Pengalaman menulis di media massa menjadi hal yang sangat menarik untuk penulis pemula seperti saya. Ada rasa senang ketika buah pemikiran itu bisa lolos kurasi dan dibaca luas. Apalagi jika media tersebut menyediakan honor untuk tulisan yang dimuat. Tapi apa iya hanya alasan honor saja yang mendorong seseorang rajin menulis dan mengirimkannya ke media?
Meski banyak penulis pemula yang ‘masih nyaman’ menulis di medsos atau di grup (terbuka atau tertutup) komunitas kepenulisan, ada banyak lainnya yang mulai memonetisasi tulisannya. Tidak hanya menulis di media massa, menulis di platform bisa jadi pilihan. Tiap pilihan itu tidak ada yang benar atau salah, sebab setiap orang mempunyai pertimbangannya masing-masing.
Bagi saya dan beberapa teman, menulis dan mengirimkan ke media massa memiliki alasan dan tantangan tersendiri. Hal-hal itulah yang membuat kami sejauh ini berusaha terus mempublikasikan tulisan di media massa, baik yang berhonor maupun yang belum berhonor.
- Integritas
Menulis itu bukan sekadar meluapkan emosi. Juga bukan sekadar turut andil suara dalam permasalahan yang sedang viral saat ini. Saya menyadari saat menulis para penulis mendedikasikan waktu untuk membaca dan menulis sebelum menghasilkan tulisan. Tentu itu bukan hal sederhana dan main-main. Mereka berusaha sungguh-sungguh dalam menuliskan gagasan. Agak terdengar terlalu serius ya? Tapi, menulis bagi sebagian orang memang bukan perkara sederhana. Di sana, ada integritas si penulisnya.
- Persebaran Ide atau Gagasan
Mempublikasikan tulisan juga bermakna menyebarkan ide atau gagasan penulisnya. Dengan berani mengunggah tulisan di sosial media termasuk juga di media massa dan platform kepenulisan, seseorang menyuarakan pendapatnya atau caranya berpikir dan menyikapi sebuah permasalahan. Media massa menjadi salah satu tempat yang akses persebarannya cukup cepat. Dan menulis di media massa berarti juga mempercepat persebaran ide tersebut.
- Uji Kemampuan Menulis
Kita tentu tahu bahwa tulisan yang bisa dimuat di media massa merupakan tulisan yang lolos kurasi redakturnya. Demikian juga di platform tertentu yang memberikan ketentuan semacam itu. Tentu saja meski bisa ‘ditebak-tebak’, ada banyak pertimbangan redaktur meloloskan tulisan. Bisa saja urgensi tulisan itu, kesamaan isi tulisan dengan visi misi media, termasuk juga selera redaktur.
Penulis yang mengirimkan tulisan di berbagai media massa pada dasarnya juga tengah melakukan uji kemampuan menulis. Sebab redaktur tidak hanya fokus pada kerapian tulisan, kepatuhan pada aturan kepenulisan saja, dan banyak hal lainnya yang dipertimbangkan.
- Latihan Mengakrabi Patah Hati
Tulisan yang lolos kurasi redaktur berarti mendapatkan kesempatan untuk dimuat di media tersebut. Sebaliknya, tulisan yang tidak lolos tentu dikembalikan kepada penulisnya dalam bentuk pemberitahuan penolakan naskah. Meski yaa tidak semua media melakukan konfirmasi pemuatan atau penolakan naskah.
Sebenarnya, patah hati terkait penolakan tulisan itu memang perlu diakrabi. Tulisan yang ditolak di suatu media bisa saja diterima di media yang lain. Oleh sebab itu, penulis yang tulisannya banyak dimuat di media sebenarnya adalah penulis yang akrab dengan patah hati penolakan tulisan sebelumnya. Dan tentu saja mereka bukan berhenti dan meratapi patah hati itu saja, tapi lekas move on dengan terus menulis dan mengirimkannya di media yang lain.
- Penghasilan dan Efek Samping
Rasa senang saat melihat tulisan dimuat di media juga makin paripurna saat mendapat notifikasi masuknya honor ke rekening. Meski tidak semua media saat ini menyediakan honor, penulis tetap mendapatkan efek samping dari pemuatan di media. Salah satunya, penulis yang produktif dapat diundang sebagai pembicara atau menjadi mentor penulisan. Honornya bisa saja lebih besar dari honor satu tulisan di media lho.
Tulisan-tulisan yang sudah dimuat di media massa pun masih bisa diterbitkan dalam bentuk buku. Hal itu bisa sebagai bentuk dokumentasi, baik untuk pribadi maupun bagi pembaca setiamu.
Nah, apakah kamu sudah rajin menulis dan mempublikasikan tulisanmu? Kamu mempublikasikannya di media sosial ataukah di media massa? Lalu, apa saja efek samping yang sudah kamu dapatkan?
Penulis: Katarina Retno
