5 Tanda Novelmu Siap Diterbitkan

5 Tanda Novelmu Siap Diterbitkan

Pernah nggak sih kamu merasa ragu akan nasib tulisanmu? Pernah nggak mikir-mikir novel yang sudah ditulis itu memang udah siap untuk diterbitkan atau belum? Apakah naskah itu memang sudah layak diterbitkan dalam bentuk buku?

Sebenarnya ada beberapa petunjuk yang bisa membantumu mengidentifikasi siap tidaknya suatu naskah diterbitkan. Berikut lima petunjuk naskah novelmu siap diterbitkan menjadi buku perdana.

  1. Cerita Sudah Selesai Ditulis atau Sudah Tamat

Hal pertama yang bisa menjadi petunjuk bahwa novelmu sudah layak diterbitkan adalah adanya kata tamat di akhir novel tersebut. Cerita yang belum berakhir memang belum bisa dipublikasikan dalam bentuk buku ya gais. Jadi, pastikan kata tamat itu tidak sekadar ada, tapi juga cerita yang ditulis memang sudah berakhir.

  1. Mendapat Respon Positif dari Pembaca Pertama

Seorang penulis disarankan memiliki pembaca pertama. Pembaca pertama mendapat kesempatan membaca karyamu bahkan sebelum disentuh oleh pihak lain seperti editor. Pembaca pertama yang jujur akan memberimu komentar dan masukan yang membangun.

Jika pembaca pertamamu memberi respon positif, ini bisa jadi salah satu tanda bahwa naskahmu siap dikirim ke penerbit. Kalau masih kurang yakin dengan pendapatnya, kamu bisa minta tolong pembaca kedua yang memang bisa kamu percayai. Jika komentarnya juga positif, inilah saatnya kamu mencari penerbit yang tepat.

  1. Tanggapann Oke atas Spoiler Tulisan di Sosmed

Komentar positif dari pembaca pertama bisa saja tidak membuatmu serta merta yakin. Kamu bisa coba memberi bocoran tipis-tipis pada khalayak yang lebih luas. Gunakan sosial mediamu untuk spoiler bakal novelmu. Tentu saja kamu tidak perlu menulis keseluruhan atau membocorkan isi ceritamu. Tujuannya agar orang yang membaca jadi penasaran dan menunggu-nunggu terbitnya novel itu.

Bangun interaksi yang dengan friendlist atau followers-mu. Ini penting untuk penjualan bukumu kelak, baik dengan sistem penerbitan biasa maupun dengan menggunakan print on demand (PoD).

Penting juga untuk kamu ingat bahwa komentar negatif dari satu dua orang tidak berarti tulisanmu buruk. Berpikir bahwa sebuah tulisan itu gagal hanya karena komentar negatif akan mempengaruhi mood menulismu selanjutnya. Amati komentar itu, bisa jadi itu adalah temuan kesalahan yang ada dalam ceritamu. Gunakan hal itu sebagai masukan untuk memperbaiki bakal novelmu.

  1. Sudah Menemukan Penerbit yang Tepat

Kadangkala penerbit bergerak aktif mencari penulis, lho. Jika dirimu termasuk orang yang aktif memanfaatkan sosial media, bukan tidak mungkin penerbit melirikmu dan memberi tawaran penerbitan yang spesial.

Meski begitu, kamu bisa mencermati tawaran penerbitan dari berbagai penerbit. Kamu bisa membandingkan, melihat terbitan terdahulu, dan bertanya pada teman yang telah lebih dulu menulis dan menerbitkan buku.

Kalau sudah merasa menemukan penerbit yang tepat, kamu bisa mulai berdiskusi tentang penerbitan novel perdanamu. Pastikan kamu memahami hal-hal teknis dan menanyakan hal yang masih kurang jelas untuk meminimalkan salah paham.

Oh ya gais, Galuh Patria merupakan salah satu penerbit yang terbuka banget untuk menerbitkan naskah baik dengan sistem royalti maupun PoD. Kami juga menyediakan paket-paket penerbitan, layanan penerbitan yang dilakukan oleh tim profesional kami, dan telah berpengalaman menerbitkan buku-buku fiksi dan non fiksi. Kamu bisa kontak Kak GaPa di 0822-6555-0883 untuk informasi lebih lanjut.

  1. Selesai Diskusi Intens dengan Editor

Setelah menemukan penerbit yang tepat, kamu bisa mulai berdiskusi intens dengan editor. Perhatikan kritik dan saran dari editor. Kamu boleh menyanggah pendapat editor, meski tidak berarti kamu jadi keras kepala ya gais. Jika proses ini sudah selesai, maka calon novel perdanamu siap untuk tahap selanjutnya. Tak lama lagi kamu bisa mendekap ‘anak pertama’mu. Woaaah, selamaaattt.

Nah, gimana nih gais? Udah menemukan lima petunjuk itu belum di calon novelmu? Kalau sudah, tunggu apa lagi, kirim naskahmu ke penerbitgaluhpatria@gmail.com dan cermati kelengkapan syaratnya yaaa.[]

Penulis: Katarina Retno

7 Alasan Orang Membeli Buku

7 Alasan Orang Membeli Buku

Di era gempuran ebook dan akses buku digital, ternyata masih banyak orang yang tertarik untuk membeli buku. Ada beragam alasan yang membuat seseorang memutuskan membeli buku. Berikut tujuh alasan tersebut.

  1. Nge-fans dengan Penulisnya

Seseorang penggemar cenderung ingin mengoleksi apapun terkait idolanya. Jika orang tersebut nge-fans dengan seorang penulis, maka ia akan memburu semua karya penulis tersebut. Kadang, mereka berusaha mengikuti bincang buku atau meet and greet dengan penulis idolanya. Nggak lupa mereka juga melengkapi buku tersebut dengan tanda tangan asli penulisnya.

Namun, ada alasan lain seseorang membeli buku meski penulisnya belum terkenal. Mungkin karya itu memenangkan suatu lomba yang cukup bergengsi hingga pembaca penasaran. Ada juga kemungkinan pembeli buku adalah teman baik. Bukankah membeli buku karya teman merupakan bentuk apresiasi dan dukungan nyata?

  1. Blurb-nya Menarik

Blurb adalah tulisan yang berada di kover belakang sebuah buku. Penulis memberikan gambaran isi bukunya. Tapiii … tetep dong nggak dibocorin semua. Penulis kadang malah mengajukan pertanyaan yang membuat calon pembaca jadi penasaran. Nah, kalau udah penasaran, mereka nggak akan ragu buat beli buku tersebut.

  1. Suka Genre dan temanya

Beberapa pembaca menyukai genre dan tema tertentu. Tak heran mereka akan berburu buku dengan genre dan tema yang sama. Misalnya, suka banget dengan cerita fantasi. So, koleksi buku mereka pun nggak akan jauh-jauh dari genre tersebut. Kalau kamu suka genre dan tema apa nih, Teman GaPa?

  1. Kovernya Menarik

Tertarik membeli buku karena kovernya tuh mirip sama jatuh cinta pada pandangan pertama. Kover yang bagus dan mewakili isi buku jelas akan menarik perhatian calon pembaca. Oleh sebab itu, kover didesain secara hati-hati. Penulis sangat boleh memberi saran atau menyampaikan keinginan terkait kover bukunya.

Galuh Patria menerima masukan dari penulis terkait kover calon bukunya lho. Kover buku-buku terbitan Galuh Patria dikerjakan oleh tim profesional. Setelah penulis menyetujui kover yang hasil diskusi, proses penerbitan buku baru dilanjutkan ke tahap berikutnya.

  1. Rekomendasi

Beberapa pembaca membeli buku karena membaca rekomendasi buku tersebut. Rekomendasi buku biasanya ditulis dalam bentuk resensi atau ulasan buku. Jika penulis rekomendasi buku itu adalah orang yang dipercaya, maka calon pembaca tidak segan untuk membeli buku yang diulas tersebut. Selain membaca resensi buku, seseorang bisa membeli buku karena rating buku dari komunitas membaca atau rekomendasi langsung dari orang yang sudah membaca buku tersebut.

  1. Nambah Koleksi Buku

Nah, kalau ini sih memang orang-orang yang suka aja beli buku fisik dan mengoleksinya. Mereka mungkin saja membeli buku secara acak. Di rak bukunya bisa saja ada banyak buku yang masih di sampul plastik. Hei, jangan-jangan itu kamu? Wkwkwk ….

  1. Diskon atau Bazaar Buku Murah

Diskon dan bazaar buku murah juga membuat seseorang tertarik membeli buku. Buku-buku yang ditawarkan dijual dengan harga sangat miring atau adanya bundling buku dengan harga menggiurkan. Maka, para pembeli buku pun memanfaatkan kesempatan ini. Yha, kapan lagi bisa dapat banyak buku dengan harga terjangkau, kan?

Nah, gimana nih gais, kamu beli buku karena alasan yang mana? Atau jangan-jangan kamu punya alasan lain? Share alasanmu di kolom komentar yaaa.[]

Penulis: Katarina Retno

Buku Pertama dan ‘Buruknya’ Itu

Buku Pertama dan ‘Buruknya’ Itu

Saya mulai belajar mempublikasikan tulisan saat kelas 4 SD. Itu pertama kalinya saya ikut lomba menulis esai. Tingkat kecamatan kalau tidak salah. Saya ingat betul, saat itu target tulisannya adalah dua lembar folio bergaris. Dua lembar lho ya, bukan dua halaman.

Waktu itu, saya sudah tahu apa saja yang harus saya tulis. Almarhum bapak saya mengajari membuat kerangka tulisan. Saya pun membuat poin-poin yang akan saya jabarkan. Masalahnya, di tengah-tengah saya ‘tersesat’. Rasanya tidak tahu apa lagi yang perlu saya tulis sementara panjang tulisan saya masih jauh dari target.

Akhirnya, saya menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran. Hasilnya tentu saja tidak nyambung. Sudah pasti saya kalah di lomba itu. Wkwkwk ….

Meski demikian, saya mengalami fase ketika saya merasa yakin tulisan saya bagus. Mungkin aslinya terlena dengan pujian orang-orang dekat saya yang bermaksud menyemangati. Itu sebabnya saya berani menerbitkan buku. Sebenarnya buku pertama saya memang digunakan untuk mendukung tesis saya waktu itu. Namun, kumcer saya yang pertama, itu benar-benar keberanian yang kini saya kagumi.

Beberapa waktu kemudian, saya merasa ada yang aneh dari tulisan-tulisan saya. Saya menyadari tidak punya referensi yang cukup untuk tulisan saya. Saya pun mulai mendisiplinkan diri membaca dan meng-ghibah secara postif. Saya juga ikut kelas-kelas menulis yang terjangkau. Saya makin rajin ikut lomba dan mengirim tulisan ke media untuk mengalami pedihnya jutaan ditolak dan kalah lomba. Saya ikut beberapa komunitas menulis, dan mencermati diskusi di WAG penulis beberapa media.

Interaksi dan belajar itu membuat saya kemudian menemukan banyak kesalahan di buku pertama saya. Kini, terasa mudah buat saya menemukan kesalahan ejaan yang mengganggu atau kesalahan logika cerita di buku fiksi saya yang pertama itu.

Namun, saya tidak merasa malu saat menemukan kesalahan itu. Mungkin itu disebabkan karena buku-buku pertama saya diterbitkan dengan sistem PoD (Print on Demand). Artinya, buku-buku itu terdistribusi secara terbatas, pada orang-orang yang saya harap bisa memaklumi kesalahan itu.

Beberapa penulis pemula yang saya kenal menyatakan mengalami rasa tak percaya diri. Mula-mula mereka tidak pede menulis. Lalu tidak pede mempublikasikannya, baik ke media, mengikutsertakannya ke lomba, atau menerbitkannya menjadi buku. Betapa menyedihkannya menjadi manusia yang serba tidak pede.

Padahal, saya salah satu manusia itu. Saya juga dirundung rasa tidak pede yang sama. Saat memulai menulis fiksi, saya takut dianggap begini dan begitu. Saya juga tidak pede membuat pernyataan yang mungkin sedikit berlawanan. Saat ditawari menerbitkan buku pun saya tidak pede menerimanya.

Ketika kemudian saya menulis novel, memenangkan kompetisi menulis dan diterbitkan, saya mulai lebih percaya diri. Novel-novel itu telah mengalami proses seleksi dan pembacaan yang ketat. Ada diskusi intens dengan editor yang handal. Andai masih ada kesalahan di sana, ya, itu memang manusiawi. Kita pun kadang bisa menemukan beberapa kesalahan, seperti sekadar typo yang tidak terlalu menganggu, pada buku-buku karya penulis besar, bukan?

Bedanya, saya dan banyak penulis yang lain bukannya memilih cuek. Kami merayakan pencapaian kami: hasil menulis kami dengan mempublikasikannya. Kami menggunakan perspektif lain dalam melihat proses menulis itu.

Pengalaman lomba menulis pertama saya membuat saya tahu bahwa saya butuh kerangka saat harus menulis dengan ‘napas panjang’. Misalnya, saat menulis novel/ novella, saya butuh membuat poin-poin penting sebab proses menulisnya lebih lama dari menulis esai atau cerpen.

Pengalaman menerbitkan kumcer yang pertama membuat saya tahu bahwa ada kesalahan ejaan yang perlu dicermati lagi. Saya jadi lebih selektif mencari editor dan memandang masukan dari editor dalam beragam perspektif. Saya tidak menerima mentah-mentah masukan editor, tapi juga tidak keras kepala.

Lebih dari itu saya belajar punya waktu mengendapkan tulisan. Bagaimana pun tulisan yang buru-buru dipublikasikan biasanya masih memiliki hal-hal yang menganggu dan perlu diperbaiki.

Saya juga belajar memilah komentar. Tidak semua kata-kata manis dan penuh kekaguman perlu diambil hati. Sama seperti hujatan dan olok-olok yang sampai di telinga kita.

Pada akhirnya, seburuk apapun hasil menulis yang pertama atau buku pertama, kita adalah penulis yang berkembang. Perjumpaan dengan beragam karakter di komunitas menulis, diskusi dengan rekan-rekan penulis dan editor, pengetahuan dan motivasi dari para mentor benar-benar membantu kita untuk bertumbuh.

Tak peduli seburuk apapun buku pertama, saya bisa menerima dengan gembira. Sama gembiranya ketika mendapat pengumuman tulisan saya masuk ke media atau dinyatakan sebagai pemenang dalam sebuah lomba.

Dan saya tahu, rekan-rekan penulis pemula sebetulnya tengah bertumbuh menjadi lebih baik. Jadi, hasil menulis pertama kita itu, sesungguhnya tak seburuk itu.[]

Penulis: Katarina Retno Triwidayati

5 Keraguan Menerbitkan Buku Pertama dengan Sistem PoD

5 Keraguan Menerbitkan Buku Pertama dengan Sistem PoD

Salah satu sistem penerbitan buku yang bisa digunakan oleh para penulis pemula adalah PoD (Print on Demand). Namun, beberapa penulis kerap ragu saat ingin menerbitkan buku pertama, terutama dengan menggunakan sistem PoD ini. Berikut lima keraguan menerbitkan buku pertama dengan sistem PoD.

  1. Adanya Anggapan Tulisan Pertama Tidak Sempurna

Pada dasarnya memang tidak ada hal yang sempurna. Kita bisa saja menemukan celah kesalahan atau keburukan. Demikian halnya dengan tulisan.

Hasil menulis, terutama bakal buku pertama, kerap dianggap hasil yang tidak sempurna. Tulisan di buku pertama biasanya berupa tulisan idealis dan mungkin saja masih memiliki banyak kesalahan, baik secara isi maupun secara kebahasaan.

Selain menyadari adanya ketidaksempurnaan, kita bisa memilih penerbit yang menyediakan editor yang handal. Diskusi dengan editor akan membantu kita menemukan kesalahan yang mungkin masih luput. Editor bisa menjadi pembaca pertama yang memberi masukan dan kesan yang komprehensif terhadap bakal buku pertama tersebut.

  1. Nama yang Tidak ‘Menjual’

Beberapa rekan penulis pemula merasa bahwa namanya tidak ‘menjual’. Ia merasa tidak banyak dikenal. Dengan demikian, mereka ragu menerbitkan buku pertama.

Memang harus diakui, nama penulis memberi dampak pada penjualan buku. Namun, penulis besar pun dimulai sebagai penulis pemula.

Oleh sebab itu, kita tidak mungkin menjadi penulis besar jika tidak memulai memperkenalkan tulisan kita. Sosial media bisa menjadi sarana pertama yang kita gunakan untuk mempublikasikan hasil menulis kita. Apabila tulisan kita sering dimuat di media, rajin-rajinlah membagikannya di sosial media. Jangan lupa untuk di-setting publik agar jangkauannya lebih luas.

  1. Genre Tulisan dan Tema ‘yang Biasa’

Ada pula penulis pemula yang merasa bahwa genre tulisan dan tema yang diangkatnya begitu biasa atau umum. Tulisan sejenis rasanya ada begitu banyak. Lalu, apakah tulisan itu jika diterbitkan akan tetap laku?

Sebenarnya, tema adalah salah satu unsur pembangun cerita. Kita bisa mengelola unsur lain sebagai pembeda tulisan kita dengan tulisan dari penulis lain.

Bereksperimen menjadi salah satu kunci. Meski demikian ada penulis yang merasa nyaman mengikuti pakem yang ada atau tidak berani bereksperimen. Dan mereka juga bisa sukses kok.

Jadi, tak ada pilihan lain, selain berani mencoba melemparkan tulisan kita pada publik, bukan? Bukankah kritik dan saran sama berharganya dengan pujian yang kita terima?

  1. Adanya Kepercayaan Orang Membeli Buku karena Ingin Belajar dari Penulis Bagus

Orang membeli buku bisa disebabkan banyak hal. Salah satunya adalah buku itu ditulis oleh penulis yang bagus.

Orang yang membeli dengan alasan tersebut bisa dipastikan ingin mendapatkan kualitas. Selain itu, dia mungkin saja ingin mempelajari sesuatu dari buku tersebut. Lalu bagaimana dengan penulis yang belum bagus atau penulis pemula?

Tidak bisa dimungkiri, lingkar pertemanan dan cara berinteraksi menjadi salah satu kunci keberhasilan penerbitan buku dengan sistem PoD. Sebab, teman-teman kita ikut membeli buku bukan karena nama kita tertera sebagai penulis. Namun, karena kita adalah temannya. Dan membeli buku karya teman merupakan bentuk apresiasi dan dukungan dari sahabat.

  1. Takut Tidak Laku

Duh, nerbitin buku bakal laku nggak ya? Bagaimana jika biaya produksi lebih tinggi? Rugi dong?

Pertanyaan-pertanyaan itu pasti mengganggu pikiran para penulis pemula. Nasib buku yang terjual memang tergantung seberapa banyak orang yang ikut pre order buku kita. Pada PoD, buku dicetak sesuai dengan jumlah pesanan yang dibuat. Oleh sebab itu, carilah penerbit yang menawarkan paket-paket penerbitan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhanmu.

Jangan ragu mempromosikan calon bukumu. Ada penerbit yang memberi tawaran PoD hingga berupa promosi buku. Bekerja sama dengan penerbit, kita juga bisa membuat kegiatan bersama seperti bedah buku atau bincang buku.

Dengan jalur pertemanan juga, kita bisa minta tolong orang yang memiliki followers banyak untuk meng-endorse buku kita. Bisa juga beri tawaran spesial, misalnya buku lengkap dengan hadiah kecil dan tanda tangan penulisnya.

Nah, gimana Teman GaPa? Siap untuk mendobrak rasa ragumu untuk menerbitkan buku pertama? Galuh Patria siap menjadi tempatmu menerbitkan buku pertama lho. Ada paket penerbitan dan promosi yang menyertainya. Kontak Kak GaPa untuk informasi lebih lanjut ya. Ganbatte![]

Penulis: Katarina Retno Triwidayati

Membaca Katarina Retno

Membaca Katarina Retno

“Pada tataran tertentu, budaya dan cara pandang terhadap pendidikan menjadi persoalan penentu tidak meratanya pendidikan.”

Untuk pembaca karya-karya fiksi Katarina Retno mungkin sudah kenal gaya dan karakter tulisannya. Di Omong-omong Media misalnya, cerpen-cerpennya banyak berisi tema-tema dark dengan memakai tokoh utama justru berperan antagonis. Settingnya pun lebih banyak pergulatan dalam rumah tangga. Makanya dalam beberapa kesempatan Mbak Okky Madasari sebagai pendiri Omong-omong sudah kenal betul dengan karakter cerpen Katarina Retno.

Berbeda dengan cerpennya yang diterbitkan di Ghibahin.id atau beberapa media online lainnya, cerpen Katarina lebih beragam temanya, seperti percintaan misalnya. Settingnya pun beragam dan tokoh utamanya lebih banyak yang berperan menjadi orang baik, seperti Rayhan. Halah.

Namun, dari semua karya-karyanya salah satu yang selalu dihadirkan adalah adanya konflik. Entah itu konflik batin atau permasalahan sosial lainnya di sekitar. Bagi yang sudah pernah ikut kelasnya juga mungkin sudah hapal apa yang perlu disajikan dalam sebuah cerita. Tidak hanya menampilkan laporan naratif yang seringnya dibawakan dengan gaya bahasa mendayu-dayu tapi lupa pokok permasalahan yang akan disampaikan, tetapi perlu adanya konflik karena itu sebagai pembeda dari sebuah cerpen dangan laporan naratif.

Oleh karenanya sebuah cerpen tidak hanya menyampaikan cerita begitu saja, tapi perlu ada ‘misi’ yang akan disampaikan kepada pembaca. Tentu cara penyampaiannya dengan gaya masing-masing penulis sehingga ada kebermanfaatan yang ditulis dengan cara yang indah dan unik.

Salah satu yang unik adalah, dalam karya-karyanya Katarina juga sering menyelipkan kata-kata yang bagi saya jarang terdengar dan dipakai oleh banyak penulis. Misalnya, menghidu, bengkah, dan lain-lain yang bisa ditemui hampir setiap cerpennya. Seringkali saya harus mengecek terlebih dahulu di KBBI kata-kata yang asing itu. Mungkin ini karena backgroundnya yang seorang pengajar Bahasa Indonesia yang punya ‘misi’ melestarikan kekayaan kosakata bahasa Indonesia.

Misi lainnya adalah menyuarakan keresahan-keresahan yang banyak terjadi di sekitar kita. Selain persoalan rumah tangga atau hubungan dengan pasangan juga ada isu-isu yang perlu mendapat perhatian luas. Misalnya, kasus pelecahan seksual yang melibatkan orang-orang dalam institusi seperti sekolah maupun kampus, yang seringkali ditutupi karena menjaga nama baik lembaga.

Novel Asmita

Adapula keresahan tentang pernikahan usia dini dan pendidikan yang tidak merata di berbagai daerah seperti yang ditulis Katarina dalam novel terbarunya berjudul Asmita. Tema itu pula yang menjadi benang merah jalinan cerita yang dibalut dengan romansa tokah utama dengan beberapa orang yang terlibat dalam perjalanan Asmita sebagai peneliti khususnya pendidikan di daerah pesisir.

Di dalam novel Asmita, Katarina ingin menunjukkan bahwa tidak hanya fasilitas pendidikan yang tidak merata, dan kualitas guru dan tenaga pendidikan yang tidak memadai saja yang menjadi masalah. Pada tataran tertentu, budaya dan cara pandang terhadap pendidikan menjadi persoalan penentu tidak meratanya pendidikan.

Pada akhirnya sampai pada simpulan bahwa tujuan pembelajaran yang hanya fokus menghafal teori menjadi kendala besar ketika tiap anak yang bersekolah itu menjalani hidup. Teori-teori itu kemudian berjajar menjadi pengetahuan yang tidak bisa diaplikasikan secara nyata.

Di samping itu pada dasarnya memang orang perlu menggunakan apa yang dia tahu untuk bertahan hidup. Selanjutnya segala pengetahuan itu akan membawa mereka pada kehidupan yang lebih baik. Namun, penting disadari bahwa yang utama memang bagaimana orang tahu caranya untuk tetap hidup.

Untuk lebih rileks penyampaian keresahan di atas, seperti yang juga dirasakan banyak orang, Asmita juga ditampilkan terlibat dalam percintaan dengan rekan satu tim penelitiannya dan seseorang di tempat pengabdiannya sebagai guru bantu. Ini hanya sebagai bumbu saja dari sajian utamanya agar tampak lebih terasa dekat dengan pembacanya.

Dari semua karya Katarina baik berupa cerpen ataupun novel yang sudah saya baca. Saya membuat kesimpulan bahwa apapun kondisi seseorang entah yang terjadi di masa lalu atau masa kini, setiap orang adalah berharga. Tidak ada satu orangpun yang berhak merendahkan orang lain, karena sejatinya sebagai manusia sudah sepatutnya memanusiakan manusia.

Buat yang penasaran dengan kelanjutan kisah Asmita, silakan pesan PO bukunya melalui admin wa.me/+6282265550883.

Amin Fadlillah, di balik kemudi galuhpatria.id

Copyright © 2026 Galuh Patria