Tulisan yang sudah dihasilkan seseorang bisa dipublikasikan dengan berbagai cara. Menggungah tulisan itu di beranda pribadi sosial media bisa menjadi salah satu pilihan. Mengirimkannya ke media massa menjadi pilihan yang lain.
Lalu bagaimana caranya mengirim naskah ke media?
- Cek Administrasi
Teman-teman harus memastikan dulu mau mengirim tulisan ke mana. Pastikan juga metode pengiriman naskahnya. Misalnya ada lomba atau redaksi yang meminta peserta mengirim hardcopy. Ada juga yang cukup lewat surat elektronik/ surel. Ada juga yang unggah dokumen ke web media tersebut.
Pastikan juga kelengkapan yang harus dipenuhi. Misalnya, ada media yang meminta penulis menyertakan biodata ringkas, foto diri, foto/ scan KTP, foto/ scan NPWP, nomor rekening, akun media sosial, dan lain sebagainya. Nah, pastikan teman-teman memenuhi syarat administratif itu ya.
- Cek Ulang Tulisan
Sesuaikan dengan kriteria dari media massa yang dituju ya. Misalnya, artikel di media online biasanya antara 600—700 kata. Sedangkan untuk majalah/ koran cetak, kita bisa menulis hingga 1.000—1.200 kata.
Tapi, masih ada pengecualian kok. Misalnya, cerpen berjudul ‘Melukis Langit’ yang saya tulis dan dimuat di Tribun Jabar itu berjumlah 1.533 kata. Cerpen “Ibu yang Membicarakan Kail” yang dimuat di Tribun Sumsel berjumlah 970 kata (dipangkas karena permintaan redaktur dari jumlah asli 1.800 kata).
- Cek Ketentuan Pengiriman Naskah
Nah, kalau semua syarat itu sudah terpenuhi, teman-teman bisa mengirimkan naskah ke media. Untuk pengiriman melalui surat elektronik, naskah haruslah dalam format word dan menjadi attachment. Jadi, jangan pernah menulis naskah di badan email ya … auto ditolak itu sama media.
Di bagian email penerima, pastikan teman-teman menuliskan alamat email yang tepat. Biasakan cek ulang.
Di bagian subjek, silakan menuliskan sesuai ketentuan media. Misalnya, untuk rahma.id, jika saya mengirim artikel, di subjek saya tulis: esai. Untuk koran Tribun, mereka menggunakan subjek opini untuk artikel. Jika tulisan itu adalah cerpen, di subjek ditulis cerpen bisa juga sastra. Itu semua tergantung ketentuan dari media masing-masing. Jadi, pastikan mengisi bagian itu dengan benar ya.
Di badan email, biasakan memulai dengan tujuan email. Biasanya saya menulis: Yth. Redaktur XXX (diisi nama media). Setelah itu tuliskan salam. Lalu, tuliskan bahwa Anda mengirim naskah cerpen/ artikel. Tuliskan juga sinopsis tulisan Anda. Di bagian akhir sampaikan bahwa Anda berharap tulisan itu sesuai dengan karakteristik media yang dituju. Jangan lupa menutup dengan salam dan nama lengkap disertai nomor yang bisa dihubungi. Ini penting, biasanya redaksi menghubungi untuk konfirmasi honor atau pemuatan.
Oh ya, jangan buru-buru klik kirim ya. Pastikan dulu lampiran sudah diunggah semua. Nanti emailnya isinya hanya surat saja tanpa ada lampiran naskah. Itu membagongkan sangat!
- Cek Masa Tunggu
Nah, setelah mengirim naskah, saya biasanya menulis di sebuah buku khusus. Judul tulisan, media, dan tanggal pengiriman. Ini penting karena kita punya batas waktu. Kalau artikel, biasanya waktu tunggunya maksimal 7 hari. Untuk cerpen masa tunggunya bisa 3 bulan, ada juga yang sampai 6 bulan. Jika lebih dari masa tunggu dan naskah belum dimuat, kirimkanlah surat penarikan naskah.
Surat penarikan naskah strukturnya sama dengan surat pengiriman naskah. Hanya saja sampaikan bahwa tulisan berjudul xxx itu Anda tarik. Tidak usah bilang kalau alasan menarik naskah karena tyada ada kepastian macam dia yang selalu membuatmu baper tapi ternyata punya banyak gebetan di tiap tikungan.
- Cek Status Tulisan
Setelah mengecek masa tunggu, Teman GaPa bisa fokus menulis lagi. Sesekali catatannya dibuka ya. Tujuannya untuk melihat status tulisan yang sudah dikirim. Jika sudah dimuat, buatlah catatan agar naskah tersebut tidak dikirim ulang ke media lain. Sebaliknya, jika sudah ditolak, naskah itu bisa dievaluasi dan dikirim ke media yang lain.
Akrabilah rasa patah hati. Ada orang yang dianugerahi dengan keberuntungan. Ada juga yang diberi kemuliaan setelah kerja keras dan kerja cerdas. Jadi, kalau ada penolakan dari media, tidak apa-apa. Meski rasanya memang menyakitkan macam gebetanmu yang tiba-tiba ghosting karena nggak diijinin mamanya pacaran. Duh ….
Kalau satu media menolak tulisanmu, jangan berpikir bahwa tulisan itu buruk. Bisa jadi medianya tidak cocok. Contoh, cerpen saya yang berjudul “Seperti Dinginnya Hujan” ditolak media 2 kali. Akhirnya cerpen itu dimuat di Magdalene. Dan kasus semacam itu beberapa kali terjadi pada esai atau cerpen saya.
Biasakan juga mengevaluasi tulisan ya. Kalau Teman GaPa punya ‘pembaca pertama’ manfaatkanlah dia. Pembaca pertama ini bisa siapa saja. Bisa keluarga, sahabat, atau kekasih, mantan kekasih, atau mantan calon kekasih. Aduh.
Pembaca pertama biasanya akan menemukan hal-hal yang tidak kita temukan. Yha namanya kita yang nulis kan, pastinya kita ngerasa tulisan itu udah bener aja. Eh pas dibaca orang, ya Allah memalukan nian. Hiks.
Usahakan jangan memberikan tulisan pada pembaca pertama yang berpotensi menikungmu. Itu menyakitkan, semacam luka tapi tyada setetes darah pun mengalir.
Nah, hal penting terakhir pamerlah jika tulisan dimuat. Ini penting! Tyada yang bisa memberi apresiasi seindah itu selain diri kita sendiri. Di sisi lain, dengan memamerkan tulisan kita, akan semakin banyak yang membacanya. Kita tidak tahu, kadang sebuah tulisan dimaksudkan menyapa jiwa-jiwa kesepian di suatu titik dunia ini. Tulisan kita bisa jadi melakukan itu. Membuat mereka merasa hangat meski kita tidak memeluknya secara langsung, menguatkan meski kita tidak duduk dan menyediakan bahu sebagai tempatnya bersandar. Ahiw!
Penulis: Katarina Retno




