5 Alasan Tidak Pede Menulis

5 Alasan Tidak Pede Menulis

Beberapa orang sering merasa tidak percaya diri untuk menulis sesuatu. Padahal orang itu mungkin harus menulis sesuatu, misalnya karena tuntutan pekerjaan atau memang kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Nah, Teman GaPa, ternyata ada beberapa alasan yang membuat seseorang tidak percaya diri/ pede untuk menulis. Berikut lima alasan yang sering dikemukakan para penulis pemula.

  1. Merasa apa yang ditulisnya itu biasa

Seseorang mungkin berpikir bahwa hal yang akan ditulisnya itu merupakan hal yang sangat biasa. Di kelas menulis divisi Pelatihan Galuh Patria, mentor kami menemukan alasan ini menjadi alasan yang paling sering diajukan peserta. Memang sih, ada anggapan bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu yang benar-benar baru. Tapi bukan berarti semua hal yang akan kita tulis itu adalah hal yang benar-benar biasa.

Nah, supaya tulisan yang kita hasilkan itu nggak terjebak pada tulisan biasa, Teman GaPa bisa mencoba menambah referensi dan memperkuat pengamatan. Bisa juga melakukan brainstorming dengan teman dekat. Tujuannya tentu untuk memperkaya perspektif kita. Hasilnya, tulisan kita pasti akan berbeda.

  1. Hasil menulis/ tulisannya tidak ada gunanya atau takut salah

Alasan kedua yang juga umum diajukan adalah adanya perasaan atau dugaan bahwa tulisan yang akan dihasilkan itu tidak ada gunanya. Ada juga yang sebelum menulis sudah punya perasaan atau ketakutan bahwa tulisan yang dihasilkan nantinya memiliki kesalahan.

Gimana tuh caranya menghindarinya? Teman GaPa perlu melakukan riset. Riset di sini sih nggak harus riset yang ribet ya. Mencari tulisan dengan tema sejenis akan membuat Teman GaPa tahu bahwa tulisan itu benar atau salah. Di sisi lain, tulisan yang berdasarkan fakta/ kejadian faktual dan didasarkan teori yang mendukung juga akan terhindar dari kesalahan tersebut.

Seandainya tetap terjadi kesalahan atau perbedaan perspektif, Teman GaPa memang mesti siap untuk menerima kritik dan saran. Sebab, dunia ini ‘kan dinamis, Teman GaPa. Apa yang menjadi kebenaran di saat ini, belum tentu menjadi kebenaran di waktu yang lain. Yha, kaan?!

Oh ya, dengan banyak membaca tulisan bertopik sejenis, Teman GaPa akan tahu bahwa ide tulisan itu memang diperlukan atau tidak. Mikirnya gini deh, kalau sesuatu itu tidak penting, pastinya tidak akan dibicarakan terus menerus, ‘kan? Yuk, semangat mencermati tulisan lain dengan tema/ topik sejenis yang akan Teman GaPa tulis.

  1. Tidak fokus

Menulis memang sering membutuhkan waktu khusus. Teman GaPa perlu meluangkan waktu dan mempersiapkan diri dengan baik. Sebab, saat tertentu, Teman GaPa bisa saja jadi tidak fokus saat menulis. Misalnya, saat riset tulisan terdahulu, eh malah jadinya scroll sosmed deh. Akhirnya, waktu terbuang karena tidak fokus.

Trus gimana caranya supaya Teman GaPa bisa lebih fokus saat menulis? Teman GaPa bisa membuat kebiasaan kerja yang positif. Misalnya, dalam waktu sekian jam, Teman GaPa hanya fokus menulis dan menjauhkan ponsel. Cara lain tinggal disesuaikan dengan kebiasaan Teman GaPa ya, misalnya mendengarkan musik sambil menulis.

  1. Kebiasaan menunda-nunda

Hmmm, ini mah memang kebiasaan yang buruk ya, Teman GaPa. Kadang kita dengan sengaja atau tidak sengaja menunda menyelesaikan sesuatu. Eh, tahu-tahu kerjaan menumpuk dan kita jadi stress sendiri deh.

Kebiasaan menunda-nunda juga nggak bagus untuk menulis lho, Teman GaPa. Kita bisa aja jadi lupa apa saja yang mau dijabarkan dalam tulisan. Akhirnya kita mengalami masa ketika kita bingung menghubungkan tulisan yang belum jadi dengan apa yang harus dituliskan.

Nah, Teman GaPa bisa mengantisipasi kebiasaan ini dengan belajar mendisiplinkan diri ya. Buat daftar kerjaan dan tenggat waktunya. Jangan lupa tulis kerangka tulisan jika Teman GaPa untuk mengantisipasi saat menulis harus terjeda. Tujuannya agar Teman GaPa lebih mudah mengingat kembali hal yang akan dijabarkan dalam tulisan.

  1. Merasa tidak bisa

Beberapa orang merasa tidak bisa menulis. Padahal rasanya seperti punya banyak ide, merasa mau untuk menulis, tapi … ternyata tidak bisa. Waduuuh.

Hmmm, memang tidak bisa dimungkiri bahwa menulis itu tentang keterampilan. Artinya, Teman GaPa memang harus berlatih terus menerus agar bisa terampil menulis.

Luangkan waktu untuk membaca untuk memperkaya referensi Teman GaPa. Jangan lupa luangkan waktu khusus juga untuk menulis. Kadang, kita memang tidak bisa langsung menyelesaikan sebuah tulisan kan? Tapi, setidaknya, dengan rutin menulis, Teman GaPa akan semakin terlatih.

Nah, gimana Teman GaPa? Siap untuk mendobrak rasa tidak pede-mu dalam menulis?

Galuh Patria telah menerbitkan banyak buku fiksi dan non fiksi lho. Teman GaPa bisa memanfaatkannya untuk memperkaya pengetahuan Teman GaPa. Jangan lupa setelah itu luangkan waktu untuk menulis yaaa. Kalau tulisannya sudah jadi dan ingin diterbitkan jadi buku, Teman GaPa bisa kontak Kak GaPa untuk proses penerbitan di Galuh Patria. Ciayooo![]

Penulis: Katarina Retno Triwidayati

Tema: Satu Unsur Pembangun Cerita

Tema: Satu Unsur Pembangun Cerita

#Seri Menulis Cerpen Ala Katarina Retno

Ketika saya memberi pelatihan menulis cerpen, biasanya para penulis pemula mengatakan kesulitan mencari ide. Mereka tidak tahu mesti menggarap tema yang cocok untuk mereka. Padahal kejadian sehari-hari sangatlah mungkin diangkat menjadi sebuah cerita. 

Persoalannya adalah gengsi. Kita memang hidup di tempat segala hal dikotak-kotakkan. Orang menilai karya dengan tema A adalah karya sastra yang baik. Sebaliknya tema B bukan karya yang baik. 

Misalnya, orang menilai tema-tema perdamaian dunia dianggap lebih baik atau lebih mulia dari tema rumah tangga. Padahal persoalan dunia bisa saja dimulai dari persoalan rumah tangga.

Di sisi lain penulis merasa ide mereka tidak orisinil. Memang harus diakui bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar baru di dunia ini. Segala yang kita pikir baru, bisa saja merupakan sesuatu yang lama bahkan usang bagi orang lain. Hal itu dikarenakan pemikiran manusia yang dinamis. Segala hal yang dialaminya, termasuk apa yang dibacanya, menambah pengetahuan. Nah, pengetahuan inilah yang kemudian membuat seseorang bisa saja lebih dulu memikirkan apa yang baru saja kita pikirkan. 

Pada akhirnya, pemikiran dan kecemasan itu membuat para penulis pemula tidak jadi menulis. Mereka lalu sibuk galau dan mencari-cari ide. Ujung-ujungnya memaksakan diri menulis sesuatu yang di luar jangkauan nalarnya sendiri. Bisa ditebak akhirnya cerita itu memiliki banyak lubang yang mesti ditambal. Ya, kalau si penulis itu cukup sabar dan mau mengevaluasi tulisannya sih tidak masalah. 

Harus diakui tidak banyak penulis pemula yang rendah hati. Mereka tidak melihat kembali tulisannya. Akhirnya mereka ya stagnan di tulisan yang begitu-begitu saja. Bahkan bisa jadi mengulang kesalahan yang sama. 

Padahal tema hanyalah satu dari delapan unsur pembangun cerita. Kita bisa mengembangkan tokoh dan penokohan yang kuat. Kita bisa mengolah konflik dengan mencermati dan ‘mempermainkan’ plot cerita. 

Tidak hanya itu, kita juga bisa bereksperimen dengan gaya bahasa. Itu tidak dimaksudkan dengan mencampuradukkan istilah-istilah tidak pada tempatnya secara brutal ya. Eksperimen tentu saja sangat diijinkan. Namun tetap patokannya adalah tulisan itu, dalam hal ini cerpen kita, memiliki nilai estetika dan kegunaan.

Lalu tema apa sih yang bisa diangkat dalam cerita pendek kita? Sebenarnya hal yang kita alami, pengamatan keseharian kita pun bisa menjadi bahan utama cerita kita. Satu yang pasti bahan bakar penulis itu adalah kegelisahan. Jadi, temukan kegelisahan Anda itu. Apa yang membuat Anda resah? Apa yang ingin Anda tanyakan dan cari tahu jawabannya? Lalu tanyakan pada diri Anda sendiri, jika itu dibuat kronologi ala Anda jadinya seperti apa?

Jika sewaktu-waktu ide menulis cerita itu terasa buntu, pancinglah dengan melakukan hal yang memang Anda sukai. Misalnya Anda suka makan. Coba pergilah membeli makanan yang Anda sukai itu. Cermati teksturnya. Nikmati rasanya. Coba hirup aromanya. Pastikan Anda menyerap itu semua secara perlahan. 

Lalu pikirkanlah proses pembuatannya. Misalnya salah satu bahan diganti apakah rasanya akan lebih baik, lebih buruk atau sama saja? Nah, di titik semacam inilah Anda bisa mulai melakukan eksperimen dengan menghubungkannya dengan dramatisasi. 

Ingat, pengalaman keseharian yang diceritakan saja hanya akan menjadi produk reportase yang mungkin malah tidak ada gunanya buat orang lain. Kalau ingin menjadikan pengalaman keseharian itu menjadi sebuah cerita pendek, tugas Anda adalah membubuhkan dramatisasi.

Selamat bereksperimen.[] 

Katarina Retno Triwidayati. Mentor Cerpen Galuh Patria.

Cek 5 Hal Ini Sebelum Mengirim Tulisan ke Media Massa

Cek 5 Hal Ini Sebelum Mengirim Tulisan ke Media Massa

Tulisan yang sudah dihasilkan seseorang bisa dipublikasikan dengan berbagai cara. Menggungah tulisan itu di beranda pribadi sosial media bisa menjadi salah satu pilihan. Mengirimkannya ke media massa menjadi pilihan yang lain.

Lalu bagaimana caranya mengirim naskah ke media?

  1. Cek Administrasi

Teman-teman harus memastikan dulu mau mengirim tulisan ke mana. Pastikan juga metode pengiriman naskahnya. Misalnya ada lomba atau redaksi yang meminta peserta mengirim hardcopy. Ada juga yang cukup lewat surat elektronik/ surel. Ada juga yang unggah dokumen ke web media tersebut.

Pastikan juga kelengkapan yang harus dipenuhi. Misalnya, ada media yang meminta penulis menyertakan biodata ringkas, foto diri, foto/ scan KTP, foto/ scan NPWP, nomor rekening, akun media sosial, dan lain sebagainya. Nah, pastikan teman-teman memenuhi syarat administratif itu ya.

  1. Cek Ulang Tulisan

Sesuaikan dengan kriteria dari media massa yang dituju ya. Misalnya, artikel di media online biasanya antara 600—700 kata. Sedangkan untuk majalah/ koran cetak, kita bisa menulis hingga 1.000—1.200 kata.

Tapi, masih ada pengecualian kok. Misalnya, cerpen berjudul ‘Melukis Langit’ yang saya tulis dan dimuat di Tribun Jabar itu berjumlah 1.533 kata. Cerpen “Ibu yang Membicarakan Kail” yang dimuat di Tribun Sumsel berjumlah 970 kata (dipangkas karena permintaan redaktur dari jumlah asli 1.800 kata).

  1. Cek Ketentuan Pengiriman Naskah

Nah, kalau semua syarat itu sudah terpenuhi, teman-teman bisa mengirimkan naskah ke media. Untuk pengiriman melalui surat elektronik, naskah haruslah dalam format word dan menjadi attachment. Jadi, jangan pernah menulis naskah di badan email ya … auto ditolak itu sama media.

Di bagian email penerima, pastikan teman-teman menuliskan alamat email yang tepat. Biasakan cek ulang.

Di bagian subjek, silakan menuliskan sesuai ketentuan media. Misalnya, untuk rahma.id, jika saya mengirim artikel, di subjek saya tulis: esai. Untuk koran Tribun, mereka menggunakan subjek opini untuk artikel. Jika tulisan itu adalah cerpen, di subjek ditulis cerpen bisa juga sastra. Itu semua tergantung ketentuan dari media masing-masing. Jadi, pastikan mengisi bagian itu dengan benar ya.

Di badan email, biasakan memulai dengan tujuan email. Biasanya saya menulis: Yth. Redaktur XXX (diisi nama media). Setelah itu tuliskan salam. Lalu, tuliskan bahwa Anda mengirim naskah cerpen/ artikel. Tuliskan juga sinopsis tulisan Anda. Di bagian akhir sampaikan bahwa Anda berharap tulisan itu sesuai dengan karakteristik media yang dituju. Jangan lupa menutup dengan salam dan nama lengkap disertai nomor yang bisa dihubungi. Ini penting, biasanya redaksi menghubungi untuk konfirmasi honor atau pemuatan.

Oh ya, jangan buru-buru klik kirim ya. Pastikan dulu lampiran sudah diunggah semua. Nanti emailnya isinya hanya surat saja tanpa ada lampiran naskah. Itu membagongkan sangat!

  1. Cek Masa Tunggu

Nah, setelah mengirim naskah, saya biasanya menulis di sebuah buku khusus. Judul tulisan, media, dan tanggal pengiriman. Ini penting karena kita punya batas waktu. Kalau artikel, biasanya waktu tunggunya maksimal 7 hari. Untuk cerpen masa tunggunya bisa 3 bulan, ada juga yang sampai 6 bulan. Jika lebih dari masa tunggu dan naskah belum dimuat, kirimkanlah surat penarikan naskah.

Surat penarikan naskah strukturnya sama dengan surat pengiriman naskah. Hanya saja sampaikan bahwa tulisan berjudul xxx itu Anda tarik. Tidak usah bilang kalau alasan menarik naskah karena tyada ada kepastian macam dia yang selalu membuatmu baper tapi ternyata punya banyak gebetan di tiap tikungan.

  1. Cek Status Tulisan

Setelah mengecek masa tunggu, Teman GaPa bisa fokus menulis lagi. Sesekali catatannya dibuka ya. Tujuannya untuk melihat status tulisan yang sudah dikirim. Jika sudah dimuat, buatlah catatan agar naskah tersebut tidak dikirim ulang ke media lain. Sebaliknya, jika sudah ditolak, naskah itu bisa dievaluasi dan dikirim ke media yang lain.

Akrabilah rasa patah hati. Ada orang yang dianugerahi dengan keberuntungan. Ada juga yang diberi kemuliaan setelah kerja keras dan kerja cerdas. Jadi, kalau ada penolakan dari media, tidak apa-apa. Meski rasanya memang menyakitkan macam gebetanmu yang tiba-tiba ghosting karena nggak diijinin mamanya pacaran. Duh ….

Kalau satu media menolak tulisanmu, jangan berpikir bahwa tulisan itu buruk. Bisa jadi medianya tidak cocok. Contoh, cerpen saya yang berjudul “Seperti Dinginnya Hujan” ditolak media 2 kali. Akhirnya cerpen itu dimuat di Magdalene. Dan kasus semacam itu beberapa kali terjadi pada esai atau cerpen saya.

Biasakan juga mengevaluasi tulisan ya. Kalau Teman GaPa punya ‘pembaca pertama’ manfaatkanlah dia. Pembaca pertama ini bisa siapa saja. Bisa keluarga, sahabat, atau kekasih, mantan kekasih, atau mantan calon kekasih. Aduh.

Pembaca pertama biasanya akan menemukan hal-hal yang tidak kita temukan. Yha namanya kita yang nulis kan, pastinya kita ngerasa tulisan itu udah bener aja. Eh pas dibaca orang, ya Allah memalukan nian. Hiks.

Usahakan jangan memberikan tulisan pada pembaca pertama yang berpotensi menikungmu. Itu menyakitkan, semacam luka tapi tyada setetes darah pun mengalir.

Nah, hal penting terakhir pamerlah jika tulisan dimuat. Ini penting! Tyada yang bisa memberi apresiasi seindah itu selain diri kita sendiri. Di sisi lain, dengan memamerkan tulisan kita, akan semakin banyak yang membacanya. Kita tidak tahu, kadang sebuah tulisan dimaksudkan menyapa jiwa-jiwa kesepian di suatu titik dunia ini. Tulisan kita bisa jadi melakukan itu. Membuat mereka merasa hangat meski kita tidak memeluknya secara langsung, menguatkan meski kita tidak duduk dan menyediakan bahu sebagai tempatnya bersandar. Ahiw!

Penulis: Katarina Retno

4 Tahap Dasar Menulis

4 Tahap Dasar Menulis

Menulis memang merupakan perwujudan pemikiran dan cara pandang penulis terhadap persoalan yang dibahasnya. Untuk bisa menyampaikan gagasannya dengan baik, penulis perlu melalui beberapa tahap penulisan.

Berikut empat tahap dasar menulis yang bisa Teman GaPa ikuti.

  1. Tahap Persiapan

Ide sering kali datang di saat penulis tidak sedang dalam kondisi siap menulis. Misalnya, sedang dalam perjalanan dan tidak bisa membuka laptop atau tidak membawa buku catatan khusus. Di waktu lain, seorang penulis kadang merasa ‘kehabisan’ ide dan bingung apa yang harus ditulisnya.

Banyak penulis yang lekas menyimpan idenya dalam bentuk catatan khusus. Tak heran jika beberapa penulis selalu menyediakan buku khusus, ponsel, stiky note, atau apapun itu yang bisa digunakan untuk mencatat ide. Ide-ide itu sebagian bisa langsung dieksekusi menjadi tulisan. Jika tidak bisa, penulis masih bisa menggunakan catatannya untuk membantunya mengingat kembali ide itu.

Ada beberapa ide yang membutuhkan brainstorming. Misalnya, penulis merasa perlu mencari data pendukung untuk tulisannya. Bisa pula ia membutuhkan diskusi dengan orang yang dipercayainya.

Pada intinya, jangan sampai ide yang muncul itu terlewat begitu saja. Gunakan berbagai piranti pembantu jika dirimu merasa tidak cukup mampu mengingat banyak hal dalam waktu yang bersamaan.

  1. Tahap Penulisan

Beberapa penulis merasa nyaman jika membuat kerangka tulisan terlebih dahulu. Tujuannya agar ide yang sudah diperoleh itu dapat dijabarkan dengan baik. Jika ide dapat dijabarkan dengan baik, tujuan tulisan dapat sampai pada pembaca.

Meski demikian, ada juga penulis yang merasa nyaman langsung menulis tanpa menggunakan kerangka terlebih dahulu. Tidak ada yang benar dan salah dari kedua hal itu. Teman GaPa hanya perlu mencermati mana gaya yang lebih sesuai dengan karakteristik kalian.

Pertimbangkan kelebihan dan kekurangan kedua teknik tersebut ya.

  1. Tahap Pengendapan

Setelah tulisan jadi, penulis biasanya menarik jarak dari tulisan itu. Jeda yang diambil penulis beragam. Kadang hanya sejarak sepeminuman kopi. Kadang pula bisa berhari-hari. Untuk artikel, jeda itu tidak boleh lama karena karakteristik tulisan yang memang harus aktual. Meski aktual bisa dimaknai peristiwanya yang baru, bisa pula sudut pandang atau cara penulisannya yang baru.

Tujuan menarik jarak itu adalah agar penulis nantinya bisa melihat hasil menulisnya dengan lebih objektif. Pada saat selesai menulis, para penulis masih dalam fase euforia. Pada saat itulah kemampuan melihat dan mempertimbangkan kembali tulisannya menjadi sedikit terganggu.

Setelah jeda, para penulis perlu melakukan penyuntingan. Penyuntingan sebaiknya dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama pengecekan konten. Tahap kedua pengecekan kaidah kebahasaan.

  1. Tahap Perayaan

Tahap perayaan merupakan tahap paling menyenangkan. Beberapa penulis bisa merayakan dengan sederhana seperti bertepuk tangan (meski itu di tengah malam), minum kopi atau es krim, atau apa saja. Selain itu, penulis juga akan mencari ‘tempat’ yang sesuai dengan tulisan itu. Apakah dia cukup puas mempostingnya di beranda pribadi, grup kepenulisan, media massa, atau panitia lomba?

Perayaan ini perlu dilakukan sebagai bentuk apresiasi penulis pada karyanya. Lebih dari itu, juga menjadi bentuk apresiasinya pada dirinya sendiri.

Nah, Teman GaPa, apakah dirimu juga melalui keempat tahap itu? Atau adakah tahapan lain yang kamu lakukan pada saat menulis? Mari kita berbagi.

 

Penulis: Katarina Retno

5 Alasan Menulis di Media Massa

5 Alasan Menulis di Media Massa

Pengalaman menulis di media massa menjadi hal yang sangat menarik untuk penulis pemula seperti saya. Ada rasa senang ketika buah pemikiran itu bisa lolos kurasi dan dibaca luas. Apalagi jika media tersebut menyediakan honor untuk tulisan yang dimuat. Tapi apa iya hanya alasan honor saja yang mendorong seseorang rajin menulis dan mengirimkannya ke media?

Meski banyak penulis pemula yang ‘masih nyaman’ menulis di medsos atau di grup (terbuka atau tertutup) komunitas kepenulisan, ada banyak lainnya yang mulai memonetisasi tulisannya. Tidak hanya menulis di media massa, menulis di platform bisa jadi pilihan. Tiap pilihan itu tidak ada yang benar atau salah, sebab setiap orang mempunyai pertimbangannya masing-masing.

Bagi saya dan beberapa teman, menulis dan mengirimkan ke media massa memiliki alasan dan tantangan tersendiri. Hal-hal itulah yang membuat kami sejauh ini berusaha terus mempublikasikan tulisan di media massa, baik yang berhonor maupun yang belum berhonor.

  1. Integritas

Menulis itu bukan sekadar meluapkan emosi. Juga bukan sekadar turut andil suara dalam permasalahan yang sedang viral saat ini. Saya menyadari saat menulis para penulis mendedikasikan waktu untuk membaca dan menulis sebelum menghasilkan tulisan. Tentu itu bukan hal sederhana dan main-main. Mereka berusaha sungguh-sungguh dalam menuliskan gagasan. Agak terdengar terlalu serius ya? Tapi, menulis bagi sebagian orang memang bukan perkara sederhana. Di sana, ada integritas si penulisnya.

  1. Persebaran Ide atau Gagasan

Mempublikasikan tulisan juga bermakna menyebarkan ide atau gagasan penulisnya. Dengan berani mengunggah tulisan di sosial media termasuk juga di media massa dan platform kepenulisan, seseorang menyuarakan pendapatnya atau caranya berpikir dan menyikapi sebuah permasalahan. Media massa menjadi salah satu tempat yang akses persebarannya cukup cepat. Dan menulis di media massa berarti juga mempercepat persebaran ide tersebut.

  1. Uji Kemampuan Menulis

Kita tentu tahu bahwa tulisan yang bisa dimuat di media massa merupakan tulisan yang lolos kurasi redakturnya. Demikian juga di platform tertentu yang memberikan ketentuan semacam itu. Tentu saja meski bisa ‘ditebak-tebak’, ada banyak pertimbangan redaktur meloloskan tulisan. Bisa saja urgensi tulisan itu, kesamaan isi tulisan dengan visi misi media, termasuk juga selera redaktur.

Penulis yang mengirimkan tulisan di berbagai media massa pada dasarnya juga tengah melakukan uji kemampuan menulis. Sebab redaktur tidak hanya fokus pada kerapian tulisan, kepatuhan pada aturan kepenulisan saja, dan banyak hal lainnya yang dipertimbangkan.

  1. Latihan Mengakrabi Patah Hati

Tulisan yang lolos kurasi redaktur berarti mendapatkan kesempatan untuk dimuat di media tersebut. Sebaliknya, tulisan yang tidak lolos tentu dikembalikan kepada penulisnya dalam bentuk pemberitahuan penolakan naskah. Meski yaa tidak semua media melakukan konfirmasi pemuatan atau penolakan naskah.

Sebenarnya, patah hati terkait penolakan tulisan itu memang perlu diakrabi. Tulisan yang ditolak di suatu media bisa saja diterima di media yang lain. Oleh sebab itu, penulis yang tulisannya banyak dimuat di media sebenarnya adalah penulis yang akrab dengan patah hati penolakan tulisan sebelumnya. Dan tentu saja mereka bukan berhenti dan meratapi patah hati itu saja, tapi lekas move on dengan terus menulis dan mengirimkannya di media yang lain.

  1. Penghasilan dan Efek Samping

Rasa senang saat melihat tulisan dimuat di media juga makin paripurna saat mendapat notifikasi masuknya honor ke rekening. Meski tidak semua media saat ini menyediakan honor, penulis tetap mendapatkan efek samping dari pemuatan di media. Salah satunya, penulis yang produktif dapat diundang sebagai pembicara atau menjadi mentor penulisan. Honornya bisa saja lebih besar dari honor satu tulisan di media lho.

Tulisan-tulisan yang sudah dimuat di media massa pun masih bisa diterbitkan dalam bentuk buku. Hal itu bisa sebagai bentuk dokumentasi, baik untuk pribadi maupun bagi pembaca setiamu.

Nah, apakah kamu sudah rajin menulis dan mempublikasikan tulisanmu? Kamu mempublikasikannya di media sosial ataukah di media massa? Lalu, apa saja efek samping yang sudah kamu dapatkan?

 

Penulis: Katarina Retno

Copyright © 2026 Galuh Patria