Rekan Lama Berjumpa Lagi
Fura seorang gadis tua bertangan tunggal bekerja sebagai pengawal majikan baru seorang wanita bangsawan Mannamei, dia menaruh dendam kesumat terhadap Ruto, seorang bandar sekaligus rekan dagang majikan, yang telah menjatuhkan martabat majikannya di depan umum, tetapi akhirnya memilih berdamai atas desakan oleh Maec, si pelayan pria yang ikut serta bersama Fura memburu Ruto di Pelabuhan Utara.
Fura paham bahwa dirinya kini adalah seorang hamba yang melayani Mannamei sebagai pengawal pribadi, dan dia rutin melakoni tugasnya dari pagi hingga menjelang malam, termasuk bila dibutuhkan dalam situasi penting. Oleh karena itulah, kedatangan majikan pada pagi buta ini seperti sebuah pertanda akan ada pekerjaan penting dan mendesak menantinya.
Fura tidak habis pikir bahwa ajakan sarapan dari Mannamei akan mempertemukan garis takdir dengan seorang lelaki preman Ruto, di dalam kedai. Puncaknya terjadi pada siang hari, ketika dia bersama majikan berjumpa lagi dengan Ruto. Fura tidak dapat memahami pertengkaran mulut antara Mannamei dengan Ruto, tetapi intuisinya paham bahwa Ruto telah mengolok-olok harga diri Mannamei di depan khalayak.
Seperginya Ruto yang dibiarkan pergi saja oleh titah Mannamei, Fura bersikeras bahwa dia akan balas dendam menghabisi Ruto demi memulihkan harga diri Mannamei. Sang majikan pun mempersilakannya, dengan segala akibat ditanggung sendiri.
Maka, berangkatlah Fura ke Pelabuhan Utara, tempatnya Ruto diketahui bekerja sebagai Bandar Besar. Perjalanan balas dendamnya dtemani oleh seorang pelayan pria Maec, yang sempat Fura tolak ketika mereka berjumpa pertama kali.
Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui: