Dapatkan Kita Menghentikan Genosida?

Dapatkan Kita Menghentikan Genosida?

Dapatkan Kita Menghentikan Genosida? Media Sosial, Tumbangnya Propaganda Media Barat, dan Solidaritas Global untuk Palestina

Penulis: Durrotul Mas’udah

 

Agresi brutal Israel terhadap Gaza, Palestina telah menjadi peristiwa paling menyita perhatian dunia menuju berakhirnya 2023. Agresi ini dipicu oleh sebuah peristiwa yang terjadi pada 7 Oktober 2023, di mana Hamas, kelompok revolusi kemerdekaan Palestina, melakukan serangan terhadap Israel dan menyandera 200 warga Israel. Pihak Israel menyatakan bahwa agresi ini adalah bentuk pertahanan diri (self-defense) dan sebuah gerakan untuk memerangi Hamas. Pernyataan ini pun didukung pemimpin negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Uni Eropa yang menyatakan bahwa Israel memiliki hak untuk pertahanan diri.

Namun sebaliknya, banyak pengamat, organisasi internasional termasuk PBB, aktivis kemanusiaan, media, dan pada akhirnya juga masyarakat sipil di berbagai belahan dunia, meyakini bahwa agresi yang dilakukan Israel itu bukanlah sebuah pertahanan diri, melainkan sebuah bentuk genosida pada bangsa Palestina. Ironisnya, pernyataan dari pemimpin-pemimpin Israel pun justru dengan jelas menggambarkan bahwa apa yang mereka lakukan terhadap warga Palestina di Gaza adalah genosida.

 

“Terus bersuara membela Palestina baik melalui media sosial atau aksi nyata, mungkin adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan sebagai usaha menghentikan genosida dan menunjukkan pembelaan terhadap kemanusiaan.”

 

Preview artikel ini dapat dibaca di sini

Citation:

Mas’udah, Durrotul. “Dapatkan Kita Menghentikan Genosida? Media Sosial, Tumbangnya Propaganda Media Barat, dan Solidaritas Global untuk Palestina“ dalam Kunandar, et. al. Digital Disturbia: Hiruk-Pikuk Digitalisasi Komunikasi. Yogyakarta: Galuh Patria. pp 83-102.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Media dan Kehidupan Beragama Milenial

Media dan Kehidupan Beragama Milenial

Media dan Kehidupan Beragama Milenial: Tantangan Keberagamaan Manusia Modern

Penulis: Amar Ahmad & Nurhidaya

 

Milenial dan Teknologi Komunikasi

Media, tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat, khususnya generasi milenial. Dari media mereka memperoleh sejumlah informasi. Dari media pula mereka dapat mempelajari beragam pengetahuan, mengadopsi sejumlah skill (keterampilan) sampai kepada belajar tentang agama yang sebahagian besar mereka masih minim keilmuan dan kesempatan untuk memperoleh langsung dari para Profesor, Guru, tokoh agama, dan sejumlah penyiar agama lainnya di berbagai agama yang ada.

Berdasarkan data dari hasil riset We Are Social, sebuah lembaga riset media sosial dari Inggris bersama Hootsuite yang dirilis Januari 2023 menunjukkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia sudah mencapai 167 juta orang dari total populasi Indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa sekitar 60,4% penduduk Indonesia menggunakan media sosial dalam aktivitas interaksi mereka dengan media. Penggunaan internet masih mendominasi sekitar 212,9 juta penduduk menggunakan internet. Sementara penggunaan media sosial melalui Handphone sebesar 191 juta atau sekitar 98.3 persen dari populasi (katadata.com, 4/9/2023). Data ini menunjukkan betapa besarnya penggunaan media sosial dikalangan masyarakat.

 

“Pemahaman literasi media yang baik terkait mekanisme yang tepat dalam menggunakan media secara umum, termasuk media sosial adalah pemahaman yang komprehensif dan berkesinambungan.”

 

Preview artikel ini dapat dibaca di sini

Citation:

Ahmad, Amar dan Nurhidaya. “Media dan Kehidupan Beragama Milenial: Tantangan Keberagamaan Manusia Modern“ dalam Kunandar, et. al. Digital Disturbia: Hiruk-Pikuk Digitalisasi Komunikasi. Yogyakarta: Galuh Patria. pp 57-82.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Ketika Ultraman Ikut Berkampanye

Ketika Ultraman Ikut Berkampanye

Ketika Ultraman Ikut Berkampanye: Visual Representation dalam Komunikasi Politik pada Kampanye Digital di Tiktok

Penulis: Ihya Ulumuddin

Transformasi Kampanye Politik

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi mengalami perubahan yang lebih luas. Hal ini terjadi dalam gaya kampanye digital pada organisasi politik maupun individunya. Dapat dikatakan bahwa umumnya, pada calon legislatif tersebut mempromosikan gaya komunikasi yang terjadi langsung dan lebih sempit dengan para pemilihnya. Namun, mereka juga menumbuhkan peluang baru dan lebih partisipatif dalam melibatkan masyarakat dalam pemilihan umum. Penelitian ini mencoba menelusuri penggunaan Media Sosial khususnya TikTok dalam aktivitas kampanye digital secara masif dan menilai seberapa jauh penemuan yang mendukung gagasan bahwa perubahan tersebut sedang berjalan.

Masih dini untuk menarik kesimpulan bahwa pengaruh internet mengalami perubahan dalam arena kampanye atau bahkan wilayah lain dari kehidupan politik kontemporer. Terdapat banyak bukti empiris tentang topik ini yang menimbulkan tumbuhnya gagasan yang berarti agar bisa ditarik dalam sebuah pertanyaan-pertanyaan yang sedang berkembang.

Studi di Amerika Serikat, terutama studi dalam masuknya teknologi web 2.0, tampaknya menimbulkan beberapa dukungan dan gagasan tentang perubahan terutama dalam pergeseran menuju pendekatan yang lebih interaktif. Studi tersebut menjadikan partai dan kandidat sangat berhati-hati dan konservatif dalam kampanye media baru mereka.

“Media-media digital seperti website, instagram bahkan TikTok menjadi platform terbaru dalam upaya membangun dan memperluas simpati para pemilih dalam mewujudkan potensi interaktif dan partisipatif yang dibawa media baru tersebut.”

Preview artikel ini dapat dibaca di sini

Citation:

Ulumuddin, Ihya. “Ketika Ultraman Ikut Berkampanye: Visual Representation dalam Komunikasi Politik pada Kampanye Digital di Tiktok“ dalam Kunandar, et. al. Digital Disturbia: Hiruk-Pikuk Digitalisasi Komunikasi. Yogyakarta: Galuh Patria. pp 115-135.

 

Tertarik untuk membeli? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Perang Labeling di Media Sosial dan Penajaman Konflik Israel-Palestina

Perang Labeling di Media Sosial dan Penajaman Konflik Israel-Palestina

Penulis:  Alip Yog Kunandar

Labeling dalam Konflik dan Propaganda

Dalam teori-teori sosial, kelompok-kelompok sosial dari lingkungan terkecil hingga institusi formal seperti negara, menciptakan aturan-aturan agar tercipta ketertiban sosial. Akan tetapi, perbedaan sikap dan pandangan adalah hal yang akan selalu ada dalam konteks sosial-kemasyarakatan. Selalu saja ada orang atau sekelompok orang yang dianggap melanggar atau menyimpang dari aturan-aturan tersebut.

Bagi mereka yang melanggar atau menyimpang akan diberikan sanksi atas perbuatannya itu. Sanksi itu bisa berupa hukuman tertentu baik berupa tindakan maupun –setidaknya—penilaian. Penilaian seperti ‘baik’ atau sebaliknya ‘buruk’ adalah contoh dari hukuman itu. ‘Baik’ akan disematkan pada perilaku yang sejalan dengan aturan, dan ‘jahat’ akan diberikan kepada yang melanggar. Orang yang perilakunya sejalan dengan aturan akan diberi julukan ‘orang baik’ dan sebaliknya yang melanggar akan diberi julukan lain seperti ‘orang yang tidak baik,’ ‘orang jahat,’ dan sebagainya. Penilaian atas pandangan, sikap, dan perilaku inilah yang kemudian disebut dengan labeling (Becker, 1963, dalam Thompson, 2014).

“Labeling akan terjadi dalam situasi apapun, baik dalam situasi damai, apalagi ketika terjadi konflik dalam masyarakat.”

Preview artikel ini dapat dibaca di sini

Citation:

Kunandar, Alip. 2024. “Perang Labeling di Media Sosial dan Penajaman Konflik Israel-Palestina” dalam Kunandar, et. al. Digital Disturbia: Hiruk-Pikuk Digitalisasi Komunikasi. Yogyakarta: Galuh Patria. pp 11-53.

 

Tertarik untuk membaca secara lengkap? Buku ini bisa didapatkan melalui:

 

Review Buku: Lingkungan, Hasrat Manusia, dan Mas Pandu Menuliskannya

Review Buku: Lingkungan, Hasrat Manusia, dan Mas Pandu Menuliskannya

Perbuatan kita merusak lingkungan itulah bencana. Hal mengikutinya hanyalah reaksi alamiah. Alam netral, ia tak membalas. Ia hanya mencari keseimbangannya.

(Saputra, 2023: 5)

___

Turut terlibat dalam “kelahiran” buku pertama tentulah hal yang istimewa. Itu yang kurasakan saat naskah Mas Pandu masuk ke daftar pekerjaanku beberapa bulan lalu.

Tentu saja mencermati tulisan Mas Pandu itu ‘mudah’. Kalimatnya bernas, maksud tulisannya pun jelas. Kalaupun ada selip di sana dan di sini, jumlahnya sangat sedikit. Itu jelas karena jam terbang menulis Mas Pandu yang memang sudah sanggat tinggi.

Pemikiran dan kegelisahan Mas Pandu dituangkan dengan sangat apik di buku ini. Kupikir tulisan-tulisan itu memang hasil sejenak menarik diri saat melihat sesuatu yang tampak biasa dan lumrah. Ini menjadi catatan buat kita tentang cara mencari sudut pandang bahkan ide tulisan.

Buku ini terbagi menjadi tiga bagian: Dari Desa, Ke Kota, dan Untuk Kita. Dari judul tiap bagian saja sudah menunjukkan kejernihan alur berpikir penulisnya. Termasuk juga ajakannya untuk melihat persoalan lingkungan dan hubungannya dengan hasrat manusia. Hasilnya, tulisan dalam buku ini tidak lagi menjadi isu personal tapi juga menyajikan persoalan bersama secara holistik.

Tiap tulisan dalam buku ini pun memiliki benang merah yang bukan sekadar ada. Tapi memang sungguh menjadi roh dalam buku ini. Dan itu merupakan kritik yang disampaikan dengan sangat baik oleh penulisnya.

Mas Pandu melalui Tak Ada Bintang di Angkasa justru mengajak kita kembali melihat semesta dalam perspektif yang lebih luas. Kita diajak merefleksikan hidup yang hiruk pikuk. Dan pada saat yang sama merefleksikan hidup yang sepi, senyap, berjarak dan dingin.

Ya, manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan yang tak terbatas akhirnya hanya menemukan angkasa tanpa bintang. Seserakah itu hingga banyak hal terlewat, tak terawat, dan tak ada kenangan meski sebatas ingatan.

Buku ini menjadi satu buku yang mengajak kita sejenak berhenti. Juga mengajak kita menyadari diri dan semesta. Tak hanya sekadar patut dijadikan teman minum kopi, buku ini bisa dijadikan bahan pemantik diskusi tentang lingkungan dan diri kita sebagai bagian dari dunia yang luas.[]

Saputra, Pandu Wijaya. 2023. Tak Ada Bintang di Angkasa. Yogyakarta: Galuh Patria.
 
Penulis: Katarina Retno
Tema: Satu Unsur Pembangun Cerita

Tema: Satu Unsur Pembangun Cerita

#Seri Menulis Cerpen Ala Katarina Retno

Ketika saya memberi pelatihan menulis cerpen, biasanya para penulis pemula mengatakan kesulitan mencari ide. Mereka tidak tahu mesti menggarap tema yang cocok untuk mereka. Padahal kejadian sehari-hari sangatlah mungkin diangkat menjadi sebuah cerita. 

Persoalannya adalah gengsi. Kita memang hidup di tempat segala hal dikotak-kotakkan. Orang menilai karya dengan tema A adalah karya sastra yang baik. Sebaliknya tema B bukan karya yang baik. 

Misalnya, orang menilai tema-tema perdamaian dunia dianggap lebih baik atau lebih mulia dari tema rumah tangga. Padahal persoalan dunia bisa saja dimulai dari persoalan rumah tangga.

Di sisi lain penulis merasa ide mereka tidak orisinil. Memang harus diakui bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar baru di dunia ini. Segala yang kita pikir baru, bisa saja merupakan sesuatu yang lama bahkan usang bagi orang lain. Hal itu dikarenakan pemikiran manusia yang dinamis. Segala hal yang dialaminya, termasuk apa yang dibacanya, menambah pengetahuan. Nah, pengetahuan inilah yang kemudian membuat seseorang bisa saja lebih dulu memikirkan apa yang baru saja kita pikirkan. 

Pada akhirnya, pemikiran dan kecemasan itu membuat para penulis pemula tidak jadi menulis. Mereka lalu sibuk galau dan mencari-cari ide. Ujung-ujungnya memaksakan diri menulis sesuatu yang di luar jangkauan nalarnya sendiri. Bisa ditebak akhirnya cerita itu memiliki banyak lubang yang mesti ditambal. Ya, kalau si penulis itu cukup sabar dan mau mengevaluasi tulisannya sih tidak masalah. 

Harus diakui tidak banyak penulis pemula yang rendah hati. Mereka tidak melihat kembali tulisannya. Akhirnya mereka ya stagnan di tulisan yang begitu-begitu saja. Bahkan bisa jadi mengulang kesalahan yang sama. 

Padahal tema hanyalah satu dari delapan unsur pembangun cerita. Kita bisa mengembangkan tokoh dan penokohan yang kuat. Kita bisa mengolah konflik dengan mencermati dan ‘mempermainkan’ plot cerita. 

Tidak hanya itu, kita juga bisa bereksperimen dengan gaya bahasa. Itu tidak dimaksudkan dengan mencampuradukkan istilah-istilah tidak pada tempatnya secara brutal ya. Eksperimen tentu saja sangat diijinkan. Namun tetap patokannya adalah tulisan itu, dalam hal ini cerpen kita, memiliki nilai estetika dan kegunaan.

Lalu tema apa sih yang bisa diangkat dalam cerita pendek kita? Sebenarnya hal yang kita alami, pengamatan keseharian kita pun bisa menjadi bahan utama cerita kita. Satu yang pasti bahan bakar penulis itu adalah kegelisahan. Jadi, temukan kegelisahan Anda itu. Apa yang membuat Anda resah? Apa yang ingin Anda tanyakan dan cari tahu jawabannya? Lalu tanyakan pada diri Anda sendiri, jika itu dibuat kronologi ala Anda jadinya seperti apa?

Jika sewaktu-waktu ide menulis cerita itu terasa buntu, pancinglah dengan melakukan hal yang memang Anda sukai. Misalnya Anda suka makan. Coba pergilah membeli makanan yang Anda sukai itu. Cermati teksturnya. Nikmati rasanya. Coba hirup aromanya. Pastikan Anda menyerap itu semua secara perlahan. 

Lalu pikirkanlah proses pembuatannya. Misalnya salah satu bahan diganti apakah rasanya akan lebih baik, lebih buruk atau sama saja? Nah, di titik semacam inilah Anda bisa mulai melakukan eksperimen dengan menghubungkannya dengan dramatisasi. 

Ingat, pengalaman keseharian yang diceritakan saja hanya akan menjadi produk reportase yang mungkin malah tidak ada gunanya buat orang lain. Kalau ingin menjadikan pengalaman keseharian itu menjadi sebuah cerita pendek, tugas Anda adalah membubuhkan dramatisasi.

Selamat bereksperimen.[] 

Katarina Retno Triwidayati. Mentor Cerpen Galuh Patria.

Review Buku: Novel Cahaya dan Jelaga

Review Buku: Novel Cahaya dan Jelaga

Tuhan, apakah aku termasuk ke dalam mereka yang mendustakan nikmatmu?
(Lestyaningrum, 2023, p. 158)
___
Rasa bahagia menyeruak saat melihat buku ini. Terima kasih Mbak Tyas, saya boleh membersamai proses buku ini. Jika masih ada kekurangan di sana sini, mohon dimaafkan.
Ketika naskah ini masuk ke dalam daftar naskah yang mesti saya cermati, saya ragu. Fiksi sejarah menjadi genre yang masih “berat” untuk saya, untuk membaca apalagi menuliskannya. Jadi, saya sungguh salut pada para penulis fiksi sejarah, termasuk Mbak Tyas yang menulis Cahaya dan Jelaga ini.
Kisah berlatar peristiwa sejarah 1965-1966 ini mengangkat perjuangan sebuah keluarga. Kalau Anda berpikir kisahnya melulu pilu, maka Anda mesti membaca buku ini. Memang kesedihan dan kepiluan menjadi bahan bakar utama jalinan kisah di buku ini. Tapi setelah menyelesaikannya, Anda akan menemukan keutamaan lain yang bisa diambil dari tiap tokoh yang ada.
Rasa syukur dan penerimaan nasib yang terlihat tragis dipaparkan dengan baik. Saya pikir ini salah satu keteladanan yang ingin disampaikan Mbak Tyas. Dalam perspektif lain, ini bisa menjadi sindiran halus buat kita yang masih gagap bersyukur.
Pergantian POV yang dinamis membuat saya sedikit terseok-seok saat membacanya. Demikian juga dengan tokoh yang cukup banyak karena saya memang bukan pemerhati nama yang baik. Ya, ini subjektif sekali dan pembaca lain belum tentu mengkategorikannya sebagai kesulitan.
Di luar itu, saya menemukan banyak hal asyik. Pesan yang disampaikan melalui buku ini jelas dan mudah ditangkap. Karakter tokohnya kuat dan memiliki benang merah yang sama: pantang menyerah dan tulus.
Demikianlah, pada akhirnya, penilaian orang tak akan menjadi penentu kualitas seseorang. Namun, caranya memperlakukan hidup dan kemanusiaanlah yang akan menjadi titik akhir sebuah pencapaian: menjadi cahaya atau jelaga. Hahaha … Ini makna baru dari judul novel Mbak Tyas. Makna sebenarnya tentu bisa Anda temukan setelah membaca novel ini.
Proficiat buat novel perdananya Mbak Tyas. Kami menunggu karya-karya selanjutnya. Sukses selalu, terus bercahaya.
Lestyaningrum, Tyas Ary. 2023. Cahaya dan Jelaga. Yogyakarta: Galuh Patria.
Penulis: Katarina Retno
Cek 5 Hal Ini Sebelum Mengirim Tulisan ke Media Massa

Cek 5 Hal Ini Sebelum Mengirim Tulisan ke Media Massa

Tulisan yang sudah dihasilkan seseorang bisa dipublikasikan dengan berbagai cara. Menggungah tulisan itu di beranda pribadi sosial media bisa menjadi salah satu pilihan. Mengirimkannya ke media massa menjadi pilihan yang lain.

Lalu bagaimana caranya mengirim naskah ke media?

  1. Cek Administrasi

Teman-teman harus memastikan dulu mau mengirim tulisan ke mana. Pastikan juga metode pengiriman naskahnya. Misalnya ada lomba atau redaksi yang meminta peserta mengirim hardcopy. Ada juga yang cukup lewat surat elektronik/ surel. Ada juga yang unggah dokumen ke web media tersebut.

Pastikan juga kelengkapan yang harus dipenuhi. Misalnya, ada media yang meminta penulis menyertakan biodata ringkas, foto diri, foto/ scan KTP, foto/ scan NPWP, nomor rekening, akun media sosial, dan lain sebagainya. Nah, pastikan teman-teman memenuhi syarat administratif itu ya.

  1. Cek Ulang Tulisan

Sesuaikan dengan kriteria dari media massa yang dituju ya. Misalnya, artikel di media online biasanya antara 600—700 kata. Sedangkan untuk majalah/ koran cetak, kita bisa menulis hingga 1.000—1.200 kata.

Tapi, masih ada pengecualian kok. Misalnya, cerpen berjudul ‘Melukis Langit’ yang saya tulis dan dimuat di Tribun Jabar itu berjumlah 1.533 kata. Cerpen “Ibu yang Membicarakan Kail” yang dimuat di Tribun Sumsel berjumlah 970 kata (dipangkas karena permintaan redaktur dari jumlah asli 1.800 kata).

  1. Cek Ketentuan Pengiriman Naskah

Nah, kalau semua syarat itu sudah terpenuhi, teman-teman bisa mengirimkan naskah ke media. Untuk pengiriman melalui surat elektronik, naskah haruslah dalam format word dan menjadi attachment. Jadi, jangan pernah menulis naskah di badan email ya … auto ditolak itu sama media.

Di bagian email penerima, pastikan teman-teman menuliskan alamat email yang tepat. Biasakan cek ulang.

Di bagian subjek, silakan menuliskan sesuai ketentuan media. Misalnya, untuk rahma.id, jika saya mengirim artikel, di subjek saya tulis: esai. Untuk koran Tribun, mereka menggunakan subjek opini untuk artikel. Jika tulisan itu adalah cerpen, di subjek ditulis cerpen bisa juga sastra. Itu semua tergantung ketentuan dari media masing-masing. Jadi, pastikan mengisi bagian itu dengan benar ya.

Di badan email, biasakan memulai dengan tujuan email. Biasanya saya menulis: Yth. Redaktur XXX (diisi nama media). Setelah itu tuliskan salam. Lalu, tuliskan bahwa Anda mengirim naskah cerpen/ artikel. Tuliskan juga sinopsis tulisan Anda. Di bagian akhir sampaikan bahwa Anda berharap tulisan itu sesuai dengan karakteristik media yang dituju. Jangan lupa menutup dengan salam dan nama lengkap disertai nomor yang bisa dihubungi. Ini penting, biasanya redaksi menghubungi untuk konfirmasi honor atau pemuatan.

Oh ya, jangan buru-buru klik kirim ya. Pastikan dulu lampiran sudah diunggah semua. Nanti emailnya isinya hanya surat saja tanpa ada lampiran naskah. Itu membagongkan sangat!

  1. Cek Masa Tunggu

Nah, setelah mengirim naskah, saya biasanya menulis di sebuah buku khusus. Judul tulisan, media, dan tanggal pengiriman. Ini penting karena kita punya batas waktu. Kalau artikel, biasanya waktu tunggunya maksimal 7 hari. Untuk cerpen masa tunggunya bisa 3 bulan, ada juga yang sampai 6 bulan. Jika lebih dari masa tunggu dan naskah belum dimuat, kirimkanlah surat penarikan naskah.

Surat penarikan naskah strukturnya sama dengan surat pengiriman naskah. Hanya saja sampaikan bahwa tulisan berjudul xxx itu Anda tarik. Tidak usah bilang kalau alasan menarik naskah karena tyada ada kepastian macam dia yang selalu membuatmu baper tapi ternyata punya banyak gebetan di tiap tikungan.

  1. Cek Status Tulisan

Setelah mengecek masa tunggu, Teman GaPa bisa fokus menulis lagi. Sesekali catatannya dibuka ya. Tujuannya untuk melihat status tulisan yang sudah dikirim. Jika sudah dimuat, buatlah catatan agar naskah tersebut tidak dikirim ulang ke media lain. Sebaliknya, jika sudah ditolak, naskah itu bisa dievaluasi dan dikirim ke media yang lain.

Akrabilah rasa patah hati. Ada orang yang dianugerahi dengan keberuntungan. Ada juga yang diberi kemuliaan setelah kerja keras dan kerja cerdas. Jadi, kalau ada penolakan dari media, tidak apa-apa. Meski rasanya memang menyakitkan macam gebetanmu yang tiba-tiba ghosting karena nggak diijinin mamanya pacaran. Duh ….

Kalau satu media menolak tulisanmu, jangan berpikir bahwa tulisan itu buruk. Bisa jadi medianya tidak cocok. Contoh, cerpen saya yang berjudul “Seperti Dinginnya Hujan” ditolak media 2 kali. Akhirnya cerpen itu dimuat di Magdalene. Dan kasus semacam itu beberapa kali terjadi pada esai atau cerpen saya.

Biasakan juga mengevaluasi tulisan ya. Kalau Teman GaPa punya ‘pembaca pertama’ manfaatkanlah dia. Pembaca pertama ini bisa siapa saja. Bisa keluarga, sahabat, atau kekasih, mantan kekasih, atau mantan calon kekasih. Aduh.

Pembaca pertama biasanya akan menemukan hal-hal yang tidak kita temukan. Yha namanya kita yang nulis kan, pastinya kita ngerasa tulisan itu udah bener aja. Eh pas dibaca orang, ya Allah memalukan nian. Hiks.

Usahakan jangan memberikan tulisan pada pembaca pertama yang berpotensi menikungmu. Itu menyakitkan, semacam luka tapi tyada setetes darah pun mengalir.

Nah, hal penting terakhir pamerlah jika tulisan dimuat. Ini penting! Tyada yang bisa memberi apresiasi seindah itu selain diri kita sendiri. Di sisi lain, dengan memamerkan tulisan kita, akan semakin banyak yang membacanya. Kita tidak tahu, kadang sebuah tulisan dimaksudkan menyapa jiwa-jiwa kesepian di suatu titik dunia ini. Tulisan kita bisa jadi melakukan itu. Membuat mereka merasa hangat meski kita tidak memeluknya secara langsung, menguatkan meski kita tidak duduk dan menyediakan bahu sebagai tempatnya bersandar. Ahiw!

Penulis: Katarina Retno

4 Tahap Dasar Menulis

4 Tahap Dasar Menulis

Menulis memang merupakan perwujudan pemikiran dan cara pandang penulis terhadap persoalan yang dibahasnya. Untuk bisa menyampaikan gagasannya dengan baik, penulis perlu melalui beberapa tahap penulisan.

Berikut empat tahap dasar menulis yang bisa Teman GaPa ikuti.

  1. Tahap Persiapan

Ide sering kali datang di saat penulis tidak sedang dalam kondisi siap menulis. Misalnya, sedang dalam perjalanan dan tidak bisa membuka laptop atau tidak membawa buku catatan khusus. Di waktu lain, seorang penulis kadang merasa ‘kehabisan’ ide dan bingung apa yang harus ditulisnya.

Banyak penulis yang lekas menyimpan idenya dalam bentuk catatan khusus. Tak heran jika beberapa penulis selalu menyediakan buku khusus, ponsel, stiky note, atau apapun itu yang bisa digunakan untuk mencatat ide. Ide-ide itu sebagian bisa langsung dieksekusi menjadi tulisan. Jika tidak bisa, penulis masih bisa menggunakan catatannya untuk membantunya mengingat kembali ide itu.

Ada beberapa ide yang membutuhkan brainstorming. Misalnya, penulis merasa perlu mencari data pendukung untuk tulisannya. Bisa pula ia membutuhkan diskusi dengan orang yang dipercayainya.

Pada intinya, jangan sampai ide yang muncul itu terlewat begitu saja. Gunakan berbagai piranti pembantu jika dirimu merasa tidak cukup mampu mengingat banyak hal dalam waktu yang bersamaan.

  1. Tahap Penulisan

Beberapa penulis merasa nyaman jika membuat kerangka tulisan terlebih dahulu. Tujuannya agar ide yang sudah diperoleh itu dapat dijabarkan dengan baik. Jika ide dapat dijabarkan dengan baik, tujuan tulisan dapat sampai pada pembaca.

Meski demikian, ada juga penulis yang merasa nyaman langsung menulis tanpa menggunakan kerangka terlebih dahulu. Tidak ada yang benar dan salah dari kedua hal itu. Teman GaPa hanya perlu mencermati mana gaya yang lebih sesuai dengan karakteristik kalian.

Pertimbangkan kelebihan dan kekurangan kedua teknik tersebut ya.

  1. Tahap Pengendapan

Setelah tulisan jadi, penulis biasanya menarik jarak dari tulisan itu. Jeda yang diambil penulis beragam. Kadang hanya sejarak sepeminuman kopi. Kadang pula bisa berhari-hari. Untuk artikel, jeda itu tidak boleh lama karena karakteristik tulisan yang memang harus aktual. Meski aktual bisa dimaknai peristiwanya yang baru, bisa pula sudut pandang atau cara penulisannya yang baru.

Tujuan menarik jarak itu adalah agar penulis nantinya bisa melihat hasil menulisnya dengan lebih objektif. Pada saat selesai menulis, para penulis masih dalam fase euforia. Pada saat itulah kemampuan melihat dan mempertimbangkan kembali tulisannya menjadi sedikit terganggu.

Setelah jeda, para penulis perlu melakukan penyuntingan. Penyuntingan sebaiknya dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama pengecekan konten. Tahap kedua pengecekan kaidah kebahasaan.

  1. Tahap Perayaan

Tahap perayaan merupakan tahap paling menyenangkan. Beberapa penulis bisa merayakan dengan sederhana seperti bertepuk tangan (meski itu di tengah malam), minum kopi atau es krim, atau apa saja. Selain itu, penulis juga akan mencari ‘tempat’ yang sesuai dengan tulisan itu. Apakah dia cukup puas mempostingnya di beranda pribadi, grup kepenulisan, media massa, atau panitia lomba?

Perayaan ini perlu dilakukan sebagai bentuk apresiasi penulis pada karyanya. Lebih dari itu, juga menjadi bentuk apresiasinya pada dirinya sendiri.

Nah, Teman GaPa, apakah dirimu juga melalui keempat tahap itu? Atau adakah tahapan lain yang kamu lakukan pada saat menulis? Mari kita berbagi.

 

Penulis: Katarina Retno

5 Alasan Menulis di Media Massa

5 Alasan Menulis di Media Massa

Pengalaman menulis di media massa menjadi hal yang sangat menarik untuk penulis pemula seperti saya. Ada rasa senang ketika buah pemikiran itu bisa lolos kurasi dan dibaca luas. Apalagi jika media tersebut menyediakan honor untuk tulisan yang dimuat. Tapi apa iya hanya alasan honor saja yang mendorong seseorang rajin menulis dan mengirimkannya ke media?

Meski banyak penulis pemula yang ‘masih nyaman’ menulis di medsos atau di grup (terbuka atau tertutup) komunitas kepenulisan, ada banyak lainnya yang mulai memonetisasi tulisannya. Tidak hanya menulis di media massa, menulis di platform bisa jadi pilihan. Tiap pilihan itu tidak ada yang benar atau salah, sebab setiap orang mempunyai pertimbangannya masing-masing.

Bagi saya dan beberapa teman, menulis dan mengirimkan ke media massa memiliki alasan dan tantangan tersendiri. Hal-hal itulah yang membuat kami sejauh ini berusaha terus mempublikasikan tulisan di media massa, baik yang berhonor maupun yang belum berhonor.

  1. Integritas

Menulis itu bukan sekadar meluapkan emosi. Juga bukan sekadar turut andil suara dalam permasalahan yang sedang viral saat ini. Saya menyadari saat menulis para penulis mendedikasikan waktu untuk membaca dan menulis sebelum menghasilkan tulisan. Tentu itu bukan hal sederhana dan main-main. Mereka berusaha sungguh-sungguh dalam menuliskan gagasan. Agak terdengar terlalu serius ya? Tapi, menulis bagi sebagian orang memang bukan perkara sederhana. Di sana, ada integritas si penulisnya.

  1. Persebaran Ide atau Gagasan

Mempublikasikan tulisan juga bermakna menyebarkan ide atau gagasan penulisnya. Dengan berani mengunggah tulisan di sosial media termasuk juga di media massa dan platform kepenulisan, seseorang menyuarakan pendapatnya atau caranya berpikir dan menyikapi sebuah permasalahan. Media massa menjadi salah satu tempat yang akses persebarannya cukup cepat. Dan menulis di media massa berarti juga mempercepat persebaran ide tersebut.

  1. Uji Kemampuan Menulis

Kita tentu tahu bahwa tulisan yang bisa dimuat di media massa merupakan tulisan yang lolos kurasi redakturnya. Demikian juga di platform tertentu yang memberikan ketentuan semacam itu. Tentu saja meski bisa ‘ditebak-tebak’, ada banyak pertimbangan redaktur meloloskan tulisan. Bisa saja urgensi tulisan itu, kesamaan isi tulisan dengan visi misi media, termasuk juga selera redaktur.

Penulis yang mengirimkan tulisan di berbagai media massa pada dasarnya juga tengah melakukan uji kemampuan menulis. Sebab redaktur tidak hanya fokus pada kerapian tulisan, kepatuhan pada aturan kepenulisan saja, dan banyak hal lainnya yang dipertimbangkan.

  1. Latihan Mengakrabi Patah Hati

Tulisan yang lolos kurasi redaktur berarti mendapatkan kesempatan untuk dimuat di media tersebut. Sebaliknya, tulisan yang tidak lolos tentu dikembalikan kepada penulisnya dalam bentuk pemberitahuan penolakan naskah. Meski yaa tidak semua media melakukan konfirmasi pemuatan atau penolakan naskah.

Sebenarnya, patah hati terkait penolakan tulisan itu memang perlu diakrabi. Tulisan yang ditolak di suatu media bisa saja diterima di media yang lain. Oleh sebab itu, penulis yang tulisannya banyak dimuat di media sebenarnya adalah penulis yang akrab dengan patah hati penolakan tulisan sebelumnya. Dan tentu saja mereka bukan berhenti dan meratapi patah hati itu saja, tapi lekas move on dengan terus menulis dan mengirimkannya di media yang lain.

  1. Penghasilan dan Efek Samping

Rasa senang saat melihat tulisan dimuat di media juga makin paripurna saat mendapat notifikasi masuknya honor ke rekening. Meski tidak semua media saat ini menyediakan honor, penulis tetap mendapatkan efek samping dari pemuatan di media. Salah satunya, penulis yang produktif dapat diundang sebagai pembicara atau menjadi mentor penulisan. Honornya bisa saja lebih besar dari honor satu tulisan di media lho.

Tulisan-tulisan yang sudah dimuat di media massa pun masih bisa diterbitkan dalam bentuk buku. Hal itu bisa sebagai bentuk dokumentasi, baik untuk pribadi maupun bagi pembaca setiamu.

Nah, apakah kamu sudah rajin menulis dan mempublikasikan tulisanmu? Kamu mempublikasikannya di media sosial ataukah di media massa? Lalu, apa saja efek samping yang sudah kamu dapatkan?

 

Penulis: Katarina Retno

Copyright © 2026 Galuh Patria