
“Pada tataran tertentu, budaya dan cara pandang terhadap pendidikan menjadi persoalan penentu tidak meratanya pendidikan.”
Untuk pembaca karya-karya fiksi Katarina Retno mungkin sudah kenal gaya dan karakter tulisannya. Di Omong-omong Media misalnya, cerpen-cerpennya banyak berisi tema-tema dark dengan memakai tokoh utama justru berperan antagonis. Settingnya pun lebih banyak pergulatan dalam rumah tangga. Makanya dalam beberapa kesempatan Mbak Okky Madasari sebagai pendiri Omong-omong sudah kenal betul dengan karakter cerpen Katarina Retno.
Berbeda dengan cerpennya yang diterbitkan di Ghibahin.id atau beberapa media online lainnya, cerpen Katarina lebih beragam temanya, seperti percintaan misalnya. Settingnya pun beragam dan tokoh utamanya lebih banyak yang berperan menjadi orang baik, seperti Rayhan. Halah.
Namun, dari semua karya-karyanya salah satu yang selalu dihadirkan adalah adanya konflik. Entah itu konflik batin atau permasalahan sosial lainnya di sekitar. Bagi yang sudah pernah ikut kelasnya juga mungkin sudah hapal apa yang perlu disajikan dalam sebuah cerita. Tidak hanya menampilkan laporan naratif yang seringnya dibawakan dengan gaya bahasa mendayu-dayu tapi lupa pokok permasalahan yang akan disampaikan, tetapi perlu adanya konflik karena itu sebagai pembeda dari sebuah cerpen dangan laporan naratif.
Oleh karenanya sebuah cerpen tidak hanya menyampaikan cerita begitu saja, tapi perlu ada ‘misi’ yang akan disampaikan kepada pembaca. Tentu cara penyampaiannya dengan gaya masing-masing penulis sehingga ada kebermanfaatan yang ditulis dengan cara yang indah dan unik.
Salah satu yang unik adalah, dalam karya-karyanya Katarina juga sering menyelipkan kata-kata yang bagi saya jarang terdengar dan dipakai oleh banyak penulis. Misalnya, menghidu, bengkah, dan lain-lain yang bisa ditemui hampir setiap cerpennya. Seringkali saya harus mengecek terlebih dahulu di KBBI kata-kata yang asing itu. Mungkin ini karena backgroundnya yang seorang pengajar Bahasa Indonesia yang punya ‘misi’ melestarikan kekayaan kosakata bahasa Indonesia.
Misi lainnya adalah menyuarakan keresahan-keresahan yang banyak terjadi di sekitar kita. Selain persoalan rumah tangga atau hubungan dengan pasangan juga ada isu-isu yang perlu mendapat perhatian luas. Misalnya, kasus pelecahan seksual yang melibatkan orang-orang dalam institusi seperti sekolah maupun kampus, yang seringkali ditutupi karena menjaga nama baik lembaga.
Novel Asmita
Adapula keresahan tentang pernikahan usia dini dan pendidikan yang tidak merata di berbagai daerah seperti yang ditulis Katarina dalam novel terbarunya berjudul Asmita. Tema itu pula yang menjadi benang merah jalinan cerita yang dibalut dengan romansa tokah utama dengan beberapa orang yang terlibat dalam perjalanan Asmita sebagai peneliti khususnya pendidikan di daerah pesisir.
Di dalam novel Asmita, Katarina ingin menunjukkan bahwa tidak hanya fasilitas pendidikan yang tidak merata, dan kualitas guru dan tenaga pendidikan yang tidak memadai saja yang menjadi masalah. Pada tataran tertentu, budaya dan cara pandang terhadap pendidikan menjadi persoalan penentu tidak meratanya pendidikan.
Pada akhirnya sampai pada simpulan bahwa tujuan pembelajaran yang hanya fokus menghafal teori menjadi kendala besar ketika tiap anak yang bersekolah itu menjalani hidup. Teori-teori itu kemudian berjajar menjadi pengetahuan yang tidak bisa diaplikasikan secara nyata.
Di samping itu pada dasarnya memang orang perlu menggunakan apa yang dia tahu untuk bertahan hidup. Selanjutnya segala pengetahuan itu akan membawa mereka pada kehidupan yang lebih baik. Namun, penting disadari bahwa yang utama memang bagaimana orang tahu caranya untuk tetap hidup.
Untuk lebih rileks penyampaian keresahan di atas, seperti yang juga dirasakan banyak orang, Asmita juga ditampilkan terlibat dalam percintaan dengan rekan satu tim penelitiannya dan seseorang di tempat pengabdiannya sebagai guru bantu. Ini hanya sebagai bumbu saja dari sajian utamanya agar tampak lebih terasa dekat dengan pembacanya.
Dari semua karya Katarina baik berupa cerpen ataupun novel yang sudah saya baca. Saya membuat kesimpulan bahwa apapun kondisi seseorang entah yang terjadi di masa lalu atau masa kini, setiap orang adalah berharga. Tidak ada satu orangpun yang berhak merendahkan orang lain, karena sejatinya sebagai manusia sudah sepatutnya memanusiakan manusia.
Buat yang penasaran dengan kelanjutan kisah Asmita, silakan pesan PO bukunya melalui admin wa.me/+6282265550883.
Amin Fadlillah, di balik kemudi galuhpatria.id




