KOMUNIKASI ADAPTIF

KOMUNIKASI ADAPTIF

 

Penulis Ade Yaning Crislyn Saraswati, dkk
Ukuran 14 x 20 cm
Berat 300 gr
Tebal 339 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-8454-81-5
Harga 89.000

 

Deskripsi

KOMUNIKASI ADAPTIF

Komunikasi adaptif adalah kemampuan individu untuk menyesuaikan gaya, strategi, dan perilaku komunikasi mereka sesuai dengan konteks sosial, situasi, dan karakteristik lawan bicara agar pesan dapat diterima dengan efektif. Konsep ini berakar dari teori communication competence dan menekankan fleksibilitas serta sensitivitas terhadap perubahan lingkungan komunikasi.

Buku ini menggambarkan berbagai upaya adaptasi di dalam konteks komunikasi yang sangat luas. Meski bahasannya luas, akan tetapi kesemuanya mengarah pada berbagai upaya untuk beradaptasi dengan berbagai situasi komunikasi, kompleksitas masalah yang dihadapi, hingga tujuan spesifik masing-masing tindakan komunikasi itu sendiri. Kompleksitas itulah yang pada akhirnya membuat buku ini menjadi menarik dan relevan untuk dibaca dalam ekosistem komunikasi saat ini.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Memahami Jurnalisme Digital

Memahami Jurnalisme Digital

 

Penulis Alip Yog Kunandar
Ukuran 15 x 23 cm
Berat 300 gr
Tebal 336 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-8454-78-5
Harga 115.000

 

Deskripsi

Memahami Jurnalisme Digital

Dunia media, dunia jurnalistik, berubah drastis. Bisnis media berubah. Cara mengumpulkan berita, cara menulisnya, cara menyajikannya, cara distribusinya, hingga cara konsumsinya; semuanya berubah. Khalayak bisa menjadi media, media menjadi khalayak; produsen-konsumen informasi bisa bertukar posisi. Semua bermuara pada satu hal; digitalisasi di segala aspek.

Jurnalisme konvensional mulai terasa usang. Jurnalisme Digital menemukan jalannya. Mereka yang berasal dari era konvensional harus menyesuaikan diri jika masih ingin bertahan hidup di dunia itu. Sebagian bisa bertahan, sebagian gugur, dan para pendatang baru bermunculan. Lanskap dan ekosistem jurnalisme telah berubah. Hanya satu yang mungkin tidak akan hilang, jurnalisme itu sendiri meski saat ini harus menyandang nama ‘jurnalisme digital’; jurnalisme yang hidup pada ekosistem digital. Sebagian nilai-nilainya masih bertahan, sebagian harus menyesuaikan dengan prinsip dan nilai-nilai baru. Kegiatan jurnalisme, menjadi begitu kompleks.

Buku ini mencoba menggambarkan bagaimana hiruk-pikuk perubahan itu dari berbagai sisi; ekosistem media yang berubah, proses produksi berita yang berubah, distribusi berita yang berubah, hingga cara orang mengkonsumsi berita yang juga berubah, termasuk bisnis media yang juga harus ikut berubah. Tinjauannya dari aspek teknis hinggs teoritis.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Aspikom Untuk Negeri; Kontribusi Keilmuan Komunikasi Dalam Transformasi Sosial & Digital di Indonesia

Aspikom Untuk Negeri; Kontribusi Keilmuan Komunikasi Dalam Transformasi Sosial & Digital di Indonesia

 

Penulis Dewi Kurniawati, Gusmia Arianti, dkk.
Ukuran 15,5 x 23 cm
Berat 350 gr
Tebal viii+296 hlm
Format Softcover
ISBN 978-623-8454-52-5
Harga 90.000

 

Deskripsi

Aspikom Untuk Negeri; Kontribusi Keilmuan Komunikasi Dalam Transformasi Sosial & Digital di Indonesia

Keberadaan buku “ASPIKOM untuk Negeri” ini adalah bukti komitmen kolektif dari semua stakeholders Aspikom untuk menjawab semua tantangan tersebut. Ia tidak hanya menjadi referensi akademis, tetapi juga panduan praktis bagi para pendidik, mahasiswa, dan profesional komunikasi dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih terhubung, cerdas, dan beretika. Sebagai penutup, saya mengajak semua pihak—akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat—untuk bersama-sama mendorong ilmu komunikasi sebagai kekuatan strategis bangsa. Dengan sinergi ini, saya yakin kita dapat menjadikan komunikasi sebagai alat pemersatu, pembangun peradaban, dan penggerak kemajuan Indonesia.
.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Artificial Intelligence dalam Public Relations, Tantangan atau Peluang?

Artificial Intelligence dalam Public Relations, Tantangan atau Peluang?

Artificial Intelligence dalam Public Relations, Tantangan atau Peluang?

Penulis: Yani Tri Wijayanti

Kehadiran Artificial Intelligence

Era digital mampu mendorong manusia untuk melakukan transformasi digital. Era digital selain mempengaruhi cara kita berkomunikasi tetapi juga berpengaruh pada aktivitas kerja sehari-hari. Era digital ini ditandai dengan revolusi industri 4.0, berkembangnya teknologi, adanya big data dan artificial intelligence.

Kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan, AI dan big data bekerja bersama menghasilkan teknologi baru yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dalam tulisan ini akan lebih membahas tentang tantangan dan peluang artificial intelligence dalam kajian public relations. Artificial Intelligence (AI) akhir-akhir ini menjadi pembicaraan yang hangat di semua kalangan, menjadi hal menarik ketika kita bicara mengenai perkembangan teknologi.

AI menjanjikan banyak kemudahan kepada manusia dalam berbagai bidang pekerjaan. AI menjanjikan banyak kelebihan di antaranya kemampuan analitik, mampu memberikan data dan analisis yang akurat dalam jumlah yang besar; efisiensi kerja yang tinggi, dengan memanfaatkan AI dapat mempercepat penyelesaian pekerjaan kita; dapat mempermudah dalam pengambilan keputusan karena data bersifat obyektif.

 

“Meski ada AI, praktisi PR masih mempunyai masa depan yang baik, era digital bukan menjadi kompetitor melainkan justru membuat praktisi PR menjadi lebih maju dan memudahkan dalam menjalankan fungsi dan pekerjaan PR.”

 

Preview artikel ini dapat dibaca di sini

Citation:

Wijayanti, Yani Tri. “Artificial Intelegence dalam Public Relations, Tantangan atau Peluang?“ dalam Kunandar, et. al. Digital Disturbia: Hiruk-Pikuk Digitalisasi Komunikasi. Yogyakarta: Galuh Patria. pp 103-116.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Meraup Cuan Digital Melalui Microstock Foto

Meraup Cuan Digital Melalui Microstock Foto

Meraup Cuan Digital Melalui Microstock Foto

Penulis: Tariq Yazid

Komunikasi dan Pemasaran Visual
Ketergantungan masyarakat kepada media komunikasi saat ini sangat tinggi. Belum lagi komunikasi yang ada sekarang mulai berkembang sesuai dengan format teknologi yang diusung menyesuaikan kebutuhan audiens. Karena itu, teknologi komunikasi saat ini dianggap telah merubah sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Dalam perkembangannya, komunikasi visual juga mengalami kemajuan. Kita ketahui bahwa komunikasi visual merupakan sebuah rangkaian proses penyampaian kehendak atau maksud tertentu kepada pihak lain dengan penggunaan media penggambaran yang hanya terbaca oleh indera penglihatan.

Komunikasi visual mengkombinasikan seni, lambang, tipografi, gambar, desain grafis, ilustrasi dan warna dalam penyampaiannya. Komunikasi visual menggunakan bahasa visual sebagai komponen utama dalam penyampaian pesan sehingga dapat dimaknai segala sesuatu yang dapat dilihat dan dapat dipakai untuk menyampaikan arti, makna, dan pesan (Kertamukti, 2012).

 

“Cuan digital dengan microstock foto menjadi enomena yang semakin penting dalam pemasaran visual online. Dengan pemahaman yang mendalam, para pelaku bisnis dan pemasar dapat mengoptimalkan penggunaan microstock foto untuk mencapai kesuksesan dalam era digital ini.”

 

Preview artikel ini dapat dibaca di sini

Citation:

Yazid, Tariq. “Meraup Cuan Digital Melalui Microstock Foto“ dalam Kunandar, et. al. Digital Disturbia: Hiruk-Pikuk Digitalisasi Komunikasi. Yogyakarta: Galuh Patria. pp 171-186.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Trending X dan Kampanye Politik Selundupan

Trending X dan Kampanye Politik Selundupan

Trending X dan Kampanye Politik Selundupan

Penulis: Siantari Rihartono

Trending Topic X Salah satu fitur dalam platform media sosial X (sebelumnya Twitter) adalah ‘Trend for You’ atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Trending.’ X (Twitter) Trending adalah peringkat topik populer yang sedang dibahas oleh pengguna akun X (Twitter). Topik yang masuk pada X (Twitter) trending, mengacu pada algoritma berdasarkan siapa yang diikuti oleh pengguna dan dimana lokasi (negara) di mana ia berada.

Biasanya kata kunci yang ada di peringkat didahului dengan tanda (#) tapi bisa juga hanya berupa kata frasa. Secara umum, Trending mengacu pada dua kriteria, yakni lokasi (Global dan nasional, misalnya Indonesia), dan juga trending per topik (misalnya politik, hiburan, olahraga, dan sebagainya).

Pada tampilan awal ketika pengguna membuka akun X mereka, pengguna akan melihat postingan dari akun-akun yang diikuti oleh mereka dan juga jaringan yang terhubung di sekitarnya, atau bisa juga karena riwayat interaksi pengguna dengan salah satu akun ataupun sebuah topik yang kemudian ‘disarankan’ oleh X dengan cara dihadirkan di linimasa pengguna. Jika lingkaran pertemanan sedikit dan pengguna tidak terlalu aktif, apa yang ditampilkan pada linimasa juga menjadi terbatas.

Oleh karena itu, kemudian disediakan fitur Trending tadi, agar pengguna bisa mengetahui apa yang sedang ramai diperbincangkan di dalam platform X yang mungkin tidak banyak dibahas oleh orang-orang dalam lingkaran pertemanan tadi.

 

“Bahaya paling nyata dari ‘kampanye selundupan’ dengan mendompleng trending topic seperti ini adalah maraknya hoax (misinformasi dan disinformasi) yang menyerang calon lawan.”

 

Preview artikel ini dapat dibaca di sini

Citation:

Rihartono, Siantari. “Trending X dan Kampanye Politik Selundupan“ dalam Kunandar, et. al. Digital Disturbia: Hiruk-Pikuk Digitalisasi Komunikasi. Yogyakarta: Galuh Patria. pp 155-170.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

New Public Sphere dalam Kampanye Lingkungan Melalui Media Sosial

New Public Sphere dalam Kampanye Lingkungan Melalui Media Sosial

New Public Sphere dalam Kampanye Lingkungan Melalui Media Sosial

Penulis: Prima Yustitia Nurul Islami & Nada Arina Romli

Teknologi dan New Public Sphere
Teknologi mengalami perkembangan yang pesat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, dan internet menjadi teknologi yang mendorong transformasi pola komunikasi dalam masyarakat saat ini (Sari et al., 2018). Salah satu media dalam komunikasi dengan bantuan teknologi dan internet adalah media sosial. Media sosial merupakan platform media yang berfokus pada keberadan pengguna dan proses memfasilitasi berbagai kegiatan manusia berupa komunikasi sederhana hingga proses membangun opini masyarakat (publik) (A. C. Sari et al., 2018).

Media sosial di Indonesia digunakan oleh semua lapisan masyarakat sebagai salah satu alat komunikasi hingga saat ini (Mansyur, 2018). Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada periode 2022-2023 mencapai 215,63 juta orang dengan rata rata penggunaan internet selama 7 jam 42 menit dalam sehari. Data tersebut juga menunjukkan bahwa teknologi telepon genggam (ponsel) merupakan mayoritas teknologi yang digunakan untuk mengakses internet.

 

“Adanya new public shpere menjadi titik awal isu isu penting dapat memiliki ruang untuk diperjuangkan, diperhatikan dan diharapkan dapat mendorong terbentuknya kebijakan melalui ruang ruang digital tersebut.”

 

Preview artikel ini dapat dibaca di sini

Citation:

Islami, Prima Yustitia Nurul dan Nada Arina Romli. “New Public Sphere dalam Kampanye Lingkungan Melalui Media Sosial“ dalam Kunandar, et. al. Digital Disturbia: Hiruk-Pikuk Digitalisasi Komunikasi. Yogyakarta: Galuh Patria. pp 139-154.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Terjebak dalam Derasnya Arus Teknologi Informasi dan Kecerdasan Buatan

Terjebak dalam Derasnya Arus Teknologi Informasi dan Kecerdasan Buatan

Terjebak dalam Derasnya Arus Teknologi Informasi dan Kecerdasan Buatan: Analisis Pendekatan Literasi Informasi di Era Digitalisasi

Penulis: Etik Anjar Fitriarti

Ketergantungan pada Teknologi
Teknologi informasi yang semakin berkembang pesat hingga saat ini menimbulkan berbagai macam dilema dan problematika bagi masyarakat, khususnya di dunia pendidikan. Anak-anak usia sekolah maupun mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat informasi yang saat ini semestinya dilindungi dan diharapkan telah memiliki kemampuan literasi yang mumpuni untuk menghadapi segala tantangan dan dampak buruk dari hadirnya era yang serba digital ini.

Anak-anak usia sekolah dan mahasiswa dapat dikatakan sebagai generasi digital sebab mereka memiliki kemampuan yang cepat dalam beradaptasi dan menggunakan teknologi digital. Dalam Pratiwi (2021) disebutkan ada beberapa contoh karakteristik dari generasi digital saat ini yaitu aktif dalam mengungkapkan identitas diri, memiliki wawasan yang luas, menyukai kebebasan, ingin memiliki kontrol, bergantung terhadap teknologi, menikmati lingkungan online, memiliki kemampuan adaptasi teknologi yang baru dan memiliki kemampuan multitasking. Generasi digital saat ini dapat disebut sebagai digital native yaitu orang yang memiliki kemampuan yang cepat dalam beradaptasi terhadap teknologi digital.

 

“Perlunya menumbuhkan kesadaran literasi informasi untuk mengetahui kebutuhan serta menyesuaikan informasi yang dicari dalam permainan interaktif agar tidak mengarah pada hal-hal yang merugikan diri sendiri ataupun orang lain.”

 

Preview artikel ini dapat dibaca di sini

Citation:

Fitriarti, Etik Anjar. “Terjebak dalam Derasnya Arus Teknologi Informasi dan Kecerdasan Buatan: Analisis Pendekatan Literasi Informasi di Era Digitalisasi“ dalam Kunandar, et. al. Digital Disturbia: Hiruk-Pikuk Digitalisasi Komunikasi. Yogyakarta: Galuh Patria. pp 103-116.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Dapatkan Kita Menghentikan Genosida?

Dapatkan Kita Menghentikan Genosida?

Dapatkan Kita Menghentikan Genosida? Media Sosial, Tumbangnya Propaganda Media Barat, dan Solidaritas Global untuk Palestina

Penulis: Durrotul Mas’udah

 

Agresi brutal Israel terhadap Gaza, Palestina telah menjadi peristiwa paling menyita perhatian dunia menuju berakhirnya 2023. Agresi ini dipicu oleh sebuah peristiwa yang terjadi pada 7 Oktober 2023, di mana Hamas, kelompok revolusi kemerdekaan Palestina, melakukan serangan terhadap Israel dan menyandera 200 warga Israel. Pihak Israel menyatakan bahwa agresi ini adalah bentuk pertahanan diri (self-defense) dan sebuah gerakan untuk memerangi Hamas. Pernyataan ini pun didukung pemimpin negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Uni Eropa yang menyatakan bahwa Israel memiliki hak untuk pertahanan diri.

Namun sebaliknya, banyak pengamat, organisasi internasional termasuk PBB, aktivis kemanusiaan, media, dan pada akhirnya juga masyarakat sipil di berbagai belahan dunia, meyakini bahwa agresi yang dilakukan Israel itu bukanlah sebuah pertahanan diri, melainkan sebuah bentuk genosida pada bangsa Palestina. Ironisnya, pernyataan dari pemimpin-pemimpin Israel pun justru dengan jelas menggambarkan bahwa apa yang mereka lakukan terhadap warga Palestina di Gaza adalah genosida.

 

“Terus bersuara membela Palestina baik melalui media sosial atau aksi nyata, mungkin adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan sebagai usaha menghentikan genosida dan menunjukkan pembelaan terhadap kemanusiaan.”

 

Preview artikel ini dapat dibaca di sini

Citation:

Mas’udah, Durrotul. “Dapatkan Kita Menghentikan Genosida? Media Sosial, Tumbangnya Propaganda Media Barat, dan Solidaritas Global untuk Palestina“ dalam Kunandar, et. al. Digital Disturbia: Hiruk-Pikuk Digitalisasi Komunikasi. Yogyakarta: Galuh Patria. pp 83-102.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Media dan Kehidupan Beragama Milenial

Media dan Kehidupan Beragama Milenial

Media dan Kehidupan Beragama Milenial: Tantangan Keberagamaan Manusia Modern

Penulis: Amar Ahmad & Nurhidaya

 

Milenial dan Teknologi Komunikasi

Media, tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat, khususnya generasi milenial. Dari media mereka memperoleh sejumlah informasi. Dari media pula mereka dapat mempelajari beragam pengetahuan, mengadopsi sejumlah skill (keterampilan) sampai kepada belajar tentang agama yang sebahagian besar mereka masih minim keilmuan dan kesempatan untuk memperoleh langsung dari para Profesor, Guru, tokoh agama, dan sejumlah penyiar agama lainnya di berbagai agama yang ada.

Berdasarkan data dari hasil riset We Are Social, sebuah lembaga riset media sosial dari Inggris bersama Hootsuite yang dirilis Januari 2023 menunjukkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia sudah mencapai 167 juta orang dari total populasi Indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa sekitar 60,4% penduduk Indonesia menggunakan media sosial dalam aktivitas interaksi mereka dengan media. Penggunaan internet masih mendominasi sekitar 212,9 juta penduduk menggunakan internet. Sementara penggunaan media sosial melalui Handphone sebesar 191 juta atau sekitar 98.3 persen dari populasi (katadata.com, 4/9/2023). Data ini menunjukkan betapa besarnya penggunaan media sosial dikalangan masyarakat.

 

“Pemahaman literasi media yang baik terkait mekanisme yang tepat dalam menggunakan media secara umum, termasuk media sosial adalah pemahaman yang komprehensif dan berkesinambungan.”

 

Preview artikel ini dapat dibaca di sini

Citation:

Ahmad, Amar dan Nurhidaya. “Media dan Kehidupan Beragama Milenial: Tantangan Keberagamaan Manusia Modern“ dalam Kunandar, et. al. Digital Disturbia: Hiruk-Pikuk Digitalisasi Komunikasi. Yogyakarta: Galuh Patria. pp 57-82.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Copyright © 2026 Galuh Patria