Menulis memang merupakan perwujudan pemikiran dan cara pandang penulis terhadap persoalan yang dibahasnya. Untuk bisa menyampaikan gagasannya dengan baik, penulis perlu melalui beberapa tahap penulisan.
Berikut empat tahap dasar menulis yang bisa Teman GaPa ikuti.
- Tahap Persiapan
Ide sering kali datang di saat penulis tidak sedang dalam kondisi siap menulis. Misalnya, sedang dalam perjalanan dan tidak bisa membuka laptop atau tidak membawa buku catatan khusus. Di waktu lain, seorang penulis kadang merasa ‘kehabisan’ ide dan bingung apa yang harus ditulisnya.
Banyak penulis yang lekas menyimpan idenya dalam bentuk catatan khusus. Tak heran jika beberapa penulis selalu menyediakan buku khusus, ponsel, stiky note, atau apapun itu yang bisa digunakan untuk mencatat ide. Ide-ide itu sebagian bisa langsung dieksekusi menjadi tulisan. Jika tidak bisa, penulis masih bisa menggunakan catatannya untuk membantunya mengingat kembali ide itu.
Ada beberapa ide yang membutuhkan brainstorming. Misalnya, penulis merasa perlu mencari data pendukung untuk tulisannya. Bisa pula ia membutuhkan diskusi dengan orang yang dipercayainya.
Pada intinya, jangan sampai ide yang muncul itu terlewat begitu saja. Gunakan berbagai piranti pembantu jika dirimu merasa tidak cukup mampu mengingat banyak hal dalam waktu yang bersamaan.
- Tahap Penulisan
Beberapa penulis merasa nyaman jika membuat kerangka tulisan terlebih dahulu. Tujuannya agar ide yang sudah diperoleh itu dapat dijabarkan dengan baik. Jika ide dapat dijabarkan dengan baik, tujuan tulisan dapat sampai pada pembaca.
Meski demikian, ada juga penulis yang merasa nyaman langsung menulis tanpa menggunakan kerangka terlebih dahulu. Tidak ada yang benar dan salah dari kedua hal itu. Teman GaPa hanya perlu mencermati mana gaya yang lebih sesuai dengan karakteristik kalian.
Pertimbangkan kelebihan dan kekurangan kedua teknik tersebut ya.
- Tahap Pengendapan
Setelah tulisan jadi, penulis biasanya menarik jarak dari tulisan itu. Jeda yang diambil penulis beragam. Kadang hanya sejarak sepeminuman kopi. Kadang pula bisa berhari-hari. Untuk artikel, jeda itu tidak boleh lama karena karakteristik tulisan yang memang harus aktual. Meski aktual bisa dimaknai peristiwanya yang baru, bisa pula sudut pandang atau cara penulisannya yang baru.
Tujuan menarik jarak itu adalah agar penulis nantinya bisa melihat hasil menulisnya dengan lebih objektif. Pada saat selesai menulis, para penulis masih dalam fase euforia. Pada saat itulah kemampuan melihat dan mempertimbangkan kembali tulisannya menjadi sedikit terganggu.
Setelah jeda, para penulis perlu melakukan penyuntingan. Penyuntingan sebaiknya dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama pengecekan konten. Tahap kedua pengecekan kaidah kebahasaan.
- Tahap Perayaan
Tahap perayaan merupakan tahap paling menyenangkan. Beberapa penulis bisa merayakan dengan sederhana seperti bertepuk tangan (meski itu di tengah malam), minum kopi atau es krim, atau apa saja. Selain itu, penulis juga akan mencari ‘tempat’ yang sesuai dengan tulisan itu. Apakah dia cukup puas mempostingnya di beranda pribadi, grup kepenulisan, media massa, atau panitia lomba?
Perayaan ini perlu dilakukan sebagai bentuk apresiasi penulis pada karyanya. Lebih dari itu, juga menjadi bentuk apresiasinya pada dirinya sendiri.
Nah, Teman GaPa, apakah dirimu juga melalui keempat tahap itu? Atau adakah tahapan lain yang kamu lakukan pada saat menulis? Mari kita berbagi.
Penulis: Katarina Retno
