Buku Pertama dan ‘Buruknya’ Itu

Buku Pertama dan ‘Buruknya’ Itu

Saya mulai belajar mempublikasikan tulisan saat kelas 4 SD. Itu pertama kalinya saya ikut lomba menulis esai. Tingkat kecamatan kalau tidak salah. Saya ingat betul, saat itu target tulisannya adalah dua lembar folio bergaris. Dua lembar lho ya, bukan dua halaman.

Waktu itu, saya sudah tahu apa saja yang harus saya tulis. Almarhum bapak saya mengajari membuat kerangka tulisan. Saya pun membuat poin-poin yang akan saya jabarkan. Masalahnya, di tengah-tengah saya ‘tersesat’. Rasanya tidak tahu apa lagi yang perlu saya tulis sementara panjang tulisan saya masih jauh dari target.

Akhirnya, saya menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran. Hasilnya tentu saja tidak nyambung. Sudah pasti saya kalah di lomba itu. Wkwkwk ….

Meski demikian, saya mengalami fase ketika saya merasa yakin tulisan saya bagus. Mungkin aslinya terlena dengan pujian orang-orang dekat saya yang bermaksud menyemangati. Itu sebabnya saya berani menerbitkan buku. Sebenarnya buku pertama saya memang digunakan untuk mendukung tesis saya waktu itu. Namun, kumcer saya yang pertama, itu benar-benar keberanian yang kini saya kagumi.

Beberapa waktu kemudian, saya merasa ada yang aneh dari tulisan-tulisan saya. Saya menyadari tidak punya referensi yang cukup untuk tulisan saya. Saya pun mulai mendisiplinkan diri membaca dan meng-ghibah secara postif. Saya juga ikut kelas-kelas menulis yang terjangkau. Saya makin rajin ikut lomba dan mengirim tulisan ke media untuk mengalami pedihnya jutaan ditolak dan kalah lomba. Saya ikut beberapa komunitas menulis, dan mencermati diskusi di WAG penulis beberapa media.

Interaksi dan belajar itu membuat saya kemudian menemukan banyak kesalahan di buku pertama saya. Kini, terasa mudah buat saya menemukan kesalahan ejaan yang mengganggu atau kesalahan logika cerita di buku fiksi saya yang pertama itu.

Namun, saya tidak merasa malu saat menemukan kesalahan itu. Mungkin itu disebabkan karena buku-buku pertama saya diterbitkan dengan sistem PoD (Print on Demand). Artinya, buku-buku itu terdistribusi secara terbatas, pada orang-orang yang saya harap bisa memaklumi kesalahan itu.

Beberapa penulis pemula yang saya kenal menyatakan mengalami rasa tak percaya diri. Mula-mula mereka tidak pede menulis. Lalu tidak pede mempublikasikannya, baik ke media, mengikutsertakannya ke lomba, atau menerbitkannya menjadi buku. Betapa menyedihkannya menjadi manusia yang serba tidak pede.

Padahal, saya salah satu manusia itu. Saya juga dirundung rasa tidak pede yang sama. Saat memulai menulis fiksi, saya takut dianggap begini dan begitu. Saya juga tidak pede membuat pernyataan yang mungkin sedikit berlawanan. Saat ditawari menerbitkan buku pun saya tidak pede menerimanya.

Ketika kemudian saya menulis novel, memenangkan kompetisi menulis dan diterbitkan, saya mulai lebih percaya diri. Novel-novel itu telah mengalami proses seleksi dan pembacaan yang ketat. Ada diskusi intens dengan editor yang handal. Andai masih ada kesalahan di sana, ya, itu memang manusiawi. Kita pun kadang bisa menemukan beberapa kesalahan, seperti sekadar typo yang tidak terlalu menganggu, pada buku-buku karya penulis besar, bukan?

Bedanya, saya dan banyak penulis yang lain bukannya memilih cuek. Kami merayakan pencapaian kami: hasil menulis kami dengan mempublikasikannya. Kami menggunakan perspektif lain dalam melihat proses menulis itu.

Pengalaman lomba menulis pertama saya membuat saya tahu bahwa saya butuh kerangka saat harus menulis dengan ‘napas panjang’. Misalnya, saat menulis novel/ novella, saya butuh membuat poin-poin penting sebab proses menulisnya lebih lama dari menulis esai atau cerpen.

Pengalaman menerbitkan kumcer yang pertama membuat saya tahu bahwa ada kesalahan ejaan yang perlu dicermati lagi. Saya jadi lebih selektif mencari editor dan memandang masukan dari editor dalam beragam perspektif. Saya tidak menerima mentah-mentah masukan editor, tapi juga tidak keras kepala.

Lebih dari itu saya belajar punya waktu mengendapkan tulisan. Bagaimana pun tulisan yang buru-buru dipublikasikan biasanya masih memiliki hal-hal yang menganggu dan perlu diperbaiki.

Saya juga belajar memilah komentar. Tidak semua kata-kata manis dan penuh kekaguman perlu diambil hati. Sama seperti hujatan dan olok-olok yang sampai di telinga kita.

Pada akhirnya, seburuk apapun hasil menulis yang pertama atau buku pertama, kita adalah penulis yang berkembang. Perjumpaan dengan beragam karakter di komunitas menulis, diskusi dengan rekan-rekan penulis dan editor, pengetahuan dan motivasi dari para mentor benar-benar membantu kita untuk bertumbuh.

Tak peduli seburuk apapun buku pertama, saya bisa menerima dengan gembira. Sama gembiranya ketika mendapat pengumuman tulisan saya masuk ke media atau dinyatakan sebagai pemenang dalam sebuah lomba.

Dan saya tahu, rekan-rekan penulis pemula sebetulnya tengah bertumbuh menjadi lebih baik. Jadi, hasil menulis pertama kita itu, sesungguhnya tak seburuk itu.[]

Penulis: Katarina Retno Triwidayati

5 Keraguan Menerbitkan Buku Pertama dengan Sistem PoD

5 Keraguan Menerbitkan Buku Pertama dengan Sistem PoD

Salah satu sistem penerbitan buku yang bisa digunakan oleh para penulis pemula adalah PoD (Print on Demand). Namun, beberapa penulis kerap ragu saat ingin menerbitkan buku pertama, terutama dengan menggunakan sistem PoD ini. Berikut lima keraguan menerbitkan buku pertama dengan sistem PoD.

  1. Adanya Anggapan Tulisan Pertama Tidak Sempurna

Pada dasarnya memang tidak ada hal yang sempurna. Kita bisa saja menemukan celah kesalahan atau keburukan. Demikian halnya dengan tulisan.

Hasil menulis, terutama bakal buku pertama, kerap dianggap hasil yang tidak sempurna. Tulisan di buku pertama biasanya berupa tulisan idealis dan mungkin saja masih memiliki banyak kesalahan, baik secara isi maupun secara kebahasaan.

Selain menyadari adanya ketidaksempurnaan, kita bisa memilih penerbit yang menyediakan editor yang handal. Diskusi dengan editor akan membantu kita menemukan kesalahan yang mungkin masih luput. Editor bisa menjadi pembaca pertama yang memberi masukan dan kesan yang komprehensif terhadap bakal buku pertama tersebut.

  1. Nama yang Tidak ‘Menjual’

Beberapa rekan penulis pemula merasa bahwa namanya tidak ‘menjual’. Ia merasa tidak banyak dikenal. Dengan demikian, mereka ragu menerbitkan buku pertama.

Memang harus diakui, nama penulis memberi dampak pada penjualan buku. Namun, penulis besar pun dimulai sebagai penulis pemula.

Oleh sebab itu, kita tidak mungkin menjadi penulis besar jika tidak memulai memperkenalkan tulisan kita. Sosial media bisa menjadi sarana pertama yang kita gunakan untuk mempublikasikan hasil menulis kita. Apabila tulisan kita sering dimuat di media, rajin-rajinlah membagikannya di sosial media. Jangan lupa untuk di-setting publik agar jangkauannya lebih luas.

  1. Genre Tulisan dan Tema ‘yang Biasa’

Ada pula penulis pemula yang merasa bahwa genre tulisan dan tema yang diangkatnya begitu biasa atau umum. Tulisan sejenis rasanya ada begitu banyak. Lalu, apakah tulisan itu jika diterbitkan akan tetap laku?

Sebenarnya, tema adalah salah satu unsur pembangun cerita. Kita bisa mengelola unsur lain sebagai pembeda tulisan kita dengan tulisan dari penulis lain.

Bereksperimen menjadi salah satu kunci. Meski demikian ada penulis yang merasa nyaman mengikuti pakem yang ada atau tidak berani bereksperimen. Dan mereka juga bisa sukses kok.

Jadi, tak ada pilihan lain, selain berani mencoba melemparkan tulisan kita pada publik, bukan? Bukankah kritik dan saran sama berharganya dengan pujian yang kita terima?

  1. Adanya Kepercayaan Orang Membeli Buku karena Ingin Belajar dari Penulis Bagus

Orang membeli buku bisa disebabkan banyak hal. Salah satunya adalah buku itu ditulis oleh penulis yang bagus.

Orang yang membeli dengan alasan tersebut bisa dipastikan ingin mendapatkan kualitas. Selain itu, dia mungkin saja ingin mempelajari sesuatu dari buku tersebut. Lalu bagaimana dengan penulis yang belum bagus atau penulis pemula?

Tidak bisa dimungkiri, lingkar pertemanan dan cara berinteraksi menjadi salah satu kunci keberhasilan penerbitan buku dengan sistem PoD. Sebab, teman-teman kita ikut membeli buku bukan karena nama kita tertera sebagai penulis. Namun, karena kita adalah temannya. Dan membeli buku karya teman merupakan bentuk apresiasi dan dukungan dari sahabat.

  1. Takut Tidak Laku

Duh, nerbitin buku bakal laku nggak ya? Bagaimana jika biaya produksi lebih tinggi? Rugi dong?

Pertanyaan-pertanyaan itu pasti mengganggu pikiran para penulis pemula. Nasib buku yang terjual memang tergantung seberapa banyak orang yang ikut pre order buku kita. Pada PoD, buku dicetak sesuai dengan jumlah pesanan yang dibuat. Oleh sebab itu, carilah penerbit yang menawarkan paket-paket penerbitan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhanmu.

Jangan ragu mempromosikan calon bukumu. Ada penerbit yang memberi tawaran PoD hingga berupa promosi buku. Bekerja sama dengan penerbit, kita juga bisa membuat kegiatan bersama seperti bedah buku atau bincang buku.

Dengan jalur pertemanan juga, kita bisa minta tolong orang yang memiliki followers banyak untuk meng-endorse buku kita. Bisa juga beri tawaran spesial, misalnya buku lengkap dengan hadiah kecil dan tanda tangan penulisnya.

Nah, gimana Teman GaPa? Siap untuk mendobrak rasa ragumu untuk menerbitkan buku pertama? Galuh Patria siap menjadi tempatmu menerbitkan buku pertama lho. Ada paket penerbitan dan promosi yang menyertainya. Kontak Kak GaPa untuk informasi lebih lanjut ya. Ganbatte![]

Penulis: Katarina Retno Triwidayati

Copyright © 2026 Galuh Patria