat di Magdalene. Dan kasus semacam itu beberapa kali terjadi pada esai atau cerpen saya.

Biasakan juga mengevaluasi tulisan ya. Kalau Teman GaPa punya ‘pembaca pertama’ manfaatkanlah dia. Pembaca pertama ini bisa siapa saja. Bisa keluarga, sahabat, atau kekasih, mantan kekasih, atau mantan calon kekasih. Aduh.

Pembaca pertama biasanya akan menemukan hal-hal yang tidak kita temukan. Yha namanya kita yang nulis kan, pastinya kita ngerasa tulisan itu udah bener aja. Eh pas dibaca orang, ya Allah memalukan nian. Hiks.

Usahakan jangan memberikan tulisan pada pembaca pertama yang berpotensi menikungmu. Itu menyakitkan, semacam luka tapi tyada setetes darah pun mengalir.

Nah, hal penting terakhir pamerlah jika tulisan dimuat. Ini penting! Tyada yang bisa memberi apresiasi seindah itu selain diri kita sendiri. Di sisi lain, dengan memamerkan tulisan kita, akan semakin banyak yang membacanya. Kita tidak tahu, kadang sebuah tulisan dimaksudkan menyapa jiwa-jiwa kesepian di suatu titik dunia ini. Tulisan kita bisa jadi melakukan itu. Membuat mereka merasa hangat meski kita tidak memeluknya secara langsung, menguatkan meski kita tidak duduk dan menyediakan bahu sebagai tempatnya bersandar. Ahiw!

Penulis: Katarina Retno

Perjalanan Manusia

Perjalanan Manusia

 

Penulis Sugeng Riyadi, S.Pd
Ukuran 13 x 20 cm
Berat 150 gr
Tebal 72 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-5663-73-9
Harga 48.000

 

Deskripsi

Perjalanan Manusia: Kumpulan Puisi

Dengan kepekaan moral yang tinggi terhadap lingkungan sosial dan lingkungan akan membentuk pribadi atau karakter yang tangguh terhadap pembaca dalam memahami arti kehidupan secara multi dimensional, sehingga bangunan karakter yang baik dan kokoh akan melahirkan generasi-generasi penerus bangsa yang tangguh dan bermartabat. Bangsa yang besar akan selalu memperhatikan nilai-nilai budaya dan karakter sebagai jati diri bangsa yang menyentuh seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Buku puisi ini bertujuan agar bisa memberikan arti dalam memahami, sentuhan batin dan memaknai arti sebuah kehidupan dengan seksama, arif dan bijaksana. Selain itu, buku ini juga berisi tentang sentuhan-sentuhan moral spiritual agar pembaca mampu meningkatkan kepekaan yang tinggi serta bisa menumbuh-kembangkan perilaku yang peka dalam memahami kondisi sosial, alam dan lingkungan sekitar ini sebagai satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan menuju suatu kesempurnaan hidup yang lebih baik.

Selamat membaca!

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

4 Tahap Dasar Menulis

4 Tahap Dasar Menulis

Menulis memang merupakan perwujudan pemikiran dan cara pandang penulis terhadap persoalan yang dibahasnya. Untuk bisa menyampaikan gagasannya dengan baik, penulis perlu melalui beberapa tahap penulisan.

Berikut empat tahap dasar menulis yang bisa Teman GaPa ikuti.

  1. Tahap Persiapan

Ide sering kali datang di saat penulis tidak sedang dalam kondisi siap menulis. Misalnya, sedang dalam perjalanan dan tidak bisa membuka laptop atau tidak membawa buku catatan khusus. Di waktu lain, seorang penulis kadang merasa ‘kehabisan’ ide dan bingung apa yang harus ditulisnya.

Banyak penulis yang lekas menyimpan idenya dalam bentuk catatan khusus. Tak heran jika beberapa penulis selalu menyediakan buku khusus, ponsel, stiky note, atau apapun itu yang bisa digunakan untuk mencatat ide. Ide-ide itu sebagian bisa langsung dieksekusi menjadi tulisan. Jika tidak bisa, penulis masih bisa menggunakan catatannya untuk membantunya mengingat kembali ide itu.

Ada beberapa ide yang membutuhkan brainstorming. Misalnya, penulis merasa perlu mencari data pendukung untuk tulisannya. Bisa pula ia membutuhkan diskusi dengan orang yang dipercayainya.

Pada intinya, jangan sampai ide yang muncul itu terlewat begitu saja. Gunakan berbagai piranti pembantu jika dirimu merasa tidak cukup mampu mengingat banyak hal dalam waktu yang bersamaan.

  1. Tahap Penulisan

Beberapa penulis merasa nyaman jika membuat kerangka tulisan terlebih dahulu. Tujuannya agar ide yang sudah diperoleh itu dapat dijabarkan dengan baik. Jika ide dapat dijabarkan dengan baik, tujuan tulisan dapat sampai pada pembaca.

Meski demikian, ada juga penulis yang merasa nyaman langsung menulis tanpa menggunakan kerangka terlebih dahulu. Tidak ada yang benar dan salah dari kedua hal itu. Teman GaPa hanya perlu mencermati mana gaya yang lebih sesuai dengan karakteristik kalian.

Pertimbangkan kelebihan dan kekurangan kedua teknik tersebut ya.

  1. Tahap Pengendapan

Setelah tulisan jadi, penulis biasanya menarik jarak dari tulisan itu. Jeda yang diambil penulis beragam. Kadang hanya sejarak sepeminuman kopi. Kadang pula bisa berhari-hari. Untuk artikel, jeda itu tidak boleh lama karena karakteristik tulisan yang memang harus aktual. Meski aktual bisa dimaknai peristiwanya yang baru, bisa pula sudut pandang atau cara penulisannya yang baru.

Tujuan menarik jarak itu adalah agar penulis nantinya bisa melihat hasil menulisnya dengan lebih objektif. Pada saat selesai menulis, para penulis masih dalam fase euforia. Pada saat itulah kemampuan melihat dan mempertimbangkan kembali tulisannya menjadi sedikit terganggu.

Setelah jeda, para penulis perlu melakukan penyuntingan. Penyuntingan sebaiknya dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama pengecekan konten. Tahap kedua pengecekan kaidah kebahasaan.

  1. Tahap Perayaan

Tahap perayaan merupakan tahap paling menyenangkan. Beberapa penulis bisa merayakan dengan sederhana seperti bertepuk tangan (meski itu di tengah malam), minum kopi atau es krim, atau apa saja. Selain itu, penulis juga akan mencari ‘tempat’ yang sesuai dengan tulisan itu. Apakah dia cukup puas mempostingnya di beranda pribadi, grup kepenulisan, media massa, atau panitia lomba?

Perayaan ini perlu dilakukan sebagai bentuk apresiasi penulis pada karyanya. Lebih dari itu, juga menjadi bentuk apresiasinya pada dirinya sendiri.

Nah, Teman GaPa, apakah dirimu juga melalui keempat tahap itu? Atau adakah tahapan lain yang kamu lakukan pada saat menulis? Mari kita berbagi.

 

Penulis: Katarina Retno

5 Alasan Menulis di Media Massa

5 Alasan Menulis di Media Massa

Pengalaman menulis di media massa menjadi hal yang sangat menarik untuk penulis pemula seperti saya. Ada rasa senang ketika buah pemikiran itu bisa lolos kurasi dan dibaca luas. Apalagi jika media tersebut menyediakan honor untuk tulisan yang dimuat. Tapi apa iya hanya alasan honor saja yang mendorong seseorang rajin menulis dan mengirimkannya ke media?

Meski banyak penulis pemula yang ‘masih nyaman’ menulis di medsos atau di grup (terbuka atau tertutup) komunitas kepenulisan, ada banyak lainnya yang mulai memonetisasi tulisannya. Tidak hanya menulis di media massa, menulis di platform bisa jadi pilihan. Tiap pilihan itu tidak ada yang benar atau salah, sebab setiap orang mempunyai pertimbangannya masing-masing.

Bagi saya dan beberapa teman, menulis dan mengirimkan ke media massa memiliki alasan dan tantangan tersendiri. Hal-hal itulah yang membuat kami sejauh ini berusaha terus mempublikasikan tulisan di media massa, baik yang berhonor maupun yang belum berhonor.

  1. Integritas

Menulis itu bukan sekadar meluapkan emosi. Juga bukan sekadar turut andil suara dalam permasalahan yang sedang viral saat ini. Saya menyadari saat menulis para penulis mendedikasikan waktu untuk membaca dan menulis sebelum menghasilkan tulisan. Tentu itu bukan hal sederhana dan main-main. Mereka berusaha sungguh-sungguh dalam menuliskan gagasan. Agak terdengar terlalu serius ya? Tapi, menulis bagi sebagian orang memang bukan perkara sederhana. Di sana, ada integritas si penulisnya.

  1. Persebaran Ide atau Gagasan

Mempublikasikan tulisan juga bermakna menyebarkan ide atau gagasan penulisnya. Dengan berani mengunggah tulisan di sosial media termasuk juga di media massa dan platform kepenulisan, seseorang menyuarakan pendapatnya atau caranya berpikir dan menyikapi sebuah permasalahan. Media massa menjadi salah satu tempat yang akses persebarannya cukup cepat. Dan menulis di media massa berarti juga mempercepat persebaran ide tersebut.

  1. Uji Kemampuan Menulis

Kita tentu tahu bahwa tulisan yang bisa dimuat di media massa merupakan tulisan yang lolos kurasi redakturnya. Demikian juga di platform tertentu yang memberikan ketentuan semacam itu. Tentu saja meski bisa ‘ditebak-tebak’, ada banyak pertimbangan redaktur meloloskan tulisan. Bisa saja urgensi tulisan itu, kesamaan isi tulisan dengan visi misi media, termasuk juga selera redaktur.

Penulis yang mengirimkan tulisan di berbagai media massa pada dasarnya juga tengah melakukan uji kemampuan menulis. Sebab redaktur tidak hanya fokus pada kerapian tulisan, kepatuhan pada aturan kepenulisan saja, dan banyak hal lainnya yang dipertimbangkan.

  1. Latihan Mengakrabi Patah Hati

Tulisan yang lolos kurasi redaktur berarti mendapatkan kesempatan untuk dimuat di media tersebut. Sebaliknya, tulisan yang tidak lolos tentu dikembalikan kepada penulisnya dalam bentuk pemberitahuan penolakan naskah. Meski yaa tidak semua media melakukan konfirmasi pemuatan atau penolakan naskah.

Sebenarnya, patah hati terkait penolakan tulisan itu memang perlu diakrabi. Tulisan yang ditolak di suatu media bisa saja diterima di media yang lain. Oleh sebab itu, penulis yang tulisannya banyak dimuat di media sebenarnya adalah penulis yang akrab dengan patah hati penolakan tulisan sebelumnya. Dan tentu saja mereka bukan berhenti dan meratapi patah hati itu saja, tapi lekas move on dengan terus menulis dan mengirimkannya di media yang lain.

  1. Penghasilan dan Efek Samping

Rasa senang saat melihat tulisan dimuat di media juga makin paripurna saat mendapat notifikasi masuknya honor ke rekening. Meski tidak semua media saat ini menyediakan honor, penulis tetap mendapatkan efek samping dari pemuatan di media. Salah satunya, penulis yang produktif dapat diundang sebagai pembicara atau menjadi mentor penulisan. Honornya bisa saja lebih besar dari honor satu tulisan di media lho.

Tulisan-tulisan yang sudah dimuat di media massa pun masih bisa diterbitkan dalam bentuk buku. Hal itu bisa sebagai bentuk dokumentasi, baik untuk pribadi maupun bagi pembaca setiamu.

Nah, apakah kamu sudah rajin menulis dan mempublikasikan tulisanmu? Kamu mempublikasikannya di media sosial ataukah di media massa? Lalu, apa saja efek samping yang sudah kamu dapatkan?

 

Penulis: Katarina Retno

Untaian Rindu dalam Sajak Julia

Untaian Rindu dalam Sajak Julia

 

Penulis Juli Anggriani
Ukuran 13 x 20 cm
Berat 150 gr
Tebal 88 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-5663-71-5
Harga 48.000

 

Deskripsi

Untaian Rindu dalam Sajak Julia

Bismillah, meluangkan waktu untuk mengetik, itu hal yang sungguh menarik. Menuangkan rasa untuk lalu bisa terbaca, itu serupa bahagia. Menulis itu meracik sekian suku kata, jadi salah satu cara tenangkan jiwa yang kadang meronta, menikmati warna-warni dunia.

Memiliki karya cipta, itu bagian dari satu rencana. Memiliki karya cipta, serupa bahagia yang tak terkira seiring lega yang tak terkira. Tulisan, ketikan, catatan, menjadi kumpulan suku kata yang kemudian dibukukan. Semesta mendukung, aku merenung untuk menyusun sekian bait puisi.

 

Hai Juli
Kau datang lagi
Bersama rintik hujan
Dan kabut yang menemani

Masih adakah rindu tersisa
Di awal juli yang dingin ini

Lihatlah
Angin selalu menerbangkan pesan kerinduan
Walau hanya sekilas

Mencoba membuka lembaran baru
Dengan kisah indah
Tanpa ada luka
Ataupun awan hitam

Selamat membaca!

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Semburat Jingga Bercerita

Semburat Jingga Bercerita

 

Penulis Semburat Jingga
Ukuran 13 x 20 cm
Berat 150 gr
Tebal 62 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-5663-72-2
Harga 45.000

 

Deskripsi

Semburat Jingga Bercerita

Menulis puisi, lambungkan imajinasi. Mengetik puisi, menyalurkan hobi. Menata kata serupa puisi, melahirkan rangkaian cerita yang dibingkai olah rasa.

Menikmati masa sembari bercerita, mensyukuri waktu tak sekadar duduk menunggu, menjalani kisah dengan mencoba mencari berkah dengan apa saja yang sanggup aku olah.

Kata menuntun, kata tersusun. Kata menjelma, kata bicara tanpa suara. Semburat Jingga susun bahasa rasa. Bahasa rasa hanya sederhana, sesuai kadar mampuku mewujud satu buku

 

Biarlah Ku Pasung Rindu

Senjamu masih tetap sama
Ronanya masih berwarna jingga
Masih menanti tuan datang menikmati

Harapnya selalu menjadi pelita
Untuk asa yang entah masih ada
Atau pupus tergerus ego yang meraja

Jika nanti rindu itu mengusikmu
Kabari aku tuan,tak akan ku biarkan
Rindu menyakitimu terlalu dalam
Meski berbalik aku yang tertikam

Selamat membaca!

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Senandung Jiwa Dua Beda

Senandung Jiwa Dua Beda

 

Penulis Wahyu Ali Jaya dan Sapto SeptinAlie
Ukuran 13 x 20 cm
Berat 200 gr
Tebal 138 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-5663-68-5
Harga 52.000

 

Deskripsi

Senandung Jiwa Dua Beda

Catatan demi catatan mimpi mulai terkuak, satu demi satu mulai terbuka. Tidak ada satupun yang menguap, justru seiring tanpanya berharap … satu demi satu serangkaian catatan mimpi mulai terbukti, dan akan segera
terpenuhi.

Menulis itu, tentu saja menyenangkan. Merangkai aksara menjadi sekumpulan kata. Setiap suku kata yang berasal dari kosakata, menjadi bahasa. Membaca, terbaca rasa, kemudian sekali waktu bersuara. Suarakannya menjadi kumpulan diksi, yang semoga saja bermanfaat.

Selamat membaca!

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Lukisan Suara Hati

Lukisan Suara Hati

 

Penulis Wahyu Ali Jaya, dkk
Ukuran 13 x 20 cm
Berat 200 gr
Tebal 142 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-5663-70-8
Harga 52.000

 

Deskripsi

Lukisan Suara Hati

Menulis adalah hal yang menyenangkan, menulis jadi satu bentuk meneladani ragam pengalaman. Pengalaman yang berharga, dituliskan. Pengalaman yang bermakna, tersampaikan.

Menulis membutuhkan kesadaran, untuk kemudian tersalurkan. Jalannya pemikiran dikemukakan, melahirkan sekian macam catatan. Bertiga mencoba merangkai, tiga kepala yang mencoba mengembara. Sekian kata tertulis,
menjadi sekian baris. Sekian kata diketik, diakhiri sekian titik.

Selamat membaca!

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Copyright © 2026 Galuh Patria