5 Alasan Tidak Pede Menulis

5 Alasan Tidak Pede Menulis

Beberapa orang sering merasa tidak percaya diri untuk menulis sesuatu. Padahal orang itu mungkin harus menulis sesuatu, misalnya karena tuntutan pekerjaan atau memang kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Nah, Teman GaPa, ternyata ada beberapa alasan yang membuat seseorang tidak percaya diri/ pede untuk menulis. Berikut lima alasan yang sering dikemukakan para penulis pemula.

  1. Merasa apa yang ditulisnya itu biasa

Seseorang mungkin berpikir bahwa hal yang akan ditulisnya itu merupakan hal yang sangat biasa. Di kelas menulis divisi Pelatihan Galuh Patria, mentor kami menemukan alasan ini menjadi alasan yang paling sering diajukan peserta. Memang sih, ada anggapan bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu yang benar-benar baru. Tapi bukan berarti semua hal yang akan kita tulis itu adalah hal yang benar-benar biasa.

Nah, supaya tulisan yang kita hasilkan itu nggak terjebak pada tulisan biasa, Teman GaPa bisa mencoba menambah referensi dan memperkuat pengamatan. Bisa juga melakukan brainstorming dengan teman dekat. Tujuannya tentu untuk memperkaya perspektif kita. Hasilnya, tulisan kita pasti akan berbeda.

  1. Hasil menulis/ tulisannya tidak ada gunanya atau takut salah

Alasan kedua yang juga umum diajukan adalah adanya perasaan atau dugaan bahwa tulisan yang akan dihasilkan itu tidak ada gunanya. Ada juga yang sebelum menulis sudah punya perasaan atau ketakutan bahwa tulisan yang dihasilkan nantinya memiliki kesalahan.

Gimana tuh caranya menghindarinya? Teman GaPa perlu melakukan riset. Riset di sini sih nggak harus riset yang ribet ya. Mencari tulisan dengan tema sejenis akan membuat Teman GaPa tahu bahwa tulisan itu benar atau salah. Di sisi lain, tulisan yang berdasarkan fakta/ kejadian faktual dan didasarkan teori yang mendukung juga akan terhindar dari kesalahan tersebut.

Seandainya tetap terjadi kesalahan atau perbedaan perspektif, Teman GaPa memang mesti siap untuk menerima kritik dan saran. Sebab, dunia ini ‘kan dinamis, Teman GaPa. Apa yang menjadi kebenaran di saat ini, belum tentu menjadi kebenaran di waktu yang lain. Yha, kaan?!

Oh ya, dengan banyak membaca tulisan bertopik sejenis, Teman GaPa akan tahu bahwa ide tulisan itu memang diperlukan atau tidak. Mikirnya gini deh, kalau sesuatu itu tidak penting, pastinya tidak akan dibicarakan terus menerus, ‘kan? Yuk, semangat mencermati tulisan lain dengan tema/ topik sejenis yang akan Teman GaPa tulis.

  1. Tidak fokus

Menulis memang sering membutuhkan waktu khusus. Teman GaPa perlu meluangkan waktu dan mempersiapkan diri dengan baik. Sebab, saat tertentu, Teman GaPa bisa saja jadi tidak fokus saat menulis. Misalnya, saat riset tulisan terdahulu, eh malah jadinya scroll sosmed deh. Akhirnya, waktu terbuang karena tidak fokus.

Trus gimana caranya supaya Teman GaPa bisa lebih fokus saat menulis? Teman GaPa bisa membuat kebiasaan kerja yang positif. Misalnya, dalam waktu sekian jam, Teman GaPa hanya fokus menulis dan menjauhkan ponsel. Cara lain tinggal disesuaikan dengan kebiasaan Teman GaPa ya, misalnya mendengarkan musik sambil menulis.

  1. Kebiasaan menunda-nunda

Hmmm, ini mah memang kebiasaan yang buruk ya, Teman GaPa. Kadang kita dengan sengaja atau tidak sengaja menunda menyelesaikan sesuatu. Eh, tahu-tahu kerjaan menumpuk dan kita jadi stress sendiri deh.

Kebiasaan menunda-nunda juga nggak bagus untuk menulis lho, Teman GaPa. Kita bisa aja jadi lupa apa saja yang mau dijabarkan dalam tulisan. Akhirnya kita mengalami masa ketika kita bingung menghubungkan tulisan yang belum jadi dengan apa yang harus dituliskan.

Nah, Teman GaPa bisa mengantisipasi kebiasaan ini dengan belajar mendisiplinkan diri ya. Buat daftar kerjaan dan tenggat waktunya. Jangan lupa tulis kerangka tulisan jika Teman GaPa untuk mengantisipasi saat menulis harus terjeda. Tujuannya agar Teman GaPa lebih mudah mengingat kembali hal yang akan dijabarkan dalam tulisan.

  1. Merasa tidak bisa

Beberapa orang merasa tidak bisa menulis. Padahal rasanya seperti punya banyak ide, merasa mau untuk menulis, tapi … ternyata tidak bisa. Waduuuh.

Hmmm, memang tidak bisa dimungkiri bahwa menulis itu tentang keterampilan. Artinya, Teman GaPa memang harus berlatih terus menerus agar bisa terampil menulis.

Luangkan waktu untuk membaca untuk memperkaya referensi Teman GaPa. Jangan lupa luangkan waktu khusus juga untuk menulis. Kadang, kita memang tidak bisa langsung menyelesaikan sebuah tulisan kan? Tapi, setidaknya, dengan rutin menulis, Teman GaPa akan semakin terlatih.

Nah, gimana Teman GaPa? Siap untuk mendobrak rasa tidak pede-mu dalam menulis?

Galuh Patria telah menerbitkan banyak buku fiksi dan non fiksi lho. Teman GaPa bisa memanfaatkannya untuk memperkaya pengetahuan Teman GaPa. Jangan lupa setelah itu luangkan waktu untuk menulis yaaa. Kalau tulisannya sudah jadi dan ingin diterbitkan jadi buku, Teman GaPa bisa kontak Kak GaPa untuk proses penerbitan di Galuh Patria. Ciayooo![]

Penulis: Katarina Retno Triwidayati

5 Alasan Menulis di Media Massa

5 Alasan Menulis di Media Massa

Pengalaman menulis di media massa menjadi hal yang sangat menarik untuk penulis pemula seperti saya. Ada rasa senang ketika buah pemikiran itu bisa lolos kurasi dan dibaca luas. Apalagi jika media tersebut menyediakan honor untuk tulisan yang dimuat. Tapi apa iya hanya alasan honor saja yang mendorong seseorang rajin menulis dan mengirimkannya ke media?

Meski banyak penulis pemula yang ‘masih nyaman’ menulis di medsos atau di grup (terbuka atau tertutup) komunitas kepenulisan, ada banyak lainnya yang mulai memonetisasi tulisannya. Tidak hanya menulis di media massa, menulis di platform bisa jadi pilihan. Tiap pilihan itu tidak ada yang benar atau salah, sebab setiap orang mempunyai pertimbangannya masing-masing.

Bagi saya dan beberapa teman, menulis dan mengirimkan ke media massa memiliki alasan dan tantangan tersendiri. Hal-hal itulah yang membuat kami sejauh ini berusaha terus mempublikasikan tulisan di media massa, baik yang berhonor maupun yang belum berhonor.

  1. Integritas

Menulis itu bukan sekadar meluapkan emosi. Juga bukan sekadar turut andil suara dalam permasalahan yang sedang viral saat ini. Saya menyadari saat menulis para penulis mendedikasikan waktu untuk membaca dan menulis sebelum menghasilkan tulisan. Tentu itu bukan hal sederhana dan main-main. Mereka berusaha sungguh-sungguh dalam menuliskan gagasan. Agak terdengar terlalu serius ya? Tapi, menulis bagi sebagian orang memang bukan perkara sederhana. Di sana, ada integritas si penulisnya.

  1. Persebaran Ide atau Gagasan

Mempublikasikan tulisan juga bermakna menyebarkan ide atau gagasan penulisnya. Dengan berani mengunggah tulisan di sosial media termasuk juga di media massa dan platform kepenulisan, seseorang menyuarakan pendapatnya atau caranya berpikir dan menyikapi sebuah permasalahan. Media massa menjadi salah satu tempat yang akses persebarannya cukup cepat. Dan menulis di media massa berarti juga mempercepat persebaran ide tersebut.

  1. Uji Kemampuan Menulis

Kita tentu tahu bahwa tulisan yang bisa dimuat di media massa merupakan tulisan yang lolos kurasi redakturnya. Demikian juga di platform tertentu yang memberikan ketentuan semacam itu. Tentu saja meski bisa ‘ditebak-tebak’, ada banyak pertimbangan redaktur meloloskan tulisan. Bisa saja urgensi tulisan itu, kesamaan isi tulisan dengan visi misi media, termasuk juga selera redaktur.

Penulis yang mengirimkan tulisan di berbagai media massa pada dasarnya juga tengah melakukan uji kemampuan menulis. Sebab redaktur tidak hanya fokus pada kerapian tulisan, kepatuhan pada aturan kepenulisan saja, dan banyak hal lainnya yang dipertimbangkan.

  1. Latihan Mengakrabi Patah Hati

Tulisan yang lolos kurasi redaktur berarti mendapatkan kesempatan untuk dimuat di media tersebut. Sebaliknya, tulisan yang tidak lolos tentu dikembalikan kepada penulisnya dalam bentuk pemberitahuan penolakan naskah. Meski yaa tidak semua media melakukan konfirmasi pemuatan atau penolakan naskah.

Sebenarnya, patah hati terkait penolakan tulisan itu memang perlu diakrabi. Tulisan yang ditolak di suatu media bisa saja diterima di media yang lain. Oleh sebab itu, penulis yang tulisannya banyak dimuat di media sebenarnya adalah penulis yang akrab dengan patah hati penolakan tulisan sebelumnya. Dan tentu saja mereka bukan berhenti dan meratapi patah hati itu saja, tapi lekas move on dengan terus menulis dan mengirimkannya di media yang lain.

  1. Penghasilan dan Efek Samping

Rasa senang saat melihat tulisan dimuat di media juga makin paripurna saat mendapat notifikasi masuknya honor ke rekening. Meski tidak semua media saat ini menyediakan honor, penulis tetap mendapatkan efek samping dari pemuatan di media. Salah satunya, penulis yang produktif dapat diundang sebagai pembicara atau menjadi mentor penulisan. Honornya bisa saja lebih besar dari honor satu tulisan di media lho.

Tulisan-tulisan yang sudah dimuat di media massa pun masih bisa diterbitkan dalam bentuk buku. Hal itu bisa sebagai bentuk dokumentasi, baik untuk pribadi maupun bagi pembaca setiamu.

Nah, apakah kamu sudah rajin menulis dan mempublikasikan tulisanmu? Kamu mempublikasikannya di media sosial ataukah di media massa? Lalu, apa saja efek samping yang sudah kamu dapatkan?

 

Penulis: Katarina Retno

Copyright © 2026 Galuh Patria