#Seri Menulis Cerpen Ala Katarina Retno
Ketika saya memberi pelatihan menulis cerpen, biasanya para penulis pemula mengatakan kesulitan mencari ide. Mereka tidak tahu mesti menggarap tema yang cocok untuk mereka. Padahal kejadian sehari-hari sangatlah mungkin diangkat menjadi sebuah cerita.
Persoalannya adalah gengsi. Kita memang hidup di tempat segala hal dikotak-kotakkan. Orang menilai karya dengan tema A adalah karya sastra yang baik. Sebaliknya tema B bukan karya yang baik.
Misalnya, orang menilai tema-tema perdamaian dunia dianggap lebih baik atau lebih mulia dari tema rumah tangga. Padahal persoalan dunia bisa saja dimulai dari persoalan rumah tangga.
Di sisi lain penulis merasa ide mereka tidak orisinil. Memang harus diakui bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar baru di dunia ini. Segala yang kita pikir baru, bisa saja merupakan sesuatu yang lama bahkan usang bagi orang lain. Hal itu dikarenakan pemikiran manusia yang dinamis. Segala hal yang dialaminya, termasuk apa yang dibacanya, menambah pengetahuan. Nah, pengetahuan inilah yang kemudian membuat seseorang bisa saja lebih dulu memikirkan apa yang baru saja kita pikirkan.
Pada akhirnya, pemikiran dan kecemasan itu membuat para penulis pemula tidak jadi menulis. Mereka lalu sibuk galau dan mencari-cari ide. Ujung-ujungnya memaksakan diri menulis sesuatu yang di luar jangkauan nalarnya sendiri. Bisa ditebak akhirnya cerita itu memiliki banyak lubang yang mesti ditambal. Ya, kalau si penulis itu cukup sabar dan mau mengevaluasi tulisannya sih tidak masalah.
Harus diakui tidak banyak penulis pemula yang rendah hati. Mereka tidak melihat kembali tulisannya. Akhirnya mereka ya stagnan di tulisan yang begitu-begitu saja. Bahkan bisa jadi mengulang kesalahan yang sama.
Padahal tema hanyalah satu dari delapan unsur pembangun cerita. Kita bisa mengembangkan tokoh dan penokohan yang kuat. Kita bisa mengolah konflik dengan mencermati dan ‘mempermainkan’ plot cerita.
Tidak hanya itu, kita juga bisa bereksperimen dengan gaya bahasa. Itu tidak dimaksudkan dengan mencampuradukkan istilah-istilah tidak pada tempatnya secara brutal ya. Eksperimen tentu saja sangat diijinkan. Namun tetap patokannya adalah tulisan itu, dalam hal ini cerpen kita, memiliki nilai estetika dan kegunaan.
Lalu tema apa sih yang bisa diangkat dalam cerita pendek kita? Sebenarnya hal yang kita alami, pengamatan keseharian kita pun bisa menjadi bahan utama cerita kita. Satu yang pasti bahan bakar penulis itu adalah kegelisahan. Jadi, temukan kegelisahan Anda itu. Apa yang membuat Anda resah? Apa yang ingin Anda tanyakan dan cari tahu jawabannya? Lalu tanyakan pada diri Anda sendiri, jika itu dibuat kronologi ala Anda jadinya seperti apa?
Jika sewaktu-waktu ide menulis cerita itu terasa buntu, pancinglah dengan melakukan hal yang memang Anda sukai. Misalnya Anda suka makan. Coba pergilah membeli makanan yang Anda sukai itu. Cermati teksturnya. Nikmati rasanya. Coba hirup aromanya. Pastikan Anda menyerap itu semua secara perlahan.
Lalu pikirkanlah proses pembuatannya. Misalnya salah satu bahan diganti apakah rasanya akan lebih baik, lebih buruk atau sama saja? Nah, di titik semacam inilah Anda bisa mulai melakukan eksperimen dengan menghubungkannya dengan dramatisasi.
Ingat, pengalaman keseharian yang diceritakan saja hanya akan menjadi produk reportase yang mungkin malah tidak ada gunanya buat orang lain. Kalau ingin menjadikan pengalaman keseharian itu menjadi sebuah cerita pendek, tugas Anda adalah membubuhkan dramatisasi.
Selamat bereksperimen.[]
Katarina Retno Triwidayati. Mentor Cerpen Galuh Patria.



