Review Buku: Lingkungan, Hasrat Manusia, dan Mas Pandu Menuliskannya

Review Buku: Lingkungan, Hasrat Manusia, dan Mas Pandu Menuliskannya

Perbuatan kita merusak lingkungan itulah bencana. Hal mengikutinya hanyalah reaksi alamiah. Alam netral, ia tak membalas. Ia hanya mencari keseimbangannya.

(Saputra, 2023: 5)

___

Turut terlibat dalam “kelahiran” buku pertama tentulah hal yang istimewa. Itu yang kurasakan saat naskah Mas Pandu masuk ke daftar pekerjaanku beberapa bulan lalu.

Tentu saja mencermati tulisan Mas Pandu itu ‘mudah’. Kalimatnya bernas, maksud tulisannya pun jelas. Kalaupun ada selip di sana dan di sini, jumlahnya sangat sedikit. Itu jelas karena jam terbang menulis Mas Pandu yang memang sudah sanggat tinggi.

Pemikiran dan kegelisahan Mas Pandu dituangkan dengan sangat apik di buku ini. Kupikir tulisan-tulisan itu memang hasil sejenak menarik diri saat melihat sesuatu yang tampak biasa dan lumrah. Ini menjadi catatan buat kita tentang cara mencari sudut pandang bahkan ide tulisan.

Buku ini terbagi menjadi tiga bagian: Dari Desa, Ke Kota, dan Untuk Kita. Dari judul tiap bagian saja sudah menunjukkan kejernihan alur berpikir penulisnya. Termasuk juga ajakannya untuk melihat persoalan lingkungan dan hubungannya dengan hasrat manusia. Hasilnya, tulisan dalam buku ini tidak lagi menjadi isu personal tapi juga menyajikan persoalan bersama secara holistik.

Tiap tulisan dalam buku ini pun memiliki benang merah yang bukan sekadar ada. Tapi memang sungguh menjadi roh dalam buku ini. Dan itu merupakan kritik yang disampaikan dengan sangat baik oleh penulisnya.

Mas Pandu melalui Tak Ada Bintang di Angkasa justru mengajak kita kembali melihat semesta dalam perspektif yang lebih luas. Kita diajak merefleksikan hidup yang hiruk pikuk. Dan pada saat yang sama merefleksikan hidup yang sepi, senyap, berjarak dan dingin.

Ya, manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan yang tak terbatas akhirnya hanya menemukan angkasa tanpa bintang. Seserakah itu hingga banyak hal terlewat, tak terawat, dan tak ada kenangan meski sebatas ingatan.

Buku ini menjadi satu buku yang mengajak kita sejenak berhenti. Juga mengajak kita menyadari diri dan semesta. Tak hanya sekadar patut dijadikan teman minum kopi, buku ini bisa dijadikan bahan pemantik diskusi tentang lingkungan dan diri kita sebagai bagian dari dunia yang luas.[]

Saputra, Pandu Wijaya. 2023. Tak Ada Bintang di Angkasa. Yogyakarta: Galuh Patria.
 
Penulis: Katarina Retno
Review Buku: Novel Cahaya dan Jelaga

Review Buku: Novel Cahaya dan Jelaga

Tuhan, apakah aku termasuk ke dalam mereka yang mendustakan nikmatmu?
(Lestyaningrum, 2023, p. 158)
___
Rasa bahagia menyeruak saat melihat buku ini. Terima kasih Mbak Tyas, saya boleh membersamai proses buku ini. Jika masih ada kekurangan di sana sini, mohon dimaafkan.
Ketika naskah ini masuk ke dalam daftar naskah yang mesti saya cermati, saya ragu. Fiksi sejarah menjadi genre yang masih “berat” untuk saya, untuk membaca apalagi menuliskannya. Jadi, saya sungguh salut pada para penulis fiksi sejarah, termasuk Mbak Tyas yang menulis Cahaya dan Jelaga ini.
Kisah berlatar peristiwa sejarah 1965-1966 ini mengangkat perjuangan sebuah keluarga. Kalau Anda berpikir kisahnya melulu pilu, maka Anda mesti membaca buku ini. Memang kesedihan dan kepiluan menjadi bahan bakar utama jalinan kisah di buku ini. Tapi setelah menyelesaikannya, Anda akan menemukan keutamaan lain yang bisa diambil dari tiap tokoh yang ada.
Rasa syukur dan penerimaan nasib yang terlihat tragis dipaparkan dengan baik. Saya pikir ini salah satu keteladanan yang ingin disampaikan Mbak Tyas. Dalam perspektif lain, ini bisa menjadi sindiran halus buat kita yang masih gagap bersyukur.
Pergantian POV yang dinamis membuat saya sedikit terseok-seok saat membacanya. Demikian juga dengan tokoh yang cukup banyak karena saya memang bukan pemerhati nama yang baik. Ya, ini subjektif sekali dan pembaca lain belum tentu mengkategorikannya sebagai kesulitan.
Di luar itu, saya menemukan banyak hal asyik. Pesan yang disampaikan melalui buku ini jelas dan mudah ditangkap. Karakter tokohnya kuat dan memiliki benang merah yang sama: pantang menyerah dan tulus.
Demikianlah, pada akhirnya, penilaian orang tak akan menjadi penentu kualitas seseorang. Namun, caranya memperlakukan hidup dan kemanusiaanlah yang akan menjadi titik akhir sebuah pencapaian: menjadi cahaya atau jelaga. Hahaha … Ini makna baru dari judul novel Mbak Tyas. Makna sebenarnya tentu bisa Anda temukan setelah membaca novel ini.
Proficiat buat novel perdananya Mbak Tyas. Kami menunggu karya-karya selanjutnya. Sukses selalu, terus bercahaya.
Lestyaningrum, Tyas Ary. 2023. Cahaya dan Jelaga. Yogyakarta: Galuh Patria.
Penulis: Katarina Retno
Copyright © 2026 Galuh Patria